“Maaf.”
Azreal menatap nyalang maid yang hampir menabrak nya, ia langsung mendorong maid itu hingga terhantam dinding lantai sangat keras. Kaki lebar nya berjalan dengan cepat saat tubuh gadis dengan surai panjang di sana sudah tergeletak di tanah kotor dan basah.
Rintikan hujan telah berhenti saat Azreal menginjak tanah dengan raut datar seperti biasanya. Pria itu menatap tubuh Carrie yang terkulai lemas dengan tubuh pucat seperti mayat.
“Bangun, jangan berpura-pura seperti itu!” Tukas Azreal mendendang pelan kaki putih Carrie. Tak ada pergerakan atau pun respon dari gadis itu membuat Azreal sedikit geram.
“Cepat bangun, atau kau ingin kembali di hukum?!” Kali ini suara Azreal sedikit meninggi dan mengancam.
Kening Putra Mahkota itu mengerut samar saat Carrie tak juga merespon. Tangannya terangkat menyentuh wajah Carrie yang sangat pucat, manik violet Azreal sedikit terkejut saat tubuh gadis itu sangat panas seperti terbakar.
“Ckk, menyusahkan saja.”
Tanpa ragu Azreal menggendong tubuh Carrie ala bridal style untuk membawa gadis itu ke kamar nya, ia membuka portal, sangat malas jika harus berjalan dan mendapatkan tatapan-tatapan tanya dari penghuni Castle, sangat tidak penting.
Pusaran angin berwarna hitam gelap membawa Azreal langsung sampai di sebuah kamar bernuansa hitam maskulin, ia meletakkan tubuh Carrie di atas ranjang dengan hati-hati. Jika di lihat dari dekat, Carrie tampak sangat pucat dan lemah, membuat rasa bersalah sedikit menyelimuti hati Putra Mahkota NECROMANCER.
“Carl, cepat datang ke kamar ku.”
“Eh? Apa ada yang sakit?”
“Jangan banyak bertanya!”
Azreal langsung menutup fikiranya tanpa menunggu balasan Tabib Castle juga teman sejak kecilnya, jadi tidak aneh jika Carl begitu santai saat berbicara dengan Putra Mahkota NECROMANCER pemarah itu. Bukan hanya teman sejak kecil Azreal dan Louwis, Carl adalah salah satu anak dari seorang Healer yang cukup hebat dan menjadi Healer tetap di Castle Witch.
“To-long, akh! Jangan cambuk a-aku.” Rintihan Carrie membuat Azreal tersentak, ia menatap kelopak mata Carrie yang masih terpejam tubuhnya tampak bergerak gelisah.
Tetesan-tetesan air mata di pipi Carrie membuat Azreal mendekati gadis itu, ia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang. Tanpa sadar tangan Azreal terangkat mengusap halus air mata yang kembali menetes dari sudut mata Carrie. Pria itu menatap Carrie dengan tatapan sulit diartikan.
“T-tidak, akh s-sakit, kumohon jangan hukum aku.”
“A-aku takut...hiks...hiks.”
Tanpa sadar Carrie menyentak tangan Azreal, gadis itu mengigau hingga keringat membanjiri pelipis nya. Rahang Azreal mengeras saat gumaman-gumaman Carrie terasa begitu menyedihkan. Apa hidup gadis itu sangat sulit?
“Sttt...tenanglah. Aku selalu bersama mu.” Bisik Azreal tepat di telinga Carrie dengan tangan yang membelai surai panjangnya. Tanpa di duga tubuh Carrie merespon dengan baik, gadis itu mulai tenang dengan nafas teratur.
Ceklek!
“Mengapa? Woaahhh.., apa dia mate mu yang di bicarakan itu?” Baru saja Carl ingin menanyakan mengapa Azreal menyuruh nya untuk ke sini, manik Carl langsung tertuju pada seorang gadis dengan tubuh indah namun sangat pucat? Ah dia tau siapa pasien nya kali ini.
Azreal berdehem pelan seraya menjauhkan tubuh nya. “Cepat lakukan tugas mu.” Tukas Azreal datar.
