Tak tanggung-tanggung, malam itu Finch menyusup ke Gereja Oasydio dan menyerang biarawan di sana, terutama yang mengusulkan agar River Ashton dihukum mati. Finch mendapati para biarawan dan petinggi Oasydio sedang mengadakan rapat darurat, membahas soal pencurian bola mata naga. Peserta rapat sepakat akan menggantung River di depan publik mengingat dosa River amat besar.
Tak terima adik tirinya mau dibunuh, Finch pun segera menginterupsi rapat tersebut. Mulut pemimpin rapat dan para petinggi dibuat sobek oleh Finch hingga tak bisa bicara lagi. River adalah satu-satunya makhluk yang memiliki hubungan darah dengan dirinya, sebagai kakak, Finch jadi protektif. Sebaliknya River belum tahu akan eksistensi demon tersebut.
Berkat perbuatan kejinya di ruang rapat, Finch segera ditangkap oleh para prajurit. Finch langsung dirantai dan dibawa ke penjara Oasydio begitu identitasnya sebagai demon terbongkar. Tak ada manusia yang sanggup mencelakakan sepuluh orang sekaligus dengan kecepatan secepat Finch. Cukup sekejap mata dibutuhkan Finch untuk melukai tiap individu. Beberapa orang bahkan tewas. Finch sukses mendapat tempat spesial di penjara Oasydio, tepatnya di sel isolasi dimana penjahat paling berbahaya ditahan. Bukannya sedih, Finch malah cukup menyukai sel batu yang sempit dan Lembab tersebut. Satu-satunya penerangan cuma bersumber dari lubang ventilasi di atas pintu. Sempurna. Dia memang benci tempat terang. Dilemaskannya ototnya yang kaku sebab sudah lama Finch tidak berkelahi. Finch pun membaringkan tubuhnya di atas jerami. Tinggal menghitung hari sampai dia bisa bertemu adik laki-lakinya, batinnya puas. Namun ternyata penantian Finch tidak secepat itu.
***
Tidak dapat menemukan Finch dimana-mana, Claudia mencari Finch di penjara Oasydio. Claudia was-was Finch serius tentang rencana demon itu menunggu River Ashton di penjara. Kekhawatiran Claudia terbukti, Finch memang ditahan di sana, di sel isolasi pula. Claudia terpukul mendengarnya. Dia sedih tidak bisa bersama-sama dengan Finch lagi. Syukurlah Claudia diijinkan bertemu Finch setelah memohon-mohon pada Hal si kepala penjara.
"Finch, mengapa kau benar-benar menjerumuskan dirimu ke dalam penjara? Apakah kau baik-baik saja? Mereka tidak menyiksamu kan?" ratap Claudia. Dia sangat mencemaskan demon tampannya. Terutama karena Finch mengenakan seragam tahanan yang buruk dan sobek-sobek.
Finch menyeringai. "Mereka menyiksaku tetapi siksaan itu tak ada artinya untukku."
Claudia langsung menangis mendengarnya. "Aku tak bisa menghabiskan waktu denganmu lagi. Hari-hariku akan terasa hampa, terlebih aku sangat mencemaskanmu, Finch."
Finch tersentak. Dia baru sadar dia memiliki Claudia yang amat bergantung padanya. "Maafkan aku, Claudia, tetapi aku harus bertemu dengan River Ashton."
"Haruskah kau masuk penjara dulu untuk bertemu dengan Jenderal Orclaycia itu?"
"Sebenarnya tidak. Tetapi aku memiliki rencana agar aku bisa berada di sampingnya dan untuk mewujudkan rencanaku, aku harus masuk penjara. Setelah mencuri bola mata naga, River pasti akan diincar para demon jadi aku harus berada di sisinya untuk melindunginya."
Claudia tampak ling lung. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Finch. "Kenapa kau melakukan semua ini, Finch?"
"Aku muak hidup sendirian, Clau. Dia adalah adik laki-lakiku. Kami memiliki Ibu yang sama. Aku ingin berkumpul dengan keluargaku. Tiga ratus tahun aku berkelana dan hidup terisolasi, rasanya lebih buruk daripada mati. Sudah cukup bagiku, Clau. Aku tak bisa membuang waktu. River adalah setengah manusia jadi aku ragu umurnya panjang. Sebelum dia dijemput malaikat maut, aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya."
"Finch, aku sama sekali tidak mengerti omonganmu. Aku benar-benar bingung… Apapun rencanamu aku akan mendukungmu tapi aku tak ingin kau sampai terluka atau mati…"
Finch tertawa kecil. "Aku berjanji tidak akan mati sebelum kau… Claudia, selama tidak ada aku, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri."
"Baik aku tak akan membuatmu cemas… Finch, bolehkah aku mengunjungimu di sini setiap hari?"
Finch menatap Claudia, agak iba bila gadis itu harus menempuh perjalanan jauh setiap hari untuk mengunjunginya di penjara. "Tempat ini cukup jauh dari tempat tinggalmu."
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa melihatmu setiap hari jadi aku merasa sedih bila kita jadi jarang bertemu."
Finch menghela napas. "Baiklah terserah kau saja… Ngomong-ngomong… Claudia, bisakah kau membantuku?"
"Tentu saja… Apa yang bisa kulakukan untukmu, Finch?" tanya Claudia semangat.
