"ugh lelah sekali" ucap pria bersurai pirang berjalan di koridor megah itu sembari meregangkan tubuhnya.
"Yang Mulia tolong perhatikan cara berjalan anda" ucap pria berkacamata yang berjalan di sampingnya.
Pria yang dipanggil 'Yang Mulia' itu menoleh dan menatap tidak suka dengan mata emasnya, "hei Vincent, aku baru pulang dari medan perang tiga hari lalu dan langsung mengerjakan tumpukan dokumen negara di kantorku seharian penuh. Dan dengan entengnya kau mengomentari cara berjalanku?"
"itu sudah tugas anda Yang Mulia" ucap pria yang disebut Vincent tadi.
Pria pirang itu masih menatap Vincent tidak suka kemudian kembali menoleh ke depan, "ini sudah di luar jam kerja, kenapa kau masih memanggilku begitu? Apa kau sudah lupa bahwa kita ini teman?" ucap pria itu.
Vincent tersenyum kecil, orang yang merupakan raja di Casentine ini adalah teman baiknya sejak mereka kecil. Dan sekarang ia bekerja sebagai asisten raja di istana. Namun satu hal yang Vincent tahu pasti, "kau tidak pernah berubah Artem" ucapnya.
Artem tersenyum remeh, "tidak ada alasan bagiku untuk berubah" ucapnya.
"ya ya, bahkan gadis cantik pelayan restoran waktu itu?" ucap Vincent menggoda.
Artem mengalihkan pandangannya, "a-aku tidak tau apa yang sedang kau bicarakan" ucapnya dengan sedikit semburat merah di pipinya dan itu berhasil membuat senyum Vincent layu, namun sekian detik kemudian ia melebarkan senyumnya.
"hm~ aku tau kalau kau malam in berniat mengendap-endap keluar lagi" ucap Vincent dengan penekanan.
Artem langsung menoleh menatap Vincent terkejut, "darimana kau-hmph" ia langsung menutup mulutnya karena jika ia melanjutkan pertanyaannya maka itu artinya Artem mengakui bahwa ia memang hendak keluar malam ini.
Vincent terkekeh geli, baru kali ini sahabat baiknya itu terlihat bodoh dan mudah ditebak, ah cinta memang bisa mengubah seseorang. "sudahlah, tidak perlu banyak tanya dan kejar saja gadis itu. Kerajaan ini butuh ratu, dan kau butuh penerus" ucap Vincent seperti menasehati anaknya.
"hey jangan berkata begitu, aku tulus mencintainya. Bukan karena aku membutuhkan penerus" ucap Artem tidak suka dengan ucapan Vincent.
Vincent menaikkan sebelah alisnya menatap Artem, "jadi kau sungguhan jatuh cinta padanya?"
Artem menatap Artem sejenak kemudian kembali menoleh ke depan, "tidak ada yang perlu aku tutupi darimu" ucapnya.
Vincent tersenyum sendu namun itu tidak disadari oleh Artem, sekian detik kemudian ia menepuk pundak Artem "aku turut senang mendengarnya, aku kira kau akan memungut anak tidak jelas untuk dijadikan penerusmu" ucapnya dengan nada bercanda.
Artem mendengus, "masa depan kerajaan ini terlalu berharga untuk dikorbankan" ucapnya kemudian kembali menoleh pada Vincent, "kau juga carilah isteri, orang-orang mengira bahwa kau menyukaiku karena tidak kunjung menikah hahaha. Aku duluan ya" tukasnya seraya memasukki pintu besar berukiran indah, kamarnya.
Vincent masih diam berdiri di depan pintu kamar Artem, menatap punggung lebarnya yang menghilang di balik pintu dengan senyuman sendu, "mungkin orang-orang memang benar" lirihnya.
---::---
Malam yang indah, langit gelap bertaburan bintang berkelip bagai permata.
Di ibukota, alun-alun nampak ramai karena diadakan pasar malam. Para penduduk menari dan menyanyi diikuti alunan alat musik sederhana, semua orang nampak tertawa dalam senda gurau bersama. Kehangatan yang begitu berharga.
bruk
"aduh" gadis bersurai hitam panjang bergelombang diikat kuncir kuda yang masih memakai apron putihnya itu mengaduh saat wajahnya menabrak d**a bidang seseorang. Ia mendongak menatap sang pemilik d**a itu, "m-maaf tuan- eh? a-anda kan yang waktu itu" tanya gadis itu menunjuk wajah tampan di depannya.
