"KAU?!" serunya seraya beranjak berdiri dari tempat ia duduk dan melangkah mundur menjauhi Artem. Ia menatap Artem tidak percaya, ia tahu mata emas itu, bangsawan tertinggi di kerajaan ini, sang raja itu sendiri. Dan rahasia sebesar ini dirahasiakan darinya?
"Elisha, maafkan aku. Aku mohon dengarkan-"
"kenapa..."
Ucapan Artem terhenti saat mendengar isakan kecil dan kekasihnya, ia mendongak menatap Elisha yang wajahnya sudah dibanjiri air mata.
"kenapa kau merahasiakan ini? Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Elisha dengan nada kecewa.
"Eli, bukan maksudku menyembunyikan identitas asliku darimu. Aku hanya menginginkan cara yang tepat untuk mendekatimu. Aku tulus mencintaimu Eli" ucap Artem melangkah maju, mencoba mendekati Elisha.
"ya, dan itu sebabnya aku membenci kalian para bangsawan. Kalian selalu saja seenaknya, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan" ucap Elisha yang berjalan mundur menghindari Artem.
"Elisha, bukan begitu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, aku selalu memikirkanmu setiap saat bahkan di dalam mimpiku. Aku gila karenamu Elisha" ucapnya.
bruk
Elisha menatap kaget pada Artem yang tiba-tiba bersujud di kakinya. "aku mohon, maafkan aku. Aku tahu berbohong di dalam hubungan tidak akan berakhir baik, tapi aku tidak memiliki cara lain. Aku benar-benar mencintaimu. Aku putus asa" ucapnya.
Elisha menatap rumit tubuh tegap yang kini bersujud di kakinya, ia sadar akan ketulusan Artem. Tapi kenapa rasanya berat sekali saat mengetahui bahwa dia adalah sang raja?
Elisha menghapus air matanya, "berdiri" ucapnya.
"tidak, sebelum kau memaafkanku" ucap Artem masih setia di posisi bersujudnya.
"hamba mohon tegapkan kembali punggung anda Yang Mulia" ucap Elisha dengan nada dingin.
Artem bergeming, ia tidak pernah mendengar Elisha berbicara dengan nada yang seperti itu. Ah ia semakin takut, bagaimana kalau Elisha membencinya?
Karena tidak ingin memperburuk keadaan, Artem pun menurut dan berdiri dari sujudnya. Ia menunduk tidak berani menatap Elisha tepat di matanya, menghadapi ribuan pasukan perang tidak semenakutkan ini.
Elisha menatap Artem datar, namun kekecewaan tercetak jelas di wajahnya. "apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Elisha.
Artem menjawab dengan sesekali melirik, "melamarmu" ucapnya.
Masih dengan ekspresi yang sama, Elisha menjawab "dan apa yang akan kau lakukan jika aku menerima lamaranmu?" tanyanya lagi.
Dengan cepat Artem mendongak menatap Elisha penuh harap, "aku akan membahagiakanmu, membahagiakan anak kita nanti, kau akan menjadi ratu kerajaan ini" ucapnya.
"aku menolak"
Artem membelalak dengan pupil matanya yang mengecil, "a-apa? Kenapa Elisha? Kau tidak mencintaiku lagi? Setidaknya ini demi anak kita" ucap Artem.
Elisha memalingkan pandangannya, "aku tidak mau menjadi ratu, aku tidak ingin tinggal di istana dengan segudang kemewahan. Aku hanya ingin tinggal di rumah sederhana ini, bersama suami dan anakku. Hidup sederhana dan bahagia" ucapnya lesu.
Artem yang sudah putus asa pun menjawab, "baiklah, aku tidak akan membawamu ke istana dan menobatkanmu menjadi ratu. Kita akan membangun rumah kita sendiri nanti, aku akan berkunjung setiap malam untukmu. Kita akan menikah secara diam-diam, apa itu yang kau mau?" tanya Artem. Ia tidak peduli lagi, persetan dengan kerajaan ini. Ia lebih takut kehilangan Elisha dan anaknya.
Elisha menatap Artem rumit, "aku yakin semua ini tidak semudah itu" ucapnya.
Artem mengangguk, "iya, kau benar. Tapi aku tidak peduli, akan kulakukan semuanya demi dirimu Elisha. Maka dari itu aku mohon, jangan tinggalkan aku. Apa kau masih mencintaiku?" tanya Artem dengan nada putus asa.
Elisha menatap Artem rumit kemudian mengalihkan pandangannya, "aku mencintai Artem, bukan raja kerajaan Casentine. Aku mencintai lelaki menyebalkan yang setiap hari menggangguku hanya untuk sekedar mengobrol, aku mencintai lelaki gila yang rela mealakukan apapun demi diriku" ucapnya seraya perlahan menatap Artem. "aku tidak mengenal siapa Yang Mulia raja itu, aku hanya mengenal Artem, lelaki menyebalkan" ucapnya.
Artem tersenyum dengan wajah rumitnya, perlahan ia mendekati Elisha yang tidak lagi menjauhinya. Tangannya terulur meraih tangan putih lentik itu, mata emasnya menatap Elisha penuh cinta. "kalau begitu, aku akan menikahimu sebagai Artem, bukan Yang Mulia raja" ucapnya lembut.
Elisha pun membalas senyuman Artem kemudian mengangguk mengiyakan lamarannya. Artem yang bahagia karena lamarannya diterima pun langsung membawa Elisha ke dalam pelukannya.
Dan begitulah, setelah berbagai persiapan, mereka berdua pergi ke kuil untuk melangsungkan pernikahan. Dengan Vincent dan Sofie yang menjadi saksi atas janji suci di antara keduanya.
Setelah sah menjadi pasangan suami isteri, Artem membangun rumah sederhana di pinggiran hutam untuk dirinya dan Elisha tinggal. Awalnya ia hendak membangun rumah yang agak mewah namun Elisha menolak, alangkah mencoloknya rumah mewah di pinggir hutan itu nanti.
Elisha tinggal disana ditemani oleh Sofie karena ia sedang hamil dan butuh penjagaan, dan setiap malam Artem akan berkunjung ke rumah itu dan menemani Elisha sampai pagi menjelang.
Hingga sembilan bulan kemudian, Elisha melahirkan. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang memiliki surai hitam gelap seperti ibunya, dan mata keemasan yang merupakan milik sang ayah. Orang bodoh sekalipun akan menyadari bahwa anak ini adalah putera dari sang raja.
"Leonhardt Rexillian Warrick Casentine" nama yang Artem sebutkan saat pertama kali menggendong puteranya. Dan di saat itu juga Elisha menyadari, bahwa ia tidak bisa selamanya memeluk anak ini. Bagaimanapun juga, puteranya adalah pangeran pertama kerajaan Casentine.
---::---
Sebelas kemudian,
"Elisha..."
"hm?" jawab Elisha yang sedang menyelimuti puteranya yang sedang tertidur. Kemudian berjalan menuju ranjang tempat ia dan suaminya tidur. Mereka memang tidur di kamar yang sama dan kasur yang berbeda.
Ia menatap isterinya seraya membelai wajah putih mulus itu, "aku tau kau akan menjawab apa, tapi aku tidak akan menyerah. Kapan kau mau ke istana dan menjadi ratuku?" tanya Artem.
Elisha mendengus, "kalau sudah tau jawabannya kenapa masih bertanya?" tanya Elisha seraya menyamankan posisi tidurnya.
Artem mengendikkan bahunya, "mungkin saja jawabanmu berubah" ucap Artem.
Elisha kembali mendengus seraya menggeleng pelan, ia menatap langit-langit kamar mereka dengan mata indahnya. "jawabanku masih sama Artem" ucapnya.
"kalau begitu, biarkan anak kita menjadi putera mahkota. Bagaimanapun juga dia adalah anakku Elisha, aku bisa bilang kalau dia adalah anak yang aku selamatkan atau semacamnya. Mereka tidak akan berani menentang ucapaku" ucap Artem dengan raut seriusnya.
Tatapan Elisha seketika berubah. Artem benar, anak ini adalah puteranya dan pangeran pertama kerajaan ini. Elisha sadar bahwa ia tidak bisa selamanya menahan Rex, bagaimanapun juga Rex memiliki hak atas takhta raja selanjutnya. Namun bohong jika Elisha tidak merasa keberatan atas hal ini.
Ia tersenyum lembut, "baiklah..." ucapnya. Ya, bagaimanapun juga Elisha tidak boleh menahan hak puteranya. Ia beralih menatap sang suami, "tapi kau baru boleh membawanya saat ia berusia dua belas tahun" ucapnya.
Artem tersenyum lega, "baiklah..." ucapnya seraya membawa Elisha dan sang putera ke dalam pelukannya. "aku tidak akan meninggalkan kalian"
---::---
Namun langit tidak selamanya cerah berawan. Selalu ada hujan dan badai yang akan menerjang bumi ini, begitupun kehidupan.