"Terus kabari aku soal River Ashton..."
***
Finch mulai bosan berada di sel isolasi. Kedatangan River ternyata tak secepat yang dia kira. River menghilang sejak berhasil kabur dari menara utara bersama Puteri Freya dan tidak diketahui di mana keberadaanya. Oasydio, Orclaycia, Osric, dan Reizl bahu membahu mencari Jenderal Muda yang kini menjadi buron tersebut. Sejauh ini belum terdengar kabar apapun. Finch pun memutuskan untuk bersabar di penjara beberapa saat lagi. Walau sebenarnya mudah bagi Finch untuk menjebol penjara. Dia bisa kabur kapan saja.
Finch cuma boleh keluar sel untuk menghirup udara segar dan bertemu dengan tahanan lainnya satu jam sehari. Sisanya hanya bergaul dengan tikus dan serangga di sel. Tak jarang Finch memakan binatang-binatang tersebut. Bagi Finch, daging mentah rasanya jauh lebih lezat daripada makanan penjara. Saat keluar sel satu jam sehari, Finch diam-diam mencari keberadaan segel bintang tahanan. Segel bintang tahanan adalah segel yang dipasang pada kaki tahanan yang berkelahi, membuat kerusuhan atau mencoba untuk kabur. Finch berniat memasang segel itu di kakinya dan River supaya mereka terikat. Selain untuk melindungi River, Finch tidak ingin hidup sendirian lagi.
Dengan segel itu Finch bisa mengikuti River kemanapun River pergi tanpa River bisa menolak, sebab segel itu memang berguna untuk saling menjaga antar tahanan agar tidak kabur. Jika segel itu terpasang di kakinya dan River maka River dan dirinya tak boleh berpisah lebih dari jarak tertentu, kalau tidak segel akan bereaksi dan menyiksa mereka. Dengan begitu mudah bagi penjara mengawasi sebab itu artinya River bertugas menjaga Finch tidak kabur, begitu juga sebaliknya. Kalaupun keduanya mau kabur, keduanya harus kabur bersama dan hidup berdekatan terus seumur hidup sampai pihak penjara melepaskan segel dari kaki mereka. Siapa yang mau? Finch tinggal menyusun rencana bagaimana memasang segel itu di kakinya dan River.
***
Setiap hari Finch menggunakan satu jam kebebasannya untuk melacak keberadaan segel bintang tahanan. Ditelusurinya tiap ruangan dalam penjara tetapi sulit menemukan benda tersebut namun dia yakin segel itu pasti ada di suatu tempat dalam penjara. Mustahil ada di menara atau gereja mengingat segel itu hanya digunakan untuk tahanan. Suatu hari Finch berhasil menemukan segel bintang tahanan di ruang kerja Hal, si kepala penjara. Dia dipanggil Hal untuk memoles sepatu bajingán tersebut. Finch nyaris ingin membunuh manusia picik itu di tempat namun matanya keburu menangkap keberadaan segel di dalam laci ketika Hal membuka laci untuk mengambil dokumen. Hal mengunci laci setelah mengambil apa yang diperlukannya.
Seusai memoles sepatu, Finch bangkit berdiri di hadapan Hal lalu pura-pura menumpahkan cairan pembersih ke baju pria laknat tersebut. Buru-buru disekanya pakaian Hal. Di sanalah kecepatan tangan Finch yang tidak terkira merampas seikat kunci dalam saku Hal. Hal cepat-cepat mendorong Finch menjauh dari tubuhnya, cukup gentar bila demon itu bermaksud melukainya.
"Jangan menyentuhku, demon!" bentak Hal gusar seraya merapikan bajunya. Dikeluarkannya sapu tangan untuk mengeringkan bajunya yang lembab.
"Maafkan aku... Itu refleks, aku hanya ingin membersihkan bajumu." kelit Finch santai.
Keesokkan harinya, Finch pun menyusup ke ruangan Hal. Dikeluarkannya segel bintang tahanan dari laci. Finch memutuskan untuk menjelajah ruangan Hal. Siapa tahu dia bisa menemukan benda berguna lainnya.
Selain menemukan segel yang dicarinya, Finch juga menemukan jenis segel lain. Segel bintang maut. Perbedaan segel bintang tahanan dan segel bintang maut adalah segel bintang maut baru bisa terlepas jika salah satu dari tahanan ada yang mati. Segel itu terpasang permanen tanpa ada satu orang pun yang dapat melepaskannya termasuk pihak penjara. Cuma kematian yang bisa membebaskan segel. Sungguh segel yang kejam.
Finch berubah pikiran. Dia membatalkan niatnya mencuri segel tahanan biasa. Finch mengambil segel bintang maut yang ditaruh di pojok atas kabinet besi di mana barang-barang berharga disimpan. Syukurlah serenceng kunci milik Hal lagi-lagi membantu. Segel bintang kematian lebih ideal jika dia ingin terlibat terus dalam kehidupan River sebab itu berarti dia dan adiknya tak akan berpisah sampai salah satu dari mereka ada yang mati. Finch pun memasukkan segel hitam itu ke dalam baju dan berjalan berjingkat-jingkat keluar dari ruangan Hal. Syukurlah dia adalah demon yang bisa bergerak gesit tanpa menimbulkan suara. Senyum puas terulas pada wajah Finch ketika penjaga mengawalnya kembali ke sel.