Dua tahun setelah Marion menikah dengan Raja Kingston, Marion mengandung dan melahirkan. Sudah menjadi kodrat, perkawinan campuran antara manusia dan makhluk magis akan membunuh sang Ibu ketika bersalin. Tak terluput, Marion juga tewas di ranjangnya setelah melahirkan bayi laki-laki.
Phillip Ashton, Jenderal Besar yang ingin menggulingkan tahta Kingston, menukar bayi laki-laki itu dengan seorang bayi perempuan yang lahir di hari yang sama. Bayi itu kemudian diberi nama Freya Forestyne Cheshire oleh Raja dan menjadi Puteri Mahkota. Belasan Tahun kemudian, terbongkarlah rahasia gelap di balik persalinan itu. Rupanya Freya adalah puteri kandung Jenderal Besar Phillip Ashton yang dengan sengaja ditukar demi mewujudkan ambisi Phillip.
Pada malam persalinan Marion, Savannah Ashton, istri Phillip juga melahirkan seorang bayi. Phillip Ashton sengaja menukar bayi perempuannya dengan bayi laki-laki Marion supaya kelak keturunannya tidak perlu melindungi klan Cheshire lagi, melainkan jadi berbalik di mana klan Cheshire yang akan menjadi pelindung klan Ashton. Anak lelaki keluarga Ashton memang ditakdirkan menjadi Jenderal Perang kerajaan dari generasi ke generasi. Tugas utamanya adalah untuk melindungi kelestarian Klan Royal Cheshire.
Phillip memiliki kepahitan terhadap keluarga kerajaan setelah Parker Ashton, Ayahnya tewas mengenaskan demi melindungi Raja Clayton Cheshire. Pharell Ashton, kakak kembar Phillip juga tewas di medan perang dibunuh makhluk magis. Phillip ingin menghentikan tugas keluarga Ashton melindungi keluarga Cheshire dan membuat posisi itu berbalik. Phillip menamakan bayi Kingston dan Marion yang ditukarnya dengan nama River Ashton. Ironinya, Freya dan River saling mencintai ketika tumbuh dewasa sehingga rencana Phillip Ashton gagal total.
***
Hidup Finch mulai mengalami perubahan ketika dia bertemu Claudia McCain, seorang gadis cilik berusia tujuh tahun. Kelinci peliharaan Claudia terjebak dalam perangkap binatang di hutan. Claudia menangis sedih sebab dia sangat menyayangi binatang peliharaannya dan kini binatang peliharaannya itu terluka. Claudia tak tahu cara melepaskan kelinci itu dari perangkap. Kebetulan Finch sedang melintasi hutan dan berpapasan dengan Claudia yang sedang menangis tersedu-sedu. Begitu melihat Finch, Claudia segera meminta pertolongan. Tentu saja pada awalnya Finch tidak peduli.Terusik dengan kegaduhan dan kegigihan Claudia, Finch akhirnya membantu Claudia melepaskan kelinci itu dari perangkap serta menyembuhkan luka si kelinci akibat terjepit jeruji tajam. Claudia sangat berterima kasih pada Finch. Dia pun memeluk Finch dan mengeringkan sisa tangisnya di bahu Finch. Finch tersentak. Untuk pertama kalinya dia merasakan kehangatan menyelimuti hatinya yang hampa. Di Hevron, tak sekalipun Finch pernah mendapatkan kasih sayang. Namanya juga dibesarkan oleh demon yang tak berperasaan dan kejam.
Finch heran, dia tak melukai Claudia sedikitpun saat mereka bersentuhan. Biasanya dia akan membunuh manusia yang berjarak terlalu dekat dengan dirinya. Aroma tubuh manusia sangat menggiurkan dan Finch tak menemukan alasan untuk tidak memangsa manusia.
"Paman, kulitmu sangat dingin seperti es." tutur Claudia polos, menatap Finch dengan mata bulatnya. Gadis cilik itu tampak keheranan.
Finch tersenyum pendek. "Tentu saja kulitku dingin. Aku adalah demon."
