Atta langsung terduduk dengan tubuh bersimbah peluh. Dengan raut kebingungan, dia menatap ke sekeliling kamar. Ruangan itu tetap kosong dan memang tidak ada siapa-siapa di sana.
Ah, pasti cuman perasaanku saja. Mana ada hantu siang-siang begini. Atta memaki dirinya sendiri.
Dia tetap berusaha untuk mencari alasan logis atas semua yang terjadi pada dirinya siang ini. Hari pertama pindah ke rumah Bu Sarti, tetapi malah penuh misteri. Pemuda itu menyiapkan hati juga untuk menghadapi malam nanti. Malam pertama di rumah baru, tanpa siapa-siapa.
Dia masih berusaha untuk mempercayai ucapan Baruna tadi kalau di rumahnya jelas tidak ada apa-apa. Persetan dengan hantu, pikir Atta kemudian. Dia pindah ke Yogya bukan untuk bertarung dengan hantu. Dia datang ke sini untuk belajar. Kuliah di kampus idolanya.
“Hoi, hantu! Jangan ganggu aku, ya. Kita hidup masing-masing saja. Salam kenal,” ucap Atta di dalam kamar. Kalaupun benar ada hantu di rumah itu, pasti akan mendengar ucapan dia barusan. Semoga saja mereka mau berdamai dan tidak mengganggu lagi.
Pemuda itu melirik ke arah jam dinding yang tergantung di salah satu sisi tembok kamar. Ternyata, belum satu jam dia terlelap. Atta mengeluh di dalam hati. Niat ingin mengistirahatkan tubuh, tetapi malah tidak bisa. Akhirnya, dia memutuskan untuk mulai membersihkan lantai dua. Setidaknya, sore ini dia menyapu dan mengepel seluruh ruangan yang ada di lantai atas untuk mengisi waktu sampai magrib nanti. Anggap saja, sekalian dia menghafal setiap seluk beluk dan sudut di rumah itu. Home tour, bukan city tour.
Ruangan yang pertama dia datangi adalah kamar mandi. Atta mengecek kelengkapan di kamar mandi. Rupanya, Baruna sudah memikirkan semuanya. Sabun, sampo, handuk, semua sudah lengkap di situ untuk Atta. Namun, pemuda itu tidak menemukan peralatan kebersihan sama sekali di sana.
Pasti disimpan di satu tempat, pikir Atta.
Tepat di samping kamar mandi, ada balkon yang sepertinya difungsikan untuk area cuci jemur karena ada beberapa kawat yang melintang di sana. Atta bisa melihatnya dari dalam karena balkon itu hanya dipisahkan dengan dinding kaca, bukan tembok bata. Dia melangkah keluar, menuju area tersebut.
Benar saja. Ada bagian yang diberi atap galvalum dan di bawahnya terlihat satu buah mesin cuci. Alat kebersihan juga ada di sana. Jadi, semua stok untuk cairan pembersih lantai, deterjen, sabun cuci piring, dan lain-lain ada di sana. Sudah tersedia di rak khusus. Pel, sapu, juga sudah lengkap di sana. Bahkan, Atta tersenyum ketika membaca stiker besar berwarna putih yang tertempel di gagang setiap peralatan.
Sapu luar, sapu dalam, pel kamar mandi, dan lain-lain. Semua sudah diberi label. Atta bisa menebak kalau itu pasti istri Baruna yang melakukannya. Tulisan yang tertera di sana jelas-jelas tulisan wanita. Begitu rapi dan terukir cantik. Atau mungkin ... mendiang Bu Sarti, ibu Baruna?
Atta mulai menyapu area balkon agar tidak terlalu banyak debu, lalu lanjut ke ruangan-ruangan yang lain. Tidak ada kejadian aneh atau janggal yang terjadi di sepanjang sore. Dia merasa lega. Setidaknya, benar kata Baruna kalau di rumah itu memang tidak apa-apa. Pasti tadi dia hanya terlalu lelah saja karena belum pernah pergi jauh dari kampung. Baru kali ini dia pergi ke luar kota, bahkan sampai beda provinsi segala.
