bruk
Elisha dengan cepat menolek ke belakang saat mendengar suara kayu yang berjatuhan, matanya membulat saat melihat Artem yang sedang menatapnya dengan wajah terkejut. 'bagaimana bisa dia mencari kayu bakar secepat itu?tidak, yang lebih penting, apa dia tadi mendengar ucapanku?' batin Elisha panik.
Sedang Artem kini berjalan cepat mendekati Elisha, "Elisha..." ucapnya seraya berlutu di depan gadis pujaan hatinya itu. Tangannya terulur menggenggam erat jemari lentik Elisha, "...katakan lagi, kalimat itu" ucapnya dengan binar penuh harap.
Elisha menatap Artem rumit, oh tidak, ternyata Artem memang mendengar ucapannya. Ia harus bagaimana sekarang?
"Elisha..." ucap Artem mengelus wajah cantik itu lembut saat melihat raut keraguan disana. "...apa yang kau ragukan hm? Katakanlah Elisha, aku mohon" ucapnya lembut.
Elisha kalah, ia pun menuruti perasaannya seraya menutup matanya rapat, "aku mencintaimu Art-hmph"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, bibir itu sudah lebih dulu direnggut oleh Artem. Menciumnya dalam, seolah rasa yang selama ini dipendam akhirnya meledak terlepaskan.
Elisha yang awalnya terkejut, perlahan menerima dan membalas saluran perasaan yang Artem berikan.
Hingga akhirnya ciuman itu terlepas, Artem menatap Elisha penuh cinta, begitupun sebaliknya. "aku juga mencintaimu Elisha" ucapnya seraya memeluk tubuh kecil Elisha erat.
"sangat sangat mencintaimu" ucapnya Artem menenggelamkan wajahnya di ceruk leher putih Elisha.
Sedang sang empu nampak sedikit terganggu dengan perlakuannya, "mmhh"
Tanpa sadar Elisha melenguh pelan, namun Artem malah semakin menjadi-jadi.
"Artem... jangan disini" ucap Elisha dengan suara kecilnya.
Artem langsung menghentikan kegiatannya saat Elisha mengatakan 'jangan'. Ia menegapkan kembali punggung lebarnya dan menatap mata hitan Elisha, "apa aku boleh bermalam di rumahmu?" tanya Artem.
Lagi-lagi, entah apa yang merasukinya, Elisha mengangguk mengiyakan pertanyaan Artem. Mereka pun beranjak dari tempat itu, dan berjalan menuju rumah Elisha. Malam yang panjang jika harus diceritakan, tapi untuk pertama kalinya, mereka puas.
---::---
Beberapa bulan kemudian,
"Vincent, kurasa sudah waktunya bagiku untuk menikah" ucap Artem yang tengah duduk di kursi kerjanya menghadap ke luar jendela.
Vincent yang sedang membereskan dokumen-dokumen kerajaan yang sudah selesai ditanda-tangani pun seketika membeku, inikah akhirnya? Ia begitu mencintai Artem, ia ingin dimiliki Artem.
Namun dengan cepat Vincent menggeleng, ia tidak boleh egois. Mereka berdua tidak akan bisa bersatu, masa depan kerajaan Casentine lebih penting daripada perasaan pribadinya.
Vincent kemudian memasang senyum yang biasanya ia pakai, "baguslah, saya juga berpikir demikian Yang Mulia. Apa anda akan segera melamarnya?" tanya Vincent. Ya, ia memang sudah mengetahui tentang hubungan Artem dan Elisha.
Artem berdiri dari duduknya, "benar, malam ini aku akan melamarnya dan membuka identitas asliku" ucap Artem dengan wajah seriusnya.
grep
Artem membelalak kaget saat Vincent tiba-tiba memeluknya erat. "Vi-vincent- apa yang-"
"maaf" suara parau Vincent memotong ucapan Artem, "saya hanya terlalu senang karena sahabat kecil saya yang dulu mirip monyet sekarang akan menikah" ucapnya seraya melepas pelukan itu perlahan.
"hahahahaha apa-apaan kau ini? tiba-tiba memelukku begitu, dasar" ucap Artem tergelak oleh ucapan Vincent.
Mereka pun berlanjut bertukar gurauan, Vincent ingin menghabiskan masa bahagianya. Ia sudah ikhlas, benar-benar ikhlas. Apapun asalkan Artem bahagia.
'ini semua adalah yang terbaik'
---::---
Sedangkan di tempat lain, di sebuah klinik kecil di daerah pedesaan. Seorang gadis tengah memasang wajah terkejutnya di depan sang dokter yang adalah temannya.
"apa? aku hamil?" tanya Elisha dengan wajah tidak percaya.
Gadis berambut coklat digelung ke atas dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya itu mengangguk, "benar, dan ini sudah memasukki minggu ke-empat" ucapnya.
Elisha menunduk terdiam, 'aku hamil? Artem sialan, tapi kan kami melakukan itu juga atas keinginanku. Aku tidak tahu harus apa, aku senang tapi juga sedih dan kecewa pada diriku sendiri. Dan bagaimana caranya aku-"
"Elisha"
Sang empunya nama mendongak saat namanya dipanggil, "eh? iya? Kau mengatakan sesuatu Sofie?" tanya Elisha.
Dengan wajah datarnya Sofie bertanya, "aku tidak peduli siapa ayah dari bayi ini, tapi yang jelas kau harus memberitahukan kehamilanmu ini padanya" ucap Sofie.
Elisha menunduk dengan ekspresi rumitnya, dan itu berhasil membuat Sofie menghela nafasnya pelan.
"hei, apa lelaki itu adalah lelaki yang bertanggung jawab?" tanya Sofie.
Elisha mengangguk, Artem adalah lelaki terbaik yang pernah ia temui. Bahkan tidak jarang ia diperlakukan selayaknya seorang bangsawan oleh Artem, kadang Elisha merasa bahwa Artem bukanlah rakyat biasa.
"kalau begitu ia pasti akan menerimamu dan bayi kalian" ucap Sofie yakin.
Elisha menatap sahabat kecilnya itu dengan binar haru, tangannya terulur mengelus tangan Sofie. "terima kasih banyak Sofie, entah apa yang bisa kulakukan tanpa dirimu" ucapnya tulus.
Sofie tersenyum kecil, "tidak ada, jadikan ini hutang budimu. Dengan begitu pertemanan kita akan berlanjut" ucapnya seraya berdiri dan membereskan meja kerjanya karena hari sudah sore dan ia ingin menutup klinik. 'lagipula aku tidak mungkin memintamu untuk membalas perasaanku' batin Sofie.
"kalau begitu aku pulang dulu ya Sofie, jaga dirimu" ucap Elisha seraya melangkah keluar dari klinik itu.
Sofie hanya tersenyum memandang kepergian Elisha, sekian detik kemudian ia menunduk sendu. "ya, kalau aku sakit siapa yang akan mengobati gadis ceroboh sepertimu" lirihnya seraya beringsut terduduk di lantai, kedua tangannya terangkat menutup wajahnya. Ia menangisi perasaannya yang tak akan terbalas sampai kapanpun. Selamanya.
---::---
Malam yang ramai seperti biasa, para pedagang kaki lima mulai menjajakan barang dagangan mereka, Pemain musik dan penari jalanan pun berlomba menunjukan bakat mereka, semua orang nampak menikmati suasana malam itu seperti biasa. Namun lelaki satu ini nampak lebih bahagia dari mereka semua, Artem.
Tentu, ia lebih bahagia. Karena malam ini, ia akan melamar sang kekasih hati dan memperisterinya. Ah ia sudah membayangkan masa-masa indah bersama Elisha di istana, bermain di taman bersama anak-anak mereka. Mengajari anaknya berpedang, kalau-kalau ia mendapatkan putera. Memanjakan puterinya, juga memanjakan Elisha. Artem tidak sabar.
Berbeda dengan Artem yang bersemangat, Elisha berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya seraya menggigit kukunya gelisah.
tok tok tok
"Elisha apa kau di dalam?"
Elisha terperanjat kaget saat pintu rumahnya diketuk dan suara familiar itu terdengar. Artem sudah datang.
"i-iya sebentar" ucapnya, tangannya terulur perlahan membukakan pintu itu, menampilkan Artem yang datang dengan senyuman cerahnya seperti biasa. "selamat malam cantik" sapanya.
Elisha membalas senyuman Artem dengan senyuman manisnya ditambah dengan keringat dingin sebesar bulir jagung, "malam, silahkan masuk" ucapnya memersilahkan Artem masuk ke dalam rumahnya.
Artem masuk ke dalam rumah sederhana itu, melihat raut tegang Elisha membuat Artem juga menjadi canggung. Ia jadi takut jika sesuatu yang buruk terjadi.
"silahkan duduk, aku akan membuatkan teh" ucap Elisha memersilahkan Artem duduk di kursi yang ada di ruang itu. Ia berbalik hendak menuju dapur untuk membuatkan teh, namun tangan bersar Artem menahan lengannya. "Elisha, aku tidak haus. Duduklah bersamaku" ucapnya.
Masih dengan wajah tegangnya, Elisha menurut dan duduk di samping Artem. Sedang lelaki tampan itu menatap Elisha dengan tatapan penuh cinta dan kekhawatiran, ia tahu pasti ada sesuatu yang ingin Elisha katakan.
Setelah Elisha duduk, tangan Artem terulur menggenggam tangan putih Elisha sedang tangan yang lain terangkat menyelipkan anak rambut hitam itu ke belakang telinga sang empu. "ada apa hm? Aku tahu kau sedang gelisah, ceritakan saja padaku" ucapnya.
Elisha menatap lembut mata hijau Artem, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Artem..." panggilnya.
Dengan senyum kecil dan tatapan penuh kasih Artem menjawab, "ya, sayang?" ucapnya lembut.
"apa kau mencintaiku?" tanya Elisha dengan tatapan keraguan.
Artem terkekeh kecil, "pertanyaan apa itu? Kau adalah wanita yang paling aku cintai di dunia ini" ucapnya.
"kalau begitu, apa kau tidak keberatan jika ada orang lain di antara kita berdua?" tanya Elisha lagi.
Seketika senyum Artem luntur, "apa maksudmu Elisha? Apa selama ini bukan hanya aku saja yang ada di hatimu?" tanya Artem dengan wajah memelasnya.
Elisha menggeleng, "hanya dirimu, tapi siang tadi cintaku sudah terbagi" ucapnya menunduk dengan wajah seolah merasa bersalah.
Baik, Artem panik sekarang. "siapa? siapa lelaki itu Elisha?" tanya Artem.
"sebenarnya aku belum tahu dia lelaki atau perempuan" ucap Elisha menghindari tatapan Artem. Membuat sang empu menatapnya bingung dan gelisah.
"Elisha aku mohon, katakanlah dengan jelas. Jangan buat aku-"
"aku hamil Artem"
Seketika Artem membeku dengan wajah terkejutnya. Dan itu berhasil membuat Elisha terkikik geli, "fufufu hei apa-apaan wajahmu itu?" tanya Elisha seraya melambaikan kedua tangannya di depan wajah Artem.
Artem pun langsung mengondisikan ekspresinya kembali, "k-kau kau hamil? Anakku? Anak kita?" tanya Artem memastikan.
Elisha menatapnya dengan senyum manis, "tentu saja, siapa lagi yang datang tengah malam hanya karena ingin 'itu'?" ucapnya sarkastik.
grep
Elisha membelalak kaget saat tangan besar Artem memeluknya erat, "aku... tidak pernah sebahagia ini" ucapnya.
Ekspresi Elisha melunak, "aku juga" ucapnya.
Pelukan itu perlahan terlepas, Artem menggenggan kedua tangan Elisha erat seraya menatapnya serius, "Elisha, sebenarnya aku ingin melamarmu malam ini" ucapnya.
Elisha hanya diam, apa maksud dari ucapan Artem itu? Kenapa ia seolah berkata ada hal yang menghalangi lamarannya? Apa karena bayi ini?
"tapi sebelum itu, aku ingin mengakui sesuatu" ucap Artem menunduk ragu.
Elisha semakin takut, mengakui apa? Apa jangan-jangan Artem sudah menikah dan berkeluarga? Apa sebenarnya Artem bukan manusia? Jangan katakan bahwa ia adalah bangsawan.
"sebenarnya aku..." Artem mendongak menatap Elisha tepat di matanya, mata hijau Artem perlahan berubah menjadi kuning keemasan dengan bentuk yang menyerupai mata hewan buas. Dan itu berhasil membuat Elisha membelalak kaget.