Matahari mulai menaiki tahtanya, bersinar menerangi dunia immortal yang penuh akan misteri dan keajaiban. Jauh di sebuah ruangan dengan beberapa pilar berlapis emas, seorang pria berjubah pangeran mahkota tengah duduk di kelilingi beberapa orang yang sedari tadi memandang nya tidak percaya.
Berbagai tatapan intimidasi di lontarkan untuknya namun tak berpengaruh sama sekali terhadap pria itu. Tatapannya datar dengan aura gelap dan mencengkam. Manik violet nya menajam saat pria paruh baya yang terlihat masih tampan dengan sebuah mahkota di kepalanya berbicara.
“Azreal, mengapa kau membawa pengasuh pangeran Ell?!” Suara penuh wibawa dan intimidasi itu terlontar dari Raja Ladwig. Penguasa clan NECROMANCER.
Seluruh penjuru Castle terkejut saat Putra Mahkota NECROMANCER menggendong seorang gadis yang tertidur dalam dekapannya. Berita itu semakin menyebar saat gadis tersebut adalah seorang pengasuh putra mahkota Witch.
Tentu mereka semua sangat mengenali Carrie karena gadis itu selalu mendampingi Queen Keyra kemanapun istri penguasa Witch itu pergi. Saat mereka mempunyai seorang Putra, Carrie pula di percaya untuk menjaga berlian Castle Witch itu. Jadi dapat di simpulkan jika Carrie adalah seseorang yang sangat di percayai dan sangat penting bagi Keyra.
“Dia mate ku.”
“BHAHAHAHAHAHA! Mana mungkin, mustahil sekali HAHAHAHA” Tawa menggelegar seorang pria dengan jubah pangeran berwarna perak itu menggema.
Lelucon kakak nya sungguh membuat Pangeran Louwis merasa geli dan tak bisa menahan tawa nya. Louwis adalah putra kedua dari Raja Ladwig, adik Azreal.
Pria tampan itu memiliki paras yang sangat jauh berbeda dengan kakak maupun Ayah nya Raja Ladwig, Louwis tampak lebih imut dengan kulit putih juga mata nya yang sipit, hidung mancung, alis tebal dan rahang yang kokoh. Manik hitam nya selalu memancarkan keceriaan, dan jangan lupakan kedua lesung pipi menambah kesan manis prince termuda clan NECROMANCER itu.
Kemampuan Louwis tak dapat di ragukan lagi, darah ibunya yang seorang Fairy dan Ayahnya yang seorang Witch NECROMANCER mengalir deras dalam tubuh Louwis, ia adalah salah satu pangeran terhebat dalam memainkan pedang dan salah satu murid terbaik John, Panglima Castle Witch.
“Louwis.”
Peringatan lembut itu membuat Louwis menutup mulut nya menggunakan tangan, ia benar-benar tak bisa menahan tawa.
Ratu Daishy menghela nafas melihat tingkah putra nya itu. Ia tak habis fikir mengapa di saat serius Louwis masih sempat tertawa keras seperti itu, tak terpengaruh dengan tatapan tajam ayah juga kakak nya.
“Kau serius nak?” Tanya Ratu Daishy menatap putra pertama nya dengan sendu.
“Aku tidak akan mengulang ucapan ku, ibu.” Tukas Azreal menatap datar satu-satu nya perempuan yang sangat ia sayangi.
Pelukan hangat seorang ibu Azreal rasakan, ia masih duduk tenang di tempat nya tanpa berniat membalas pelukan Daishy, “Selamat nak.”
Azreal hanya mengangguk menjawab nya, “Jadi ini serius?” celetuk Louwis terkejut.
Tak ada yang menanggapi pertanyaan Louwis membuat pangeran kedua itu mencibir pelan.
Ratu Daishy mengusap paras tampan anaknya penuh kasih sayang, “Berjanjilah untuk menjaga nya, sayang. Lupakan kejadian dua puluh tahun yang lalu” pinta Daishy penuh permohonan.
Tubuh Azreal menegang, begitu pula dengan Raja Ladwig dan Louwis yang mendengar permohonan Daishy, mereka tentu mengetahui apa yang di maksud Ratu NECROMANCER itu.
Azreal menepis pelan tangan Daishy dari wajah nya, manik violet Azreal menajam dengan rahang mengeras, aura pria itu pun semakin gelap dan mengancam. “Aku tidak bisa!” tukas nya tajam kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu dengan tangan mengepal erat.
“Ibu, bagaimana bisa kakak mendapat mate, lagi?” Louwis memandang kosong ke depan, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kedepan nantinya.
