Setelah selesai perform, Duta, Genta dan Meso kembali mengenakan masker dan kaca mata hitam mereka, dan berganti pakaian karena saat perform mereka mengenakan pakaian yang sudah disorot kamera.
"Ribet banget ya jadi boy band terkenal,"ucap Xafi.
"Iya sama ribetnya kaya kamu, harus sewa kostum misterius kaya gitu, dan kamu harus panggil kamu dewa kuas,"ucap Meso.
"Demi menjaga keamanan dan kenyamanan, jadi ini adik kamu yang selalu kamu promosikan ke aku? cantik, tapi sayang jutek,"ucap Xafi.
"Ih kak Meso, jangan buat aku jadi murahan dong masa di promosikan si,"ucap Xandra.
"Kalau sama dewa kuas, kamu gak akan jadi penjual daging di pasar, dia pasti bisa bawa kamu ke Paris,"ucap Meso.
"Sudahlah Meso, aku mungkin bukan pria beruntung itu, jadi kalian juga ikut penggalangan dana yang di buat mister Kyuhyun?"ucap Xafi.
"Iya, masa kami kalah dengan mu, calon adik ipar,"ucap Meso.
"Ekhem, ada yang merah ni pipinya,"ucap Duta.
"Ih kak Duta enggak ih, lagian aku ga kenal cowo aneh ini,"ucap Xandra.
"Biar kenal, ya kenalan lah dek,"ucap Genta menggeser tubuh Xandra agar mendekat dengan Xafi.
"Ka Genta Ih,"ucap Xandra malu-malu.
"Aku undang kalian malam ini untuk menghadiri acara pembukaan gallery mini ku, aku harap kalian mau datang,"ucap Xafi.
"Iya, nanti sekalian siapkan mahar untuk adik kami, lebih cepat lebih baik,"ucap Meso.
"Asal adik kamu menerima saya dengan baik, saya pasti akan memberikan mahar yang terbaik,"ucap Xafi.
"Apaan si, kenal aja enggak tiba-tiba dilamar,"ucap Xandra.
"Kita sudah pernah bertemu, dan aku lihat kamu suka lolipop yang aku kasih ke kamu,"ucap Xafi.
"Hah kamu?"ucap Xandra terkejut.
Xandra terpaku, matanya mengerjap berkali-kali menatap sosok di balik topeng dan kostum misterius itu. Memori tentang seorang pria asing yang memberinya lolipop saat Xandra terdiam di pinggir jalan, lalu saat ia sedang menangis sesenggukan karena diselingkuhi oleh Yuda kembali berputar seperti rol film rusak di kepalanya. Pria itu tidak bicara banyak saat itu, hanya menyodorkan gula-gula dan berkata bahwa rasa manis bisa membunuh rasa pahit di hati, lalu pergi begitu saja sebelum Xandra sempat mengucap terima kasih.
"Kamu... pria yang waktu itu?" bisik Xandra hampir tak terdengar, mengabaikan godaan kakak-kakaknya yang masih cekikikan.
Xafi hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang meski tertutup masker, getarannya sampai ke matanya yang tajam namun teduh. "Dunia ini sempit, Xandra. Dan sepertinya takdir memang suka bercanda dengan cara yang manis," jawab Xafi pelan, membuat wajