Pagi itu Claudia datang menjenguk Finch membawa kabar buruk. River Ashton tewas digempur oleh tentara Osric di Hutan Kematian. Dengan kejam, River yang sudah sekarat akibat terkena hujan anak panah dilempar prajurit Osric dari tebing tinggi ke laut. Finch terguncang mendengar berita tersebut. River adalah peri hutan maka tubuhnya akan terbakar ketika menyentuh air laut. Air laut seperti api bagi peri hutan. Kemarahan Finch pun meluap. Meja di mana dia duduk berhadapan dengan Claudia langsung dihancurkan oleh Finch. Sontak para petugas penjara pun segera mengamankan Finch yang mengamuk. Ini pertama kalinya Finch membuat kerusuhan di penjara.
"Claudia, di mana anak manusia itu dibuang?" tanya Finch sebelum diseret paksa kembali ke selnya.
Claudia masih shok dengan kemarahan Finch. "Di tebing dekat pondok Raniya Kalindi di Hutan Kematian." Jawabnya dengan suara bergetar. Baru kali ini Claudia melihat mata Finch berubah merah dan gigi taring muncul di mulut Finch. Claudia juga tak mengira Finch memiliki kekuatan sedahsyat itu hingga bisa menghancurkan meja menjadi serbuk kayu.
Melihat Claudia gemetaran, Finch menyadari kekhilafannya. Tidak seharusnya dia membuat Claudia ketakutan seperti barusan. Finch sendiri shok bisa menemukan dirinya tak bisa menguasai emosi.
"Claudia maafkan aku…" sesal Finch sebelum hilang di balik pintu.
"Tidak apa-apa Finch… Aku akan mengunjungimu lagi besok…" balas Claudia lalu berlari menghampiri salah satu penjaga. "Tuan, Apakah Finch akan dihukum karena membuat keributan barusan?"
"Tentu saja. Setiap perbuatan buruk tahanan harus dikoreksi apalagi untuk tahanan kelas berat. Besi panas sudah menunggu untuk ditempelkan pada tubuh demon tersebut." jawab si penjaga menyeringai. Claudia menangkup mulutnya, pucat pasi. Hal, kepala penjara menatap Claudia dan menyadari Kalau gadis itu cukup molek dan cantik. Maka p****************g itu pun menghampiri Claudia.
"Kau sangat peduli pada Finch. Dia itu siapamu, Nona?" tanya Hal.
Claudia agak gugup dihampiri oleh Hal. Hal bukan pria yang sopan dilihat dari cara pria itu menatapnya. Tatapannya liar seperti ingin menerkam. "Dia adalah seorang yang penting untukku."
"Kau ingin Finch tidak mendapat hukuman?" Tanya Hal lagi.
Claudia memberanikan diri mengangguk. "Iya, bisakah Tuan memaafkan kesalahannya?"
Hal tertawa kecil. "Tentu saja bisa jika aku memerintahkan anak buahku untuk tidak menghukumnya."
"Terima kasih banyak, Tuan." kata Claudia penuh syukur.
"Tapi itu tidak gratis…" bisik Hal tersenyum licik. "Kau harus melakukan sesuatu."
"Melakukan apa, Tuan?"
"Tidurlah denganku."
Claudia tercengang. Langsung digerakkan tangannya untuk menampar pipi Hal, namun Hal dapat mencegah niat Claudia. Kini pria jahat itu mencengkeram pegelangan tangan Claudia. "Kau tahu Nona, kekasihmu itu dikurung di sel isolasi. Jika kau mengikuti kemauanku, aku dengan senang hati memindahkannya tinggal di sel biasa di mana dia bisa bersosialisasi dengan tahanan lain dan makan makanan yang lebih bergizi."
Claudia buru-buru menarik tangannya dan berlari meninggalkan penjara. Claudia sungguh merasa terhina dengan sikap Hal. Dia ingin Finch diperlakukan lebih baik di penjara tapi dia jijik tidur dengan kepala penjara yang buruk rupa nan genit tersebut.
***
Finch harus menyelamatkan River. Masih ada harapan River masih hidup dan sedang terombang-ambing di laut. Bisa saja karena River setengah manusia maka River tidak akan terbakar air laut. Sama seperti dirinya. Air laut tidak bereaksi atas dirinya. Finch tak bisa diam saja di sel dan terus menunggu. Maka Finch pun mengerahkan kekuatannya dia menjebol pintu besi dan keluar dari sel. Para penjaga Otomatis mencoba menangkapnya tapi Finch dengan mudah menumbangkan mereka semua. Finch pun dikepung. Seluruh petugas di tempat itu diperintahkan Hal untuk mengurung demon itu di sel isolasi lain. Namun usaha mereka sia-sia. Finch dengan mudah keluar penjara. Dihirupnya udara kebebasan ketika dirinya sudah tiba di halaman penjara Oasydio. Gerbang segera ditutup rapa-rapat oleh penjaga. Semua orang memegang tombak dan pedang siap menghabisi Finch bila pria itu nekat menjebol gerbang. Penjaga pun berbondong-bondong memagari gerbang.
"Finch, Berhenti! Menyerahlah atau tidak terpaksa kami membunuhmu!" seru Hal memberi peringatan. Hal membidik anak panah siap melukainya jika Finch melangkah satu langkah lagi.
Finch tertawa mengejek. Siapa bilang dia akan kabur lewat gerbang? Bodoh sekali orang-orang itu. Dengan penuh percaya diri, Finch merentangkan sayapnya dan terbang. Hal pun melepaskan anak panah ke arah demon tersebut. Anak panah pun menancap di paha Finch tetapi itu tak berarti apa-apa bagi demon yang kuat tersebut. Finch mempercepat gerakannya untuk melewati benteng penjara. Anehnya ketika mencapai puncak, Finch tak bisa menembusnya. Tubuhnya seperti tertahan tembok. Seolah-olah benteng terbuka itu tertutup atap. Finch mencoba sekali lagi dan kini aliran listrik memercik. Finch pun tersetrum dan terlempar ke bawah. Tubuh Finch menghantam tanah dengan keras. Finch pucat pasi, menyadari kalau penjara itu dijaga dengan kekuatan sihir sehingga tak ada seorangpun yang bisa kabur kecuali dari pintu gerbang.
Hal tertawa terbahak-bahak. "Demon, tempat itu dilingkupi kekuatan sihir. Kau salah Jika menganggap Oasydio adalah penjara yang bisa dijebol. Satu-satunya pintu keluar hanyalah gerbang yang dijaga oleh ratusan penjaga. Kami pun memiliki meriam yang sanggup menghancurkan tubuhmu seketika. Cobalah kalau berani!" ejek Hal mencibir.
Para penjaga mengeroyok Finch. Finch terus melawan tapi karena dia baru terserang kekuatan sihir dahsyat, tubuh Finch melemah. Dia sendirian tak sanggup melawan kurang lebih seratus orang sekaligus. Akhirnya empat orang penjaga berhasil merantai tangan dan kakinya. Finch ditendangi dan dipukuli oleh petugas sampai babak belur. Setelah itu kedua tangan Finch diikat ke kuda dengan tali panjang lalu Hal menunggangi kuda tersebut sehingga Finch terseret mengikuti kemana kuda itu melangkah. Hal sengaja menambah kecepatan. Dia tertawa senang melihat Finch meluncur di tanah. Tubuh Finch tersayat sana sini karena jalanan bebatuan di halaman penjara. Semua orang menyaksikan Finch dihukum termasuk para tahanan. Kebetulan saat itu adalah jam istrirahat. Mereka tampak menikmati hiburan yang jarang ada dalam penjara.
"Hai para tahanan, ini akibatnya kalau kalian ingin kabur! Keadaan kalian akan lebih buruk daripada mati jadi jangan coba-coba melawanku!" Seru Hal arogan kepada para tahanan yang menonton mereka dari balkon maupun pinggir halaman.