Daishy menggeleng lemah, ia berhambur ke dalam dekapan Raja Ladwig yang setia menengkan istrinya itu. “Jangan khawatir sayang, kita hanya bisa berharap jika Azreal tidak mengulang kejadian dua puluh tahun yang lalu” ucap Raja Ladwig seperti menerawang kejadian yang sangat buruk pada saat itu.
Louwis mengusap wajahnya kasar.
“Sial! Aku harus menjaga nya”
“Ya, kau harus menjaga nya”
Louwis tersentak saat suara bariton seseorang menggema di dalam kepala nya, ia bahkan memegangi kepalanya sendiri.
“Hellow, tadi sepertinya aku membatin, tetapi mengapa ada orang yang menjawabnya?”
“Bodoh!”
“Woaahh, Panglima! Apa itu kau? Bagaimana bisa kau masuk fikiran ku?”
“Itu tidak penting, teruskan niat mu untuk menjaga Carrie. Kau harus tau bahwa maid itu adalah sahabat Queen Keyra dan Mate ku Anne yang sangat mereka sayangi. Dan jangan lupakan bahwa pangeran Ell juga sangat menyayangi maid itu”
“Baik Panglima”
****
Di sebuah kamar dengan nuansa hitam gelap dengan harum maskulin yang begitu terasa terdapat ranjang King-size yang begitu besar jika hanya di tiduri seorang gadis kecil.
Tubuh nya menggeliat saat hembusan angin menerpa wajah nya, gadis itu mengucek kedua mata menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia merasa tubuhnya sangat fress setelah tertidur? Tunggu!
Carrie mengedarkan pandangannya bingung, kamar bercat hitam abu-abu dengan beberapa lukisan abstrak dan sebuah lemari buku yang tersusun rapi. Kamar ini sama luasnya dengan kamar Ell di Castle Witch, sayangnya kamar dengan nuansa maskulin ini terasa lebih hampa dan kosong.
Gadis itu menghela nafas, tentu ia sadar bahwa saat ini sedang di kamar seorang prince Azreal. Lalu di mana lagi? Karena lelah menangis tanpa sadar Carrie terlelap dalam dekapan pria tampan dengan manik violet itu.
“Sepertinya tidur mu sangat nyenyak.”
Kalimat dengan nada menyindir itu sontak membuat Carrie menoleh ke arah sumber suara, ia menatap punggung pria yang tengah berdiri di balkon membelakangi diri nya.
Pantas saja saat Carrie tertidur ia merasa angin menerpa wajah nya hingga terusik, ternyata berasal dari pintu balkon. Azreal berbalik membuat Carrie langsung menundukkan wajah enggan menatap manik violet tajam itu.
Langkah Azreal mendekat penuh intimidasi, tubuh Carrie tak dapat merasakan apapun. Keringat dingin membanjiri pelipis gadis dengan surai panjang itu, ia belum terbiasa dengan kehadiran Azreal yang tiba-tiba selalu mengancam nya.
Carrie hampir saja memekik saat Azreal menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kepala berada di pangkuan Carrie. Jantung gadis itu berdetak berkali-kali lipat dari biasanya saat manik hazel nya bertubrukan dengan manik violet milik Azreal yang begitu bersinar di terpa sinar mentari, perasaan Carrie menjadi tak karuan saat bibir putra mahkota itu melengkung membentuk seringai menakutkan.
Carrie menelan salivannya kasar saat tangan Azreal menggenggam tangannya, mengarahkan ke atas kepala pria tampan itu sehingga Carrie dapat merasakan halus nya surai Azreal yang sangat tebal dan harum.
“T-tuan, apa yang kau l-lakukan?” Tanya Carrie gugup.
“Tidak ada yang gratis di dunia ini, sayang.”
Azreal menuntun tangan Carrie untuk membelai surai nya dengan pelan, “Kau sudah tertidur di ranjang ku sangat lama. Dan kau harus membayar nya dengan ini.” Jelas Azreal menyeringai.
Carrie termanggu, ia tak menyangka Azreal akan mengatakan itu. Dengan sabar Carrie menuruti permintaan Azreal untuk membelai surai pria itu, setidaknya Ia sedikit lega karena Azreal tak menyakitinya seperti sebelumnya.
Manik pria itu terpejam, membuat Carrie dapat mengagumi ciptaan tuhan yang begitu indah di pangkuannya. Bulu mata lentik, alis tebal, rahang kokoh dengan raut tenang seperti ini membuat Azreal jauh lebih tampan dari pada saat pria itu terjaga.
Ia terus mengelus surai Azreal dengan lembut, pria ini mengingatkan Carrie saat Ell ingin tidur. Pangeran kecil itu selalu meminta Carrie atau Keyra untuk membelai surainya sebelum tidur. Seulas senyum tipis terbit di bibir Carrie, ia tak bisa membayangkan Ell saat ini sedang apa. Apa pria kecil itu baik-baik saja? Carrie hanya bisa berharap.