Carl menggerutu pelan namun ia tak ingin berdebat panjang karena melihat gadis di atas ranjang itu yang tampak sangat mengenaskan. Azreal sedikit menyingkir saat Carl hendak memeriksa Carrie.
Manik violetnya menyipit saat Carl membuka kedua kelopak mata Carrie seperti sedang melihat sesuatu, belum lagi Tabib muda itu kembali menyentuh tangan dan yang membuat Azreal tak tahan saat Carl ingin menyentuh pinggang mate nya.
Tarikan kasar di kerah baju nya hampir membuat Carl terjungkal, “Hei! Apa yang kau lakukan, aku hampir saja mencium lantai!” Pria berjubah putih itu menatap nyalang pria dengan manik violet yang juga menatapnya tajam.
“Jangan bermain-main dengan ku, Carl.” Ancam Azreal serius.
Carl menelan salivannya dengan susah payah, tatapan Azreal sungguh mematikan untuknya. “A-aku merasa pinggang nya terluka.” Carl merutuki ucapannya yang terbata-bata.
Tubuh Azreal seketika membeku, “Keadaannya?”
“Dia hanya kedinginan, kelelahan, dan aku rasa dia belum mengonsumsi apapun. Kau hanya perlu mengompres kening nya agar panas nya menurun, aku akan meminta maid untuk membawakan air untuk mengompres.” Jelas Carl kemudian pamit dan pergi.
Namun, baru saja Azreal hendak melangkah sebuah kepala menjebul dari daun pintu yang baru saja tertutup. “Sebaiknya kau mengganti pakaiannya terlebih dahulu.” Ucap Carl pelan sambil mengerling jahil kemudian menghilang sebelum malaikat pencabut nyawa memenggal kepalanya.
Shit.
Azreal menatap tajam pintu kamar nya yang kembali terbuka, “M-maaf tuan muda. Saya membawa air untuk mengompres nona Carrie.”
“Urus dia, ganti pakaian dan perban di pinggangnya.” Perintah Azreal kepada dua maid yang berdiri di ambang pintu, mereka segera melakukan perintah Azreal sedangkan pria itu memilih pergi entah kemana.
“Baik tuan.”
****
Di sebuah Castle yang sangat luas namun sangat tentram dan sunyi itu terdapat seorang wanita bersama pria kecil yang terus saja merengek di pangkuannya. Wanita cantik dengan gaun biru laut itu tampak menjelaskan dengan sabar agar putra semata wayang nya itu mengerti.
Tetapi apalah daya, sifat keras kepala kedua orang tuanya juga menurun pada Ellard putra mahkota witch. Belum lagi pria dewasa yang sedang memeluk pinggang nya posessif sambil terus mendusel di leher jenjang nya membuat Keyra ingin sekali memaki laki-laki itu, siapa lagi jika bukan suaminya Renald.
Mereka tengah duduk di sebuah kursi taman di temani bulan yang tertutup awan hitam, langit tampak sangat tidak bersahabat malam ini.
Begitu juga Keyra di buat pusing dengan kedua pemilik hatinya itu, sifat mereka tak jauh berbeda. Renald yang dulu nya dingin dan kejam, kini berubah dua ratus persen menjadi lebih manja tak ingin kalah dengan Ell putra mereka.
Padahal Keyra ingin sekali memberi Ell seorang adik perempuan, tetapi melihat sifat Ell dan Renald yang selalu bertengkar dan tidak ingin jauh darinya membuat Keyra menunda keinginan itu. Mengurus dua bayi saja ia sangat kelimpungan apa lagi jika menambah nya, mungkin Keyra akan gila. Ya, Keyra menganggap Renald adalah bayi besar nya.
“Mommy, tidak bisakah kita menemui bibi Carrie sekalang? Ell sudah lindu.” Oceh pria kecil itu kembali berbicara.
“Tidak bisa sayang, ini sudah malam. Pasti bibi Carrie juga sudah tidur dan bukan kah besok kau harus berlatih memanah?” Keyra membelai surai Ell dengan pelan. Meskipun masih belum genap empat tahun Ellard sudah mempunyai kewajiban sebagai putra mahkota untuk mampu menguasai berbagai alat untuk bertarung.