Claudia mundur selangkah begitu mendengar kata demon. Terkejut. Finch menatapnya lurus, yakin sebentar lagi Claudia akan lari ketakutan, mungkin sampai mengompol. Anehnya tidak, Claudia malah balas menatap demon itu tanpa gentar.
"Paman bohong! Demon itu punya tanduk dan gigi taring. Wajahnya juga seram. Paman tidak punya tanduk atau gigi taring. Wajah Paman juga tidak menyeramkan. Bohong itu dilarang! Tuhan tidak suka!" celoteh Claudia sambil berkacak pinggang. Ternyata Claudia mundur selangkah untuk mengecek apakah Finch memiliki sepasang tanduk atau tidak.
"Tidak semua demon punya tanduk." kata Finch tawar dan dingin.
Claudia mengerutkan dahi, kurang yakin pada ucapan Finch. "Walaupun Paman seorang demon, aku tidak takut pada Paman. Paman adalah orang baik, yang sudah menyelamatkan Tabitha jadi Paman adalah temanku." kata Claudia sambil mengelus kelincinya.
Finch tertawa kecil. "Teman? Sejauh ini kau adalah satu-satunya makhluk hidup yang mau jadi temanku." cibir Finch, merasa omongan Claudia tak masuk kaal
"Wow... Paman tersenyum.... Berarti Paman bersedia menjadi temanku?" tanya Claudia penuh harap.
Finch mendengus. "Asal kau berhenti memanggilku Paman. Panggil aku Finch."
Claudia tersenyum sumringah. Kepalanya manggut-manggut penuh semangat. "Baik Paman... Eh Paman Finch ehh Finch..."
Dari situlah terjalin persahabatan Finch dengan si gadis kecil.
Claudia rupanya adalah gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan dekat sana. Claudia terus mencari Finch sejak pertemuan pertama mereka. Dia kerap membawakan Finch makanan dan membagi apapun yang dimilikinya untuk Finch. Kadang pengunjung panti suka memberi Claudia hadiah seperti boneka dan mainan. Claudia akan berbagi benda-benda tersebut dengan Finch. Finch sempat terpana ketika Claudia menghadiahinya sebuah boneka kayu. Apa yang akan dilakukan seorang demon dengan boneka kayu? batin Finch bingung.
Pada awalnya Finch merasa terganggu dengan kehadiran manusia di dekatnya tetapi Claudia sangat sulit diusir. Menempelinya terus bagai parasit. Lambat laun Finch pun jadi terbiasa. Tak disangka seorang anak manusia akan mengisi hari-harinya yang sepi. Finch meminta Claudia agar merahasiakan pertemanan mereka sebab Finch tidak berencana untuk bersosialisasi dengan siapapun. Dia tidak ingin keberadaannya diketahui banyak orang. Claudia setuju. Dua belas tahun pun berlalu. Finch menyaksikan pertumbuhan Claudia dari bocah cerewet menjadi gadis remaja yang cantik.
Selama ini Finch menjadi tempat mengadu dan berkeluh kesah untuk Claudia. Claudia sering murung sebab hingga usianya remaja, belum ada orang tua yang bersedia mengadopsinya sementara banyak teman-temannya yang telah meninggalkan panti dan berkumpul dengan keluarga baru mereka. Claudia terlahir memiliki kelainan pada tulang kaki, sehingga jalannya agak pincang. Mungkin itu penyebab orang-orang tidak tartarik mengadopsinya. Claudia merasa tersisih. Karena kasihan, Finch pun memutuskan untuk menganggap Claudia sebagai putrinya namun Claudia memiliki perasaan lain terhadap Finch. Beranjak dewasa, Claudia mencintai demon tersebut. Meski mengetahui Finch adalah demon, Claudia tidak pernah merasa takut pada pria itu. Sebaliknya dia merasa nyaman di dekat Finch dan menganggap Finch sebagai orang yang paling baik kepadanya.
