Gadis itu terus berlari dengan air mata membanjiri wajah putih nya, ia melewati koridor-koridor panjang, penampilannya tak seindah beberapa jam yang lalu. Hatinya hancur, ia mencoba mengabaikan perasaan sesak di d**a nya. Namun semua itu sia-sia, Carrie mengangkat gaunnya agar mudah berlari.
Alam seperti ikut merasakan kesedihan gadis itu, rintikan hujan mulai mengguyur dunia immortal di malam hari, di tambah gemuruh guntur menandakan cuaca sedang tidak baik saat ini.
Ia tak tau ingin pergi kemana, Carrie tidak menyangka Azreal akan setega itu menghianati ikatan yang Carrie anggap sangat suci, anugrah Moon goddes untuk penghuni immortal.
Kejadian Azreal b******u dengan wanita lain menampar Carrie sangat keras agar tidak terjatuh dalam perlakuan manis Azreal saat mengobati luka di pinggang nya.
Mengapa takdir ku seperti ini? Semua orang selalu menyakiti ku. Apa aku tidak pantas bahagia?” batin Carrie berteriak dengan isakan kencang.
Brukk!
“Astaga!”
Pria berjubah pangeran itu hampir saja terjungkal karena seseorang menabrak nya sangat keras. Ia menatap seorang gadis yang tampak merintih sambil memegangi pinggangnya sendiri. Louwis terbelalak saat mengenali gadis itu.
“Carrie?”
Carrie mendongak, ia kembali menundukkan wajah saat di hadapan nya sudah berdiri tegap pangeran kedua NECROMANCER.
“M-maaf tuan, saya tidak sengaja.”
Louwis menghiraukan ucapan Carrie, ia berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu. Louwis yakin jika Carrie akan menghadiri acara makan malam yang akan di selenggarakan ketika matahari terbenam.
Tetapi mengapa keadaan gadis itu terlihat mengenaskan dengan mata sembab dan hidung memerah? Belum lagi surai panjang Carrie sedikit berantakan juga jejak air mata bercampur keringat di wajah gadis itu seperti sedang lari maraton.
“Kau Carrie? Mate kakak ku?” Tanya Louwis memastikan.
Manik hazel Carrie bergerak gelisah, ia berusaha agar air mata nya tak keluar lagi saat mengingat Azreal “I-iya.”
“Woaahh!! Ternyata benar, Kau kakak ipar!!!” beo Louwis berjingkrak kegirangan. Pria itu langsung bersimpuh mensejajarkan tubuh nya dengan Carrie.
“Kau sangat berbeda jika menggunakan pakaian seperti ini, terlihat lebih cantik.” Oceh Louwis dengan senyum merekah, entah apa yang membuat Prince termuda clan NECROMANCER itu begitu senang bertemu Carrie.
“T-terima kasih, tuan.” Carrie mengigit bibir bawah saat nyeri di pinggang nya semakin menjadi-jadi.
“Jangan memanggilku seperti itu. Panggil aku Louwis, jangan membantah kakak ipar” decak pria itu mengerucutkan bibir nya saat Carrie ingin protes.
“Tunggu! Mengapa aku mencium bau darah di sini?
“Oh astaga! Apa kau terluka kakak ipar? Dimana? Dimana yang sakit?!”
Carrie meringis pelan, akibat terjatuh luka nya yang belum kering kembali terbuka hingga darah merembas ke luar perban, Di tambah pekikan menggelegar Louwis membuat kening gadis itu berdenyut sakit. Tidak perlu di tanya, cakaran Azreal sangat dalam mungkin butuh beberapa hari agar luka tersebut mengering.
“Darah! Kakak ipar pinggang mu berdarah! Astaga, Tabib!Tabib!”
“T-idak perlu.”
“Tapi..”
Ia mengerang tertahan membuat Louwis jadi panik sendiri, dengan cepat pria dengan wajah imut itu menggendong Carrie ala bridal style. Tentu saja hal tersebut membuat para maid dan pengawal Castle terkejut dengan tindakan berani Louwis.
“A-apa yang kau lakukan L-louwis.”
Louwis tak mengindahkan perkataan Carrie, ia tetap berjalan tanpa peduli dengan tatapan bingung maid maupun pengawal yang di lewatinya.
“Jangan membawa ku ke kamar prince Azreal.” Cicit Carrie saat tau kemana arah Louwis membawa nya.
Pria itu seketika menghentikan langkah, menatap gadis yang berada di gendongannya saat ini. Ia mengernyit bingung saat Carrie malah terisak pelan.