Carrie menegang saat Azreal memeluk pinggangnya, menelusupkan wajah tampan itu lebih dalam ke arah perut nya. Gadis itu meringis kecil saat kuku tajam Azreal menancap di pinggang nya, pria itu terlalu kuat memeluk pinggang Carrie.
Ia tau jika Azreal masih terlelap terlihat dari nafas pria itu yang teratur, tetapi mengapa Azreal selalu menyakitinya meski saat tertidur?
“Jalang sialan!”
“Akh!”
Azreal langsung mendudukkan tubuhnya, ia mengusap wajahnya kasar. Gadis sialan itu kembali datang dalam mimpi, ringisan seseorang membuat Azreal tersentak.
Ia menatap Carrie yang tengah merintih sambil memegang pinggang, Azreal dapat melihat jelas pakaian Carrie sobek dan mengeluarkan darah.
“Sial, apa aku yang melakukannya?”
Azreal hendak mendekati gadis itu, Namun Carrie langsung beringsut menjauh dengan tubuh bergetar. Hal itu membuat emosi Azreal bangkit, ia menyetak tangan Carrie hingga mengikis jarak antara mereka.
“T-tuan, ini s-sakit...hiks..hiks.”
“Buka pakaian mu.”
Manik hazel Carrie terbelalak, ia memeluk dress nya kuat-kuat hendak menjauh namun Azreal menahan tangannya. “Jangan berfikir macam-macam.” Bisik Azreal ketus.
“T-Tapi Tapi.”
Srekk!
Carrie menatap miris dress-nya yang terkoyak di atas lantai akibat ulah Azreal, wajah gadis itu memerah menahan malu saat Azreal menatap nya. Saat ini Carrie hanya memakai bra dan celana pendek, ia langsung menutup tubuhnya dengan bantal agar terhindar dari tatapan liar Azreal.
Pria itu beranjak, memasuki sebuah pintu yang Carrie tidak ketahui isi di dalamnya. Perasaan was-was memenuhi perasaan gadis itu.
Ceklek.
Pintu itu kembali terbuka menampilkan Azreal yang membawa sebuah kotak dengan tatapan datar. Ia kembali menaiki ranjang lalu mendekati Carrie.
“Singkirkan benda itu.” Ketus Azreal saat Carrie memeluk erat sebuah bantal.
“T-tidak mau. T-tuan aku mohon.”
Azreal berdecak, ia merebut paksa bantal itu lalu membuangnya sembarangan. Manik violet Azreal menajam saat darah Carrie memenuhi ranjang nya. Ia menatap luka panjang di pinggang putih gadis itu.
Tangan Azreal mengambil sebuah kapas dan obat merah di dalam kotak obat yang baru saja ia ambil. Azreal menundukkan wajah agar dapat melihat luka Carrie dengan jelas, ia sedikit berdehem mencoba tetap fokus pada luka yang mungkin akibat ulah nya itu.
“Stttss...” Carrie sedikit bergerak saat Azreal menekan luka nya.
“Diam, atau kau tidak akan selamat hari ini.”
Carrie menahan nafas saat dingin dan perih yang berasal dari obat merah itu menyentuh luka di pinggangnya. Perasaan malu, sakit, dan marah bercampur menjadi satu saat ini. Ia hanya bisa diam memperhatikan Azreal yang dengan teliti membalut lukanya dengan perban.
Gadis itu menundukkan wajah saat Azreal mendongak, pria itu telah selesai dengan kegiatannya beberapa menit lalu, “Cepat pakai pakaian mu, sebelum aku berubah fikiran.” Bisik Azreal tepat di telinga Carrie membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Azreal mengecup sekilas pelipis Carrie kemudian berlalu dengan seringai yang menghiasi wajah nya.
****
Pada saat itu Carrie adalah seorang maid yang sangat tidak di hargai, kasta paling rendah di Castle adalah seorang maid. Namun, waktu ternyata cepat sekali berlalu. Dahulu ia merasa tidak mempunyai harga diri dan tidak pernah di anggap.
Namun, saat ia bertemu Keyra semua itu telah berubah. Ia merasa sangat di hargai dan diinginkan, seperti sekarang. Meskipun Azreal sering kali menyakitinya, namun maid dan penghuni Castle NECROMANCER sangat menghormati Carrie layaknya seorang putri.
Ia benar-benar tak menyangka akan berada di posisi seperti ini. Belum lagi seorang maid mengatakan bahwa nanti malam ia akan menghadiri makan malam bersama petinggi Castle NECROMANCER, mereka ingin mengenal Carrie secara langsung.