***
Finch sedang memandang ke langit biru, memperhatikan kumpulan burung yang bermigrasi ke tempat lain sebelum pergantian musim. Mungkin jumlahnya ada ratusan. Finch sungguh iri pada burung-burung tersebut. Dia juga mendambakan keluarga dan teman. Dia amat merindukan Hevron meski Hevron membencinya sampai ke tulang.
Finch lalu teringat pada Puteri Freya, satu-satunya keluarga sedarah yang masih hidup. Saudara satu Ibu tepatnya. Mungkin juga Ayah kandung Finch masih hidup tetapi Finch sama sekali tak punya bayangan tentang siapa Ayahnya. Cameron hingga kini masih merahasiakan siapa sosok Ayah kandungnya. Entah kepada siapa Finch harus bertanya sebab satu-satunya petunjuk untuk mengetahui hal itu cuma Marion tetapi Marion pun sudah wafat dań tampaknya tak ada satu makhlukpun yang tahu kalau Marion memiliki anak di luar nikah tentu kecuali Cameron Quincy. Entah bagaimana Cameron bisa mengetahui hal itu dan menyembunyikan rahasia itu selama ratusan tahun tanpa tercium pihak luar. Juga mengapa Ayah dan Ibunya Tega menelantarkannya di Lembah Eura ketika dia lahir?
“Finch… Finch… Ada berita besar!” seru Claudia sambil berlari menghampiri Sang Demon. Dia tak sabar ingin menyampaikan kabar yang sangat menggemparkan tersebut.
“Hei pelan-pelan…” tegur Finch cemas melihat Claudia berlari sempoyongan sebab gadis itu membawa keranjang piknik yang berat. “Mengapa kau harus lari? Ada berita apa, Claudia?”
Claudia berhenti di hadapan Finch dengan napas terengah-engah. “Finch, menara utara Gereja Oasydio runtuh sebab seseorang telah berhasil memecahkan teka teki kotak Pandora dan mencuri bola mata naga.”
Finch terperanjat. Selama ratusan tahun belum ada orang yang berhasil mencuri benda tersebut. Selain karena Gereja Oasydio dijaga ketat, menara utara dipenuhi dengan jebakan mematikan yang mustahil untuk ditembus. Pada saat menyegel Raja Naga, sebelum jatuh koma, Marion Forestyne mencungkil bola mata Raja Naga dan menaruh benda itu di sebuah kotak pandora yang memiliki teka teki yang sulit dipecahkan. Sejauh ini tak ada satu makhluk pun yang dapat membuka kotak pandora akibat teka-teki tersebut.
Kotak pandora itu sendiri diciptakan oleh Marion Forestyne yang merupakan ahli mekanisme. Penjara bawah Tanah di Ujung Bumi pun memiliki mekanisme yang diciptakan oleh Marion Forestyne. Marion memang berencana untuk mengurung Raja Naga di tempat itu. Penjara di mana Raja Naga dikurung memiliki pintu yang cuma bisa dibuka dengan belati gading milik Marion.
Bola mata naga adalah sumber kekuatan Raja Naga yang saat ini terkurung di Ujung Bumi. Saat kotak pandora terbuka, dan cahaya masuk mengenai bola mata maka Raja Naga yang sedang tertidur di Ujung Bumi akan bangun, yang berarti adalah sebuah bencana besar bagi kedamaian bumi.
Terjawab Sudah mengapa Finch sempat merasakan gejolak dahsyat di dalam dirinya beberapa hari lalu. Itu pasti tanda bahwa Raja Naga sudah terbangun sehingga sebagian roh Raja Naga yang terkurung dalam dirinya juga bereaksi. Siapakah yang dapat memecahkan teka teki kotak pandora dan mencuri bola mata tersebut? Benak Finch penasaran.
“Bagaimana mungkin ada orang yang mampu menembus pertahanan menara utara?” tanya Finch gusar. “Tempat itu juga dilengkapi banyak jebakan mematikan yang mustahil bisa ditembus.”