Artem tersenyum manis, "halo, boleh saya masuk?"
"ah iya, silahkan tuan" ucap gadis itu memersilahkan Artem memasukki restoran sederhana tempat ia bekerja.
Artem melangkahkan kakinya memasukki restoran sederhana yang sedang ramai pengunjung. Tentu ia menggunakan penyamaran dengan mengubah warna matanya menjadi hijau, mata emas seperti singa hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan. Bisa kacau kalau orang-orang tahu bahwa sang raja sedang berada disini.
"anda ingin pesan apa tuan?" tanya gadis berambut hitam itu.
Artem berpikir sejenak, "hm~ bagaimana kalau aku ingin memesan sebuah kencan?" tanyanya.
Dengan senyum manisnya gadis itu menjawab, "maaf tuan, yang kami jual disini adalah makanan dan camilan. Kenapa anda tidak pergi di biro jodoh saja?" tanyanya sopan namun perempatan siku di pelipisnya menjelaskan segalanya.
Artem hendak tertawa melihat wajah gadis itu, ah ia tidak akan pernah bosan melihat wajah manisnya. "kalau begitu aku mau namamu" ucapnya.
Masih dengan ekspresi yang sama, gadis itu berkata, "maaf tuan tidak ada menu dengan nama 'namamu' disini. Apa anda ingin saya rekomendasikan menu terbaik kami?" tanyanya.
"oh ya? apa itu?" tanya Artem yang nampak semakin tertarik.
"namanya 'pergi dari sini', bagaimana? anda tertarik?" tanyanya.
Oh astaga gadis ini menarik sekali, "baiklah, kalau begitu aku akan memesan menu itu. Tapi aku ada tambahan" ucapnya.
Gadis itu menghela nafasnya, 'sabar Elisha, demi pekerjaan' batinnya. "baiklah, apa yang ingin anda tambahkan tuan?"
Artem tersenyum cerah, "aku ingin 'pergi dari sini' ditambah 'bersamamu', bisa?" tanya Artem.
'hm kenapa aku tidak terkejut? Orang ini tidak menyrah juga, baiklah mari beri dia kesempatan dan lihat sampai sejauh mana dia bisa bertahan' batinnya lagi. Elisha kembali melebarkan senyumannya, "baiklah, pesanan anda akan tiba sekitar tiga jam lagi. Apa anda ingin kopi untuk menemani selama menunggu?" tawarnya.
"ya, dan tolong aku ingin kau yang membuatnya" ucap Artem masih dengan senyum cerahnya.
"baiklah, akan saya tambahkan garam ekstra untuk anda" ucap gadis itu dan segera berbalik meninggalkan Artem.
Sedang Artem nampak mengepalkan kedua tangannya seraya berselebrasi kecil, "yess berhasil" ucapnya kemudian segera mengondisikan wajahnya lagi.
Beberapa menit menunggu, Elisha kembali dengan secangkir kopi di atas nampan yang ia bawa. "kopi anda tuan" ucapnya seraya menyajikan kopi itu di depan Artem.
Artem tersenyum pada Elisha, "terima kasih" ucapnya dan hanya dibalas dengan anggukan dari Elisha.
Artem mengangkat cangkir kopi itu dan menyesapnya sedikit, ia tersenyum manis setelah meneguk kopi hangat itu. 'kukira masalah garam tadi hanya bercanda'
---::---
"apa kau sering berjalan keluar?" tanya Artem.
Gadis itu menjawab tanpa menatap matanya, "ya, terkadang. Bersama seorang pria tampan dan lucu yang sangat manis padaku" ucapnya santai. Sebenarnya yang Elisha maksud adalah putera dari pemilik restoran tempat ia bekerja yang masih berusia lima tahun. Ia hanya ingin melihat reaksi Artem.