"apa yang dia lakukan disini? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku menolak lamarannya?"
Vincent yang tengah berdiri di hadapan rajanya itu hanya menunduk, "Yang Mulia, maaf tapi dia mengetahui tentang isteri anda" ucapnya.
Artem membelalak kaget, seketika rautnya mengeras dan tatapannya menajam. "suruh dia masuk" ucapnya dingin.
Vincent pun membungkuk, "baik Yang Mulia" ucapnya kemudian berjalan keluar dari ruang kerja Artem.
Tak lama kemudian, Vincent kembali dengan seorang wanita bersurai semerah mawar dan iris biru terang yang berpenampilan begitu mewah, puteri dari kerajaan Lebania, Ingrid.
Wanita itu mebungkuk hormat seraya melebarkan kedua sisi gaunnya, " saya memberi salam pada Yang Mulia raja Casentine" ucapnya anggun.
Artem menatap Ingrid dingin, "duduk" ucapnya seraya mengambil posisi duduk di sofa ruang kerjanya.
Ingrid pun duduk berhadapan dengan Artem, ia menatap raja tampan itu dengan senyuman ular di balik kipasnya.
"aku rasa tidak perlu berbasa-basi, apa maumu?" tanya Artem menatap wanita itu tidak suka.
Ingrid itu tersenyum manis, "saya ingin anda menjadikan saya ratu kerajaan ini" ucapnya.
"tidak akan" jawab Artem singkat.
Ingrid menaikkan sebelah alisnya, "oh ya?". Ia menyeringai seraya menyandarkan punggungnya, "kalau begitu aku akan bocorkan berita tentang raja Casentine yang menikahi seorang gadis biasa secara diam-diam" ucapnya.
Artem hanya diam menatap Ingrid tajam, ia mencoba untuk tenang. "darimana kau dapatkan informasi itu?" tanya Artem.
Dengan senyuman miringnya, Ingrid menjawab. "kusarankan untukmu menikah di tempat lain jika ingin diam-diam begitu. Orang-orang disini terlalu mengenal wajahmu" ucapnya.
Artem mengeraskan rahangnya seraya mengepalkan tangannya kuat, 'orang-orang kuil itu, beraninya mereka. Padahal mereka seharusnya tidak berhak ikut campur masalah kerajaan' batinnya.
"apa hanya itu?" tanya Artem.
Ingrid tersenyum miring, "aku juga tahu bahwa kau membuatkannya rumah di pinggir hutan, kau pergi mengunjunginya setiap malam" ucapnya.
Artem kembali terdiam, sepertinya Ingrid tidak mengetahui soal puteranya. Tapi ia masih mengetahui mengenai Elisha dan rumahnya, bisa gawat jika-
"hei"
Artem mendongak menatap mata biru wanita licik di depannya.
Seringai Ingrid semakin melebar, "aku sudah mengirim lima puluh tentara bayangan untuk menyerang rumah wanita itu, dan mereka pasti sudah dekat dengan tujuan" ucapnya.
Artem membelalak seraya sontak berdiri, "kau gila! hentikan mereka atau-"
"atau apa?" tanya Ingrid seraya ikut berdiri dan menatap mata Artem, "kau akan membunuhku? Dan membuat rumor beredar mengenai raja Casentine yang membunuh puteri kerajaan Lebania?" tanya Ingrid lagi.
Artem menggertakkan giginya, "baiklah, apa maumu?" tanyanya.
Ingrid tersenyum penuh kemenangan, "kan sudah kukatakan dari awal, aku ingin menjadi ratu kerajaan Casentine" ucapnya.
"baiklah, kau akan menjadi ratu kerajaan ini. Kita akan menikah secepatnya, jadi hentikan tentaramu itu sekarang!" seru Artem.
Ingrid tersenyum iblis, "oh Artem..." ucap Ingrid seraya mengulurkan tangannya, membelai rahang tegas Artem dengan ujung kipasnya. "sayangnya aku ingin menjadi satu-satunya"
Seketika Artem membelalak, dengan cepat ia berlari keluar dari ruang kerjanya. "Vincent, siapkan kudaku!" serunya pada Vincent yang berdiri di depan pintu.
Vincent yang kebingungan tentang apa yang terjadi pun hanya menurut, "baik Yang Mulia" ucapnya.