“Kabarnya si pencuri menggunakan bola kristal pemindah milik mendiang Marion Forestyne sehingga bisa mencapai kotak pandora yang terletak di seberang jurang. Pecahan kristal pemindah ditemukan di sana.”
“Jadi pencurinya adalah Puteri Freya?” tanya Finch sanksi. Setahu Finch, bola kristal pemindah cuma dapat digunakan oleh keturunan Marion. Bola kristal pemindah adalah benda magis untuk berteleportasi. Jadi bila seseorang memegang bola kristal pemindah lalu membayangkan suatu tempat maka bola kristal itu akan membawa orang tersebut menuju tempat itu dalam sekejap mata. Satu-satunya keturunan Marion Forestyne dan Raja Kingston adalah Puteri Mahkota Freya Forestyne Cheshire.
Claudia buru-buru menggeleng. “Bukan Finch, pelakunya adalah River Ashton. Kini Jenderal Muda Orclaycia itu menjadi buron. Pasukan Oasydio sedang mengejarnya.”
“River Ashton bisa menggunakan bola kristal pemindah? Tidak mungkin. Dia bukan darah daging Marion Forestyne.”
“Benar kok, Finch. Intinya River Ashton dan Puteri Freya berkomplot mencuri bola mata naga. Tapi pencurinya dipastikan adalah River Ashton sebab ada saksi yang melihat Puteri Freya baru memasuki menara setelah gempa terjadi. Gempa baru terjadi setelah kota pandora disentuh orang, bukan? Jadi River Ashton sudah berada di dalam pada saat Puteri Freya masuk. Mungkin saat itu River sedang berusaha memecahkan teka teki.”
“Benarkah River Ashton adalah jenderal muda Orclaycia yang juga dikenal sebagai pembantai makhluk magis?”
“Iya dia sangat populer di mana-mana termasuk di Reizl… Makanya semua orang shok begitu mengetahui dia adalah pencuri bola mata naga. Untuk apa Jenderal Ashton mencuri benda tersebut? Selama ini Orclaycia selalu membasmi demon dan makhluk magis, mengapa kini mereka malah membangunkan Raja Naga yang sedang tertidur di Ujung Bumi? Tak lucu bila perang besar terulang lagi. ” kata Claudia mencoba menganalisa.
Finch terguncang menyadari kalau ternyata adik tirinya bukanlah puteri Freya yang selama ini dia kira, melainkan River Ashton. Entah apa yang telah terjadi, tetapi bila benar pengguna bola kristal pemindah adalah River maka Anak kandung Marion yang sebenarnya adalah River sebab selain keturunannya, tak ada satu makhluk pun yang dapat menggunakan barang sihir milik Marion. Bagaimana bisa River berstatus anak kandung Jenderal Besar Phillip Ashton sementara Freya adalah puteri mahkota Orclaycia? River dan Freya tertukar? Mungkinkah River dan Freya sengaja ditukar oleh seseorang? Kalau benar, maka dalangnya kemungkinan besar adalah Phillip Ashton. Finch mengendus sesuatu yang tidak beres.
“Finch, mengapa kau melamun?” tanya Claudia cemberut. Dia cerita panjang lebar eh Finch malah menerawang. Namun Finch tidak menanggapi. Claudia pun mengibas-ngibaskan tangannya di atas hidung Finch. Barulah dengan begitu dia bisa mendapatkan perhatian si demon.
“Claudia, aku akan menunggu River di penjara Oasydio… Cepat atau lambat River pasti akan tertangkap…”
Claudia mengernyit. “Kau mau menunggu Jenderal River? Tapi mengapa?”
“Aku ingin berkumpul dengan keluargaku.”
Kerutan di dahi Claudia bertambah. “Aku tidak mengerti, Finch. Tapi bagaimana kau bisa pergi ke penjara Oasydio? Tidak sembarang orang bisa masuk ke kota suci Oasydio apalagi mengunjungi penjara.”
“Kau bisa ke penjara bila menjadi kriminal.” kata Finch menyeringai.
***