Dan tentu saja itu berhasil, Artem menatap Elisha dengan tatapan terkejutnya. Tidak menyangka bahwa ia sudah didahului oleh orang lain. Namun ia segera mengondisikan wajahnya lagi, "oh ya?" Artem langsung mengambil posisi di depan Elisha, membuatnya sontak menghentikan langkahnya. "setampan apa dia?" tanya Artem percaya diri seraya menatap mata hitam gadis manis itu lamat-lamat.
Elisha, entah kenapa, merona malu menatap mata hijau Artem yang tajam namun juga indah. Ia perlahan mengalihkan pandangannya, "s-sangat tampan" ucapnya kikuk. 'sial, pria ini lelaki tertampan yang pernah aku temui' batinnya.
Artem menyadari ekspresi malu-malu Elisha, ia pun tersenyum miring. "Elisha..." ucapnya seraya meraih dagu kecil gadis itu dan membawanya kembali menatap mata Artem. Karena tidak tahu harus apa, Elisha hanya menurut dan menoleh, tenggelam di dalam tatapan pria di depannya.
"kita baru bertemu beberapa hari lalu, tapi bolehkah aku mengenalmu lebih jauh lagi? Sebagai teman?" tanya Artem lembut dengan suara dalamnya, menatap Elisha dengan binar terpesona.
Entah apa yang merasukinya, Elisha mengangguk mengiyakan permintaan Artem. Dan begitulah, hari demi hari, malam demi malam Artem datang berkunjung di restoran tempat Elisha bekerja. Menunggu gadis manis itu menyelesaikan shift-nya dan pergi menikmati waktu bersama dengan Artem.
Hingga tak terasa, satu tahun sudah mereka berteman dan berbagi kebersamaan. Dan malam ini, Artem sudah membulatkan tekadnya, ia akan mengungkapkan perasaannya pada Elisha.
"Eli..."
"ya?"
Elisha menjawab tanpa menoleh, ia tengah bermain air di pinggiran sungai di bawah sinar rembulan. Artem nampak gelisah melihat gadis yang ia cintai itu bermain air dengan santainya, hari sudah gelap ditambah bebatuan sungai yang licin, bisa-bisa ia-
"kya!"
"Elisha!"
Artem berlari menangkap tubuh Elisha yang hampir jatuh ke sungai karena terpeleset lumut di bebatuannya. Namun karena tidak bisa menjaga keseimbangan, mereka berdua pun berakhir tercebur ke dalam sungai bersama.
byuuurrr
"huff huff dasar ceroboh, kalau kau terbentur batu besar itu bagaimana?" ucap Artem.
"m-maaf a-a-aku ti-tidak tahu k-kalau batunya licin" ucap Elisha menggigil kedinginan.
Artem menghela nafasnya pelan, "kemari" ucapnya seraya mengulurkan kedua tangannya.
Elisha menatap uluran tangan Artem bingung, "eh? a-apa- kya!" ia menjerit terkejut saat Artem tiba-tiba mengangkat tubuhnya dengan mudah dan membawanya ke pinggiran sungai.
Artem melepas mantel panjangnya yang tidak basah sepenuhnya dan mengnakannya di bahu kecil Elisha, "tunggu disini, aku akan cari kayu bakar" ucapnya seraya berbalik hendak melangkah memasukki hutan.
Namun langkahnya terhenti saat Elisha menarik celananya pelan, Artem menunduk menatap Elisha. "jangan jauh-jauh, aku takut" ucapnya.
Artem mendengus kemudian tersenyum kecil, tangannya terulur mengacak surai hitam gadis yang selama ini menguasai hatinya itu. "aku tidak akan meninggalkanmu" ucapnya kemudian berbalik berjalan memasukki hutan.
Sedang Elisha nampak membeku di tempatnya duduk, kalimat yang diucapkan Artem seolah menghipnotisnya. Itu kalimat biasa namun kenapa terasa begitu istimewa? Dan sejak kapan ia memiliki perasaan ini terhadap Artem?
Elisha tersenyum manis dengan pipi meronanya, ia mengeratkan mantel panjang itu di tubuhnya, menghirup aroma Artem yang entah kenapa terasa begitu menenangkan. "aku mencintaimu Artem" ucapnya tanpa sadar.
bruk