“Aku mohon Louwis, jangan membawa ku ke kamar Prince Azreal...hiks...hiks.”
Pria dengan manik hitam itu menghela nafas, ia tak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya sehingga Carrie tampak sangat kacau seperti ini. Namun, Louwis tetap menuruti permintaan gadis itu, kakinya berputar haluan untuk menuju salah satu kamar kosong di Castle.
“Buka pintu.” Pintu besar dengan cat abu-abu itu terbuka dengan sendiri nya.
Kamar itu tampak sangat kosong dan hanya terdapat sebuah ranjang abu-abu besar, kamar ini juga tak sebesar kamar Azreal.
Louwis meletakkan tubuh Carrie dengan perlahan di atas ranjang, terlihat gadis itu lebih bisa mengontrol rasa sakit nya. Tanpa di minta Louwis mendekatkan tubuh nya untuk mengambil salah satu bantal agar posisi Carrie lebih nyaman.
Namun itu semua berbanding terbalik dengan manik violet dari arah daun pintu yang menajam dengan rahang mengeras, Posisi Carrie dan Louwis terlihat seperti sepasang kekasih sedang b******u.
“Sialan!”
BUGH!
BUGH!
Carrie memekik saat Azreal menarik dan menghantam adik nya sendiri dengan membabi buta, Louwis tak tinggal diam. Pria itu langsung bangkit dan melayangkan satu bogeman mentah tepat di rahang kakak nya hingga Azreal terhuyung.
“Astaga, Kakak mengapa kau merusak wajah tampan ku! Baru saja aku ingin menyapa fans-fans ku di dunia manusia, tetapi karena ulah mu mungkin aku harus menunda nya! s**t!” oceh Louwis mengumpat sambil menepis setiap serangan Azreal.
“Pasti penggemar ku akan kecewa melihat luka ini, Akh!”
Hantaman keras di wajah Louwis membuat pria imut itu kembali terhempas ke lantai sangat keras. “BERANI NYA KAU MENYENTUH WANITA KU SIALAN!”
Louwis menatap miris tetesan darah dari hidung dan sudut bibir nya, ia bingung mengapa kakak nya begitu marah, kepalan tangan Azreal menguat dengan tatapan tajam membunuh.
“Aku benar-benar akan melenyapkan mu!!”
Aura Azreal terasa mengintimidasi dan begitu mengancam membuat Louwis bergidik ngeri, seketika ia memejamkan mata nya saat Azreal hendak melayangkan pukulan di wajah nya.
Namun, siapa sangka. Gadis lemah dengan wajah pucat itu menahan tangan Azreal dengan memegang nya sekuat tenaga sehingga tangan Putra mahkota itu menggantung di udara, meskipun rasa takut lebih mendominasi tetapi Carrie tidak ingin melihat orang yang telah membantu nya malah tersakiti.
“J-jangan t-tuan, aku mohon.”
Karena tidak merasakan apapun Louwis membuka kelopak mata nya. Ia menatap Carrie dan Azreal yang tengah saling memandang, tak ingin melewatkan kesempatan itu.
“IBU TOLONG!”
Louwis berlari meninggalkan kamar itu dengan berteriak kencang. Ia tak berani jika harus terkena semburan amarah kakak nya yang sangat menyeramkan tanpa tau sebab nya. Ia juga yakin, setidaknya Azreal tidak akan membunuh Carrie.
Brak!
Carrie merasakan tubuh nya remuk saat tangan besar Azreal mendorong nya hingga terjebab di lantai dingin, pria itu di selimuti kabut amarah sehingga buta akan bercak darah di pinggang Carrie.
“Gadis murahan! Apa yang kalian lakukan di kamar ini?!!” Bentak Azreal mencekik kuat rahang Carrie sehingga gadis itu mendonggak kesakitan.
“L-epas..”
Tidak memperdulikan rintihan Carrie, Azreal menyeret gadis itu untuk mengikuti langkahnya. “T-tuan. Kita akan k-kemana?” beberapa kali Carrie tersandung oleh kaki nya sendiri karena tak mampu mengimbangi langkah lebar Azreal.
Pria itu buta akan getaran di tubuh Carrie juga wajah pucat gadis itu, amarah Azreal telah menutupi semuanya. Ia menyeret Carrie ke belakang Castle NECROMANCER yang sangat luas, tak peduli pakaian mahal nya basah terkena guyuran hujan.
Perasaan Carrie mulai tak karuan saat Azreal berhenti dan melepas cekalan di tangannya. Deras nya hujan dengan matahari yang sudah tenggelam membuat angin mulai menusuk kulit.