“Huftt, Ell kan masih kecil Mommy.” Protes pria kecil dengan semburat merah di kedua pipinya, bibir nya mengerucut sebal.
“Jangan mengeluh seperti seorang gadis.” Celetuk Renald santai, pria itu tampak sangat lelah menemani Ell yang tidak bisa tidur, dan Renald pun terpaksa setia menemani putra kecilnya itu karena Ell menarik Keyra dari pelukannya di atas ranjang.
Manik biru Ellard menajam saat ayah nya kembali mengatakan bahwa ia seorang gadis, “Aku laki-laki, Daddy!” kesal Ell menginjak kaki ayah nya membuat sang empunya mengerang kesakitan.
“KAU?!”
TRANG!
Keyra menghela nafas lelah, melihat Renald dan Ellard saling menodongkan sebuah pedang dan mulai menjauhi nya. Ell dan Renald tentu saja tidak ingin jika wanita yang mereka sangat sayangi tergores atau terluka akibat ketidaksengajaan saat pertarungan.
Keyra yakin, kedua manik biru yang saling menatap tajam di depan sana pasti akan mengayunkan pedang mereka masing-masing. Ia hanya bisa memperhatikan bagaimana Ell mengayunkan pedang ke arah ayahnya sendiri tanpa main-main, begitu juga Renald tak terpengaruh lawannya lebih kecil darinya.
Khawatir? Tentu Keyra sangat khawatir jika nanti nya Ell akan terluka, pedang Renald sangat tajam dan berbahaya. Namun, ia sangat mengetahui kemampuan Ell dan kegesitan putra nya dalam memainkan alat itu, ia pun yakin jika Renald tak akan menyakiti putra nya sendiri.
Sangat mudah bagi kaum Witch seperti Renald dan Ellard untuk mendapatkan benda yang mereka inginkan, hanya perlu memikirkan saja maka benda itu akan muncul di tangan mereka, begitu juga sebuah pedang.
Trass!
Trang!
Trass!
Keyra sedikit tersentak saat seseorang menepuk pundaknya, ia memutar bola matanya malas saat Anne menguap lebar di samping nya lengkap dengan jubah tidur berwarna crem.
“Hoaam.., ada apa dengan anak dan ayah itu. Mereka berisik sekali.” Gumam Anne setengah sadar, sedangkan John tampak mendekati Ell dan Renald yang masih asik bertarung.
Kening Keyra mengerut samar, “Benarkah? Apa pertarungan mereka sampai terdengar ke kamar mu?” tanya Keyra ragu, pasalnya kamar John dan Anne sangat jauh dari taman ini.
“Jangan lupakan pendengaran John yang sangat tajam itu. Dia menyeret ku ke sini karena terganggu dengan suara benturan pedang putra mu.”
Keyra hanya ber oh ria, “Kau yakin mereka tidak akan saling membunuh?” ucap Anne asal saat pedang Renald hampir saja menusuk d**a Ell.
Plak!
Manik Anne langsung terjaga sepenuh nya saat tangan Keyra memukulnya keras, “Jaga bicara mu Anne.”
“Ishh, lihatlah sendiri, apa kau tidak berniat memisahkan mereka?” Anne mengucapkannya karena melihat John tampak di abaikan oleh anak dan ayah itu.
“Kau tidak khawatir? Renald bisa saja hilang kendali.”
“Lihat, dia sangat berambisi melukai Ell!”
“Diam Anne.”
“Hellow!! Kalian bisa mendengar ku?!!”
“DIAM!” John tersentak kaget saat ayah juga anak itu kompak membentak nya sambil menodongkan pedang mereka.
“Ehehehehe, teman-teman ini sudah malam. Waktu nya istirahat.” Ucap John tertawa sumbang, mengalihkan pembicaraan.
Trang!
Trass!
Trang!
“ASTAGA, Berhenti! Mate tolong aku!!” pekik John kewalahan saat Renald dan Ell malah menyerang nya. Oh goddes, apa yang salah dengan dirinya hingga selalu menjadi pelampiasan semua orang.