Finch pun jatuh pingsan setelah diseret Hal dengan kuda beberapa putaran. Dia terluka cukup parah. Namun hukuman Finch tidak berakhir sampai di situ. Finch dibawa ke ruang siksaan, diikat berdiri dengan kedua tangan terlentang. Tubuh dan wajahnya sudah kotor tidak karuan. Tubuhnya dipenuhi memar dan lebam. Seorang penjaga segera menyiram wajah Finch dengan air comberan. Finch pun terbatuk dan tersadar dari pingsannya. Begitu Finch sadar, cambuk penuh kawat tajam sudah disiapkan untuk mencambuki Finch. Dua algojopun bekerja sama mengayunkan cambuk itu ke arah Finch secara bergantian. Kulit Finch mulai tercabik-cabik dan dagingnya terlepas dari kulitnya berkat cambukan ganas tersebut. Raungan kesakitan Finch pun bergema memenuhi seluruh bangsal penjara. Siksaan baru berhenti ketika Finch kehilangan kesadaran. Barulah kali ini Finch benar-benar diantar kembali ke sel isolasi. Sel isolasi Finch yang baru tak ada lubang cahaya sama sekali, yang ada murni kegelapan.
***
Keesokkan harinya Claudia mengunjungi penjara seperti biasa. Dibawakannya Finch daging rusa mentah, makanan kesukaan Finch. Hal tersenyum jahat kepadanya lalu duduk di hadapan Claudia.
"Tuan, Apakah yang terjadi pada Finch? Mengapa Tuan Mark mengatakan saya tak bisa menemui Finch hari ini?" tanya Claudia khawatir. Dia takut dia tak bisa menemui Finch lagi karena menolak tawaran Hal kemarin.
"Kemarin Finch mencoba kabur dari penjara tapi gagal. Dia terlalu meremehkan sistem keamanan penjara Oasydio. Perbuatannya membuat kami harus memberikan hukuman berat kepadanya supaya jera dan kini dia sekarat di dalam selnya. Mungkin sebentar lagi tewas."
Claudia terbelalak. Ditangkupnya mulutnya sendiri karena shok. "Tuan, tolong ijinkan saya melihat keadaannya." katanya memohon. Matanya mulai panaș menahan tangis.
"Keadaannya terlalu mengenaskan untuk dijenguk. Kau tak akan kuat melihat keadaannya. Pulanglah Nona!"
"Karena itu saya harus menjenguknya sebelum saya kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya. Saya mohon Tuan…"
Hal menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum licik. "Lalu aku dapat apa bila membiarkanmu menjenguk Finch?"
***
Claudia menangis tersedu-sedu ketika keperawanannya direnggut oleh kepala penjara di kandang kuda. Hal memporak-porandakan tubuhnya dengan kasar guna melampiaskan nafsu jahanamnya. Seluruh area sensitifnya puas diraba-raba oleh Hal. Claudia juga cuma bisa pasrah, bersandar pada tembok ketika Hal menggagahinya dari belakang. Dia mati-matian menahan jerit kesakitan agar perbuatan b***t mereka tak terdengar oleh orang. Semua dilakukan Claudia untuk Finch.
Claudia segera membetulkan gaunnya yang berantakan. Dilihatnya Hal sedang memasang pengait pada celananya. "Tuan, kau harus memenuhi janjimu untuk mengobati luka-luka Finch dan memindahkannya ke sel tahanan biasa. Kau juga tak boleh menyiksanya lagi." tuntut Claudia sambil terisak. Dia menatap Hal dengan penuh kebencian. Andaikan dia bisa berkelahi pasti dia sudah membunuh pria b******k tersebut.
Hal terkekeh. "Tentu saja Nona manis. Finch akan ditangani dokter hari ini dan akan kupindahkan dia ke sel biasa besok pagi, bagaimana? Kau puas?" ujar Hal seraya mengelus pipi Claudia. Claudia segera menepisnya dengan kasar.
"Aku juga ingin menemuinya hari ini."
"Ok tidak masalah. Tapi jangan sampai demon itu mengetahui perbuatan yang baru kita lakukan."
"Aku bukan orang bodoh yang akan membiarkan Finch mengetahui hal itu. Kau juga harus merahasiakannya kepada semua orang!"
"Bila kau bersedia terus melayaniku, aku akan memberikan pelayanan kelas satu pada kekasihmu. Akan kuberikan dia makan daging rusa seminggu sekali." kata Hal menyeringai.
"Ini pertama dan terakhir kalinya aku melayanimu!" sahut Claudia ketus sambil buang muka. Claudia keluar lebih dulu dari kandang kuda. Sialnya seseorang memergokinya dari kejauhan, seorang anak buah Hal. Pemuda itu terpana melihat Hal muncul dari kandang kuda tak lama setelah Claudia keluar.
***