Itu adalah suatu kehormatan tersendiri bagi Carrie, ia merasa sangat senang hari ini. Setelah Azreal meninggalkannya beberapa jam lalu tak lama kemudian dua orang maid datang lalu mengatakan akan membantunya membersihkan diri untuk acara makan malam.
Tentunya Carrie sangat terkejut, ia takut jika para petinggi Castle ini tidak menerimanya karena ia hanya seorang pengasuh pangeran witch.
Sekali lagi Carrie mematut penampilan nya, ia merasa aneh. Carrie tidak terbiasa memakai gaun mewah yang sering di pakai Anne maupun Keyra, tetapi kedua maid itu mengatakan jika ia harus memakai nya jika tidak ingin Azreal mengamuk.
“Anda akan terlihat sempurna jika memakai sedikit make up, nona.”
Carrie menggeleng, maid itu terus membujuknya untuk memakai make up. Namun Carrie terus menolak karena ia tidak terbiasa akan hal itu, saat acara pernikahan Keyra saja ia terpaksa menggunakannya karena di paksa oleh Anne. Ia lebih menyukai wajah alami tidak memakai apapun.
“Emm, bolehkah aku berkeliling? Maksudku, aku baru pertama kali datang ke Castle ini.” Ucap Carrie pelan.
Kedua maid itu saling memandang, “Tentu nona. Tetapi kami akan menemani anda.”
Carrie tersenyum senang, dress merah dengan jubah hitam itu melekat indah di tubuhnya. Ia ingin melihat Castle NECROMANCER yang sering di bicarakan luasnya hampir sama dengan Castle King Renald.
“Aku ingin melihat taman Castle.”
Kedua maid itu mengangguk, mereka menuntun Carrie ke taman samping Castle yang terkenal sangat indah dengan berbagai bunga dan tanaman hias. Seluruh taman di Castle ini di rawat langsung oleh Ratu Daishy yang seorang Fairy flower di bantu clan Fairy lainnya.
Gadis itu menatap setiap lorong yang ia lewati, manik hazel nya berdecak kagum dengan arsitektur Castle yang estetik dan mempesona. Warna emas murni memenuhi setiap pilar Castle clan NECROMANCER itu.
Lukisan elemen-elemen abstrak terjejer rapi di setiap lorong koridor. Carrie tak habis fikir kamar Azreal begitu kosong dan hampa sedangkan di luar sini sangat indah dan menawan.
Carrie menghentikan langkah, maniknya berbinar kagum dengan hamparan taman bunga dengan berbagai spesies itu. Setelah berteman cukup lama dengan Keyra, Carrie juga jadi menyukai berbagai macam bunga. Bukan hanya elok di pandang mata, tetapi harum yang menguar dari tumbuhan indah itu membuat kita tenang dan merasa rileks.
“Indah sekali” gumam Carrie berjongkok menyentuh lembut rose pink yang tampak segar dan harum.
“Ratu kami yang merawat taman ini, nona.”
“Benarkah? Apa aku tidak masalah datang ke taman ini?” tanya Carrie ragu.
“Tidak masalah nona. Ratu Daishy membebaskan siapapun yang hendak melihat taman ini, yang terpenting mereka tidak merusaknya.” Jelas maid itu ikut senang saat melihat Carrie begitu bersemangat.
Bukan hanya rose pink yang berada di taman ini. Bunga viola, makro, lily, dan masih banyak lagi. Bunga-bunga itu tumbuh dengan sangat subur dan segar.
Senyum Carrie merekah, ia berjalan lebih dalam ke arah sebuah kursi yang berada di ujung taman. Namun baru beberapa langkah tubuh gadis itu membeku, senyum di bibirnya perlahan luntur saat menatap sebuah pohon besar nan rindang, bukan. Lebih tepat nya seorang pria yang sangat di kenalinya sedang b******u mesra dengan seorang wanita berambut blonde di bawah pohon tersebut.
Setetes air mata menetes membasahi pipi mulus Carrie. Ia meremas d**a nya yang terasa sesak saat manik hazel nya bertubrukkan dengan manik violet yang tampak penuh gairah itu.
Carrie menggeleng tidak percaya saat Azreal memilih mengabaikannya dan melanjutkan kegiatannya dengan wanita yang Carrie tidak ketahui itu.
Ia berlari, meninggalkan kedua maid yang terkejut akan tindakan Carrie itu. Ia tidak peduli, Carrie berlari sekencang mungkin tidak mampu melihat kejadian di depannya.
Hatinya hancur, ia masih bisa menerima jika Azreal menyakiti fisik nya. Tetapi mengapa Azreal juga harus melukai hati dengan menghianatinya?!
Carrie tidak menyangka Azreal sangat menjijikkan!