Tubuh Carrie semakin lama semakin basah akibat guyuran hujan di malam hari yang gelap ini. Azreal mengusap wajah nya kasar, meskipun surai nya tampak basah ketampanan pria itu justru berkali kali lipat. Manik violet tajam nya begitu bersinar di malam hari.
“Tetap berdiam di sini, jangan bergerak sedikitpun sebelum aku kembali!”
“T-tapi aku takut.”
“Ini adalah hukuman untuk mu.”tukas Azreal datar sambil berlalu tanpa memperdulikan tubuh Carrie yang telah basah kuyub.
Dingin..
Meja makan panjang dengan tungku perapian di ujung ruangan tampak sudah diisi oleh beberpa orang, lilin-lilin dan berbagai hidangan menggugah selera tersusun rapi di atas meja makan.
Semua tampak menunggu seseorang untuk membuka acara makan malam yang di adakan oleh Raja mereka, salah satu kursi tampak kosong tak berpenghuni.
“Azreal di mana mate mu?” Tanya Raja Ladwig membuka suara.
Manik violet itu menatap sekilas ayah nya, “Tidak ada.”
“Apa maksud mu nak?” kali ini Ratu Daishy bertanya, padahal ia berharap dapat melihat calon menantunya.
“Dia tidak bisa datang.”
Louwis berdehem kemudian meminum air putih di samping nya hingga tandas, ia merasa panas di tatap tajam oleh manik kakak nya seperti itu. Berbeda dengan seorang wanita bersurai blonde dengan belahan d**a terbuka tersenyum puas melihat kursi di sana kosong.
“Mengapa begitu? Padahal ibu sangat ingin menemui nya.”
“Sudah, sebaiknya kita menikmati hidangan malam ini.”
“Benar paman. Sebaiknya kita menikmati makan malam ini” tambah wanita bersurai blonde itu sambil mengusap paha Azreal di bawah meja makan.
Tangan Azreal mencengkram pisau steak di tangan nya dengan erat, rahang nya mengeras.
Crash!
“Aahkkk!!!”
Semua obrolan ringan di meja makan seketika menjadi kehebohan saat pisau di tangan Azreal melayang menusuk kaki wanita bersurai blonde itu. Mereka sangat terkejut dengan serangan mendadak putra mahkota.
Namun, ia hanya menyeringai puas, “Jangan pernah menggoda ku, jalang.” Bisik Azreal semakin menekan pisau di kaki wanita bersurai blonde yang tampak mengerang kesakitan.
Kemudian ia berlalu tanpa perduli tatapan keluarga juga para petinggi kerajaan kepada nya. Melihat betapa kejam kakak nya menusuk wanita yang masih termasuk orang penting Castle membuat Louwis menelan steak di mulut nya dengan susah payah.
Meskipun itu bukan pertama kali nya Louwis melihat Azreal menusuk bahkan membunuh seseorang, tetap saja ia tidak habis fikir dengan kelakuan kakak nya kali ini. Bahkan ia menatap miris ayahnya yang tengah menyadarkan Ratu Daishy dari keterpakuan.
Setelah mendapat perintah, para pengawal segera membawa wanita itu agar di tangani oleh tabib Castle.
****
Gadis itu benar-benar menuruti perintah Azreal, ia tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Tubuh pucat dengan gigi bergemeletuk kedinginan, bibir merah Carrie telah berubah menjadi biru pucat.
Hembusan angin dan hujan tak kunjung reda di malam hari membuat tubuh kecil gadis itu mengigil hebat, ia memeluk tubuh nya sendiri berharap dapat mengurangi rasa dingin yang menyayat kulit.
“D-di-ngin..., D-dingin.”
Carrie tak tahu kapan Azreal akan kembali datang ke belakang Castle untuk menemuinya. Ia merasa tubuh nya semakin lemas tak bertenaga. Darah di pinggang Carrie pun sudah ikut terhanyut oleh deras nya hujan.
Gadis itu seperti mayat hidup berdiri dengan pandangan kosong, tubuh nya terasa mati rasa. Ia tak dapat lagi mendengar guntur yang terus menggelegar di langit malam.
“D-dingin...hiks...hiks”
Bahkan air mata Carrie tak lagi keluar, ia sudah tak kuat. Carrie merindukan kehidupannya sebagai maid di Castle Witch bersama Keyra, Anne dan Ell.
Ia merasa dunia berputar, Carrie tak di harapkan di sini
Bruk.
Kegelapan menyambut gadis itu dengan tangan terkulai lemas di bawah guyuran hujan malam.
“Maaf.”