Muak dengan kesendirian dan menjalani hidup tanpa tujuan, Finch memutuskan melakukan perbuatan nekat. Dia harus menjadi penghuni penjara Oasydio agar bisa bertemu dengan satu-satunya keluarganya yang tersisa, River dari Orclaycia. Masih terbesit penyesalan yang amat dalam diri Finch ketika dia mendengar berita kematian Ibunya. Sembilan belas tahun lalu, Marion Forestyne meninggal setelah melahirkan. Finch menyesal tak pernah mencari Ibunya setelah perpisahan mereka di Ujung Bumi dan kini kesempatan itu hilang selamanya. Dia telah kehilangan Ibunya dan dia tak mau kehilangan River juga sebab River adalah setengah manusia setengah peri, kemungkinan hidupnya tak abadi.
Terakhir kali Finch melihat Marion adalah ketika dia memapah Marion yang jatuh pingsan setelah memasukkan bola mata naga ke dalam kota pandora menggunakan kekuatan sihir.
“Pangeran Finch, bila aku tak bisa selamat keluar dari sini, tolong aku untuk menyerahkan kotak pandora ini kepada Raja Rexton Cheshire… Benda ini harus disimpan di tempat yang aman agar kelak Raja Naga tak akan terlepas lagi sehingga kedamaian terus bisa berlangsung di dunia.” pesan Marion dengan wajah pucat. Seluruh tenaga peri itu nyaris sirna. Finch dengan cemas memperhatikan Ibu kandungnya. Dia khawatir Marion akan tewas di depan matanya.
“Baik Puteri Marion, aku akan memastikan kotak pandora ini ada di tangan Orclaycia. Jangan khawatir… Lebih baik Puteri beristirahat supaya kekuatan Puteri bisa segera pulih.” ujar Finch.
“Pangeran, aku sangat berterima kasih karena kau telah menolongku menyegel Raja Naga bahkan bersedia untuk menyegel sebagian kekuatan Raja Naga di dalam dirimu. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu selanjutnya tetapi aku cemas Raja Naga akan mempengaruhimu dan kelak akan menguasai dirimu seluruhnya.”
“Tenanglah aku tak akan membiarkan monster itu mengambil alih ragaku. Aku akan melawannya.”
Marion tersenyum sambil mengangguk. Ditatapnya Finch lekat-lekat kemudian dengan lembut jemari Marion menjelajahi wajah Finch. “Pangeran, kau mengingatkanku pada seseorang."
Finch tertegun. Apakah Marion teringat akan Ayahnya? Finch tidak tahu siapa Ayahnya yang Sebenarnya. Dia cuma tahu Ayahnya adalah seorang demon. “Siapakah orang itu, Puteri Marion?”
Mimik Marion tampak getir. “Dia adalah seseorang yang sangat aku cintai tetapi kami berada di dimensi yang berbeda sekarang dan aku tak akan pernah bisa menjumpainya lagi. Dia tinggal kenangan yang selamanya hidup di dalam hatiku.”
“Siapakah dia, Puteri?” selidik Finch, dia sungguh ingin tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya sampai dia harus ditelantarkan oleh Marion. Finch yakin Marion bukan wanita berhati kejam.
“Maaf aku tak bisa mengatakannya kepadamu… Kami saling mencintai tetapi tak bisa bersatu. Itu juga adalah penyebab diriku terpaksa harus menelantarkan anak kami.”
“Puteri memiliki seorang anak?”
“Ya… Tetapi aku tak tahu di mana keberadaannya dan memang lebih baik bagi anak itu untuk tidak mengenal kedua orang tuanya. Semuanya demi kebaikan anak itu.” kata Marion menerawang. Tergurat dengan jelas kesedihan di wajah jelitanya. Finch bisa melihat Marion buru-buru mengusap air mata yang tergelincir dari matanya.
Finch mengerutkan dahi. Mengapa lebih baik bagi Finch untuk tidak mengetahui siapa orang tuanya? Apa alasannya? Finch penasaran setengah mati. Belum sempat Finch bertanya, Marion tiba-tiba jatuh pingsan. Finch segera merengkuh tubuh Marion yang telah kehilangan tenaga. Dibopongnya Ibunya itu terbang, keluar dari penjara bawah tanah. Sekali lagi Finch melihat ke dalam penjara untuk memastikan Raja Naga tertidur pulas.