Keyra dan Anne tertawa keras melihat bagaimana panik dan pekikan John yang memenuhi malam yang begitu sunyi, “MATE! ASTAGA AKU HAMPIR MATI!” teriak John histeris.
Anne menghentikan tawa nya saat John mulai berlebihan, “Sepertinya aku harus menyelamatkan pria lebay itu” Celetuk Anne mulai bangkit dari duduk nya.
“Jangan sampai putra ku tergores Anne.” Peringat Keyra galak. Ia pasti tau jika Anne akan bertarung pedang dengan Ell, karena sangat tidak mungkin Anne berani dengan Renald.
“Siap Mommy!” kekeh Anne kemudian berlari mendekati ketiga pria di sana dengan membawa sebuah pedang yang baru saja ia ambil dari salah satu penjaga yang berdiri tidak jauh dari Keyra.
Trash!
Anne tertawa mengejek saat Ell gagal menggores lengan John karena pedang pria kecil itu beradu dengan pedang Anne. “OH ASTAGA, AKU TAU KAU SANGAT MENGKHAWATIRKAN KU MATE” Ucap John dramatis, sambil menangkis pedang Renald yang terus menghunusnya.
Gadis dengan jubah tidur berwarna crem itu memutar bola mata nya malas. Ia melirik John dan Renald yang sedikit menjauh sesuai pergerakan mereka.
“Ayo Ell, mengapa kau berhenti. Ayunkan pedang mu.” Tegur Anne saat Ell malah menatap nya terus.
“Tidak mau. Ell tidak ingin beltalung dengan wanita.” Celoteh Ellard melempar pedang nya asal.
“Eh? Kau takut?” Tantang Anne mengejek.
Bocah berusia tiga tahun itu bersidekap d**a sambil mengerucutkan bibir nya. “Ell tidak pelnah takut pada siapapun! Wanita itu untuk di lindungi, bukan di sakiti.” Ucap Ell polos dengan logat cadel nya.
Anne hanya bisa terpaku di tempat, ia tak menyangka pria kecil dengan semburat merah di pipinya juga manik biru yang begitu bersinar di malam hari akan mengucapkan kalimat indah itu.
“Ell ingin tidul saja belsama Mommy. Selamat malam bibi.”
****
Di salah satu kamar Castle yang berdominasi coklat tua, tepatnya di samping kamar bernuansa hitam. Seorang pria dengan jubah Putra Mahkota NECROMANCER tampak berjalan kesana-kemari dengan gelisah. Saat ini sudah tengah malam, namun manik nya tidak bisa terpejam dengan tenang. Gadis itu selalu saja mengganggu fikirannya.
Brak!
Azreal tidak tahan, ia melangkah memasuki kamar dengan d******i warna hitam maskulin yaitu kamar nya. Manik nya terbelalak saat gadis di atas ranjang King-size itu tampak menggigil hebat.
Ia mendekati Carrie dan memegang kening gadis itu, ringisan tertahan refleks meluncur dari bibir Azreal saat merasa dingin di kening Carrie yang di banjiri keringat. Beberapa jam lalu tubuh Carrie sangat panas, tetapi mengapa sekarang sangat dingin seperti ini?
“Ckk, mengapa kau sangat menyusahkan.”
Azreal mengambil sebuah handuk kecil di atas nakas, ia mengelap pelan keringat yang membanjiri wajah Carrie. Setelah selesai, pria itu menaiki ranjang dan ikut berbaring di samping gadis itu.
Manik violet Azreal melirik gadis di sampingnya yang tertidur dengan kening berkerut, Carrie tampak sangat gelisah dalam tidur nya. Azreal berdecak malas, “Kau berhutang banyak pada ku.” Tukas Azreal membawa kepala Carrie bersandar di d**a nya.
“Setelah pulih, kau harus membayarnya.”
Pria dengan manik tajam itu membelai surai panjang Carrie sangat pelan.
“Sttt..tidurlah.” Bisik Azreal saat tubuh Carrie bergerak gelisah.