Selesai bersih-bersih, Atta bergegas mandi, lalu menyalakan lampu di beberapa ruangan karena hari sudah mulai menggelap. Dia sengaja tidak menyalakan semua lampu agar tidak terlalu boros listrik. Dia hanya menyalakan di ruangan-ruangan utama saja. Hanya tersisa dua kamar di lantai bawah yang belum Atta masuki.
Dua ruangan itu pasti milik mendiang Bu Sarti dan Baruna. Jadi, dia merasa segan untuk masuk ke sana kalau tidak untuk membersihkan ruangan. Atta memutuskan untuk duduk-duduk di ruang tengah dan meletakkan satu lembar fotokopi KTP yang sudah dia bawa dari kamar tadi. Nanti habis magrib, dia akan jalan-jalan ke sekeliling dan menemui Pak RT untuk melapor.
Pak Kasiman, ucap Atta di dalam hati, mengingat-ingat nama Pak RT yang disebutkan oleh Baruna tadi.
Pandangan Atta tiba-tiba tertumbuk pada upright piano. Piano tegak, sama seperti yang dia punya di rumah Trenggalek. Bu Sarti memang hobi bermain piano juga, sama seperti dirinya.
“Sudah berdebu. Pasti lama tidak dimainkan,” ucap pemuda itu dengan nada sedih. Tidak hanya sedih tentang piano yang tidak terawat itu, tetapi juga pada sang pemiliknya yang sudah lebih dulu pergi menemui Sang Kuasa.
Atta teringat kalau mendiang Bu Sarti sangat suka mendengar tarian jemarinya di atas tuts piano. Bahkan, wanita itu pernah bilang kalau Atta harus memainkan piano setiap hari kalau nanti dia sudah tinggal di rumahnya.
“Bu Sarti, aku tepati janjiku. Setiap hari, selama aku tinggal di sini, aku akan memainkan piano ini untukmu,” kata Atta yang kemudian duduk di depan piano.
Setelah menarik napas, lalu mengembuskan perlahan untuk menenangkan diri, Atta mulai menarikan jemari. Alunan musik lembut bernada kerinduan, kini mulai mengalun sendu.
Satu menit ....
Dua menit ....
“Astaghfirullah!” Atta memekik terkejut ketika pigura kecil yang terpajang di atas piano tiba-tiba terjatuh, seperti disenggol seseorang.
Atta segera berjongkok dan memungut pigura itu dari atas lantai. Kaca pigura yang jatuh tertelungkup, pecah berantakan. Pemuda itu memandangi foto Bu Sarti yang tengah tersenyum lebar di dalam bingkai kotak berwarna hitam tersebut. Wanita baik itu yang telah membawanya kemari, meski dia keburu meninggal sebelum Atta tiba di Yogyakarta.
Atta merapikan sisa pecahan kaca yang masih menempel di bingkai dari bahan kayu itu, lalu meletakkannya kembali ke atas piano. Dia berniat untuk mengambil sapu dan membersihkan serpihan kaca di atas lantai. Namun, baru beberapa langkah ....
“Aduh!” Pemuda itu jatuh terjerembab. Kakinya tersandung sesuatu.
Sontak, Atta menoleh ke arah kaki, tetapi ... lagi-lagi, tidak ada apa-apa. Apa mungkin dia tersandung angin? Ah, mustahil! Atta menggerutu di dalam hati, merasakan lutut dan siku yang ngilu akibat menahan berat tubuh yang membentur lantai tadi. Tampak sedikit memar di kedua lututnya.
Atta beringsut duduk, lalu mengusap-usap pelan kedua lutut sambil meniupnya perlahan. Dia berharap rasa sakit itu segera menghilang. Tengah asyik meniupi lutut, terdengar suara tawa yang tertahan dari balik sandaran sofa panjang di ruangan itu. Spontan, Atta langsung menoleh ke arah sumber suara dengan bulu kuduk yang langsung merinding tanpa perlu diaba-aba.
Suara siapa itu, ya Allah? Bukankan aku sendirian dari tadi?
Mulut Atta komat-kamit, membaca ayat kursi ditambah surat-surat pendek yang masih bisa dia hafal. Dalam keadaan takut seperti ini, semua hafalan seolah lenyap seketika, menguar tanpa jejak. Suara itu masih sayup terdengar dari balik sandaran sofa.
Apa ada orang yang menyelinap ke sini?