Keadaan di atas sangat kacau. Para demon berlarian menyelamatkan diri mereka dari serangan manusia dan makhluk magis. Finch melihat pasukan peri hutan dan segera menghampiri Raja peri mereka, yang tak lain tak bukan adalah Kakeknya sendiri, Rufus Forestyne. Rufus segera mengambil alih puterinya dari tangan sang demon. Matanya menatap Finch dengan penuh antisipasi.
“Puteri Marion terluka tetapi beliau berhasil menyegel Raja Naga di penjara bawah tanah.” lapor Finch kemudian menyerahkan kotak pandora kepada Rufus. “Puteri Marion menyimpan sumber kekuatan Raja Naga yaitu bola matanya di dalam kotak pandora ini. Beliau berpesan agar kotak pandora ini diserahkan kepada Rexton Cheshire selaku pemimpin perang kalian."
Rufus pun menerima benda tersebut dengan penuh keheranan. Mengapa seorang Quincy membantu Forestyne? Finch pun mohon diri dari hadapan Raja peri.
“Tunggu! Finch Quincy… Mengapa kau menyelamatkan Marion? Apa tujuanmu yang sebenarnya?”
“Aku tak punya tujuan apapun.”
“Kau tahu kan apa akibatnya jika demon berhianat pada bangsanya sendiri.”
Finch menyeringai. “Diasingkan. Aku sudah siap dengan segala konsekuensinya.” ucap Finch lalu terbang mencari pasukan demon Hevron.
Sesuai dugaan Finch, pasukan mereka hancur babak belur. Banyak demon yang mati menjelma menjadi asap hitam. Ketika Finch bersatu dalam kerumunan demon tersebut, semua demon memandangnya dengan penuh murka. Bukan rahasia, semua makhluk menyaksikan Finch membantu Marion menggiring Raja Naga masuk ke dalam mulut Bumi. Mereka pun telah sadar Raja Naga telah disegel sebab tiba-tiba kekuatan mereka langsung melemah drastis sehingga tak heran mereka kalah perang. Makhluk magis masih memburu demon yang ada di atas permukaan, sementara demon yang berperang di mulut bumi sudah terkubur hidup-hidup.
"Bunuh penghianat Finch Quincy!!! Penggal kepalanya!" Seru Jendral Perang Hevron seraya mengangkat gada besi. Suara demon tua nan gagah itu menggelegar hingga mengguncang tanah di sekitarnya. Sontak semua demon Hevron mulai menyerang Finch dari segala arah, termasuk kedua saudara tirinya Fredo dan Taye. Finch pun melarikan diri. Demon Hevron terus mengejar hingga Finch akhirnya terpojok. Dia yakin ajalnya akan menjemput hari itu juga. Fredo berjalan ke arahnya seraya mengangkat kapak siap memenggal kepala Finch untuk dipajang di gerbang Hevron sebagai peringatan terhadap penghianat lainnya.
Cameron Quincy muncul di tengah-tengah Finch dan gerombolan demon sehingga Fredo mengurungkan niatnya membunuh Finch sebab enam tangan kekar Ayahnya memagari Finch.
"Berhenti! Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh Putera Mahkota!" seru Cameron tegas. Nyali para demon langsung ciut. Tak ada yang berani melawan pemimpin mereka. Finch terpekur. Tak pernah terpikir di kepalanya kalau ayah angkatnya itu akan melindunginya setelah dia melakukan dosa besar pada bangsa demon.
"Dengarkan semuanya! Mulai detik ini Finch Qunicy resmi diasingkan dari Hevron! Dia tak diijinkan kembali ke Hevron tapi tak ada satu demon pun yang boleh membunuhnya tanpa ijinku!" umum Cameron Quincy.
Seluruh demon segera menurunkan senjata meraka, mematuhi perintah Cameron.
"Ayah…" gumam Finch merasa lega. Dia tahu sekejam-kejamnya Ayahnya masih memiliki perasaan terhadapnya.
Cameron menatap Finch dengan tampang bengis. "Sekali ini kuberikan kepadamu kesempatan untuk hidup tetapi tidak ada lain kali! Sekarang enyahlah dari hadapanku!" usir Cameron berang. Finch menatap Ayahnya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Namun Cameron tak bergeming. Putus sudah hubungan ayah dan anak di antara mereka. Finch pun segera membentangkan sayapnya kemudian terbang meninggalkan medan perang. Itu adalah momen terakhir Finch bertemu Cameron dan hatinya masih meratap hingga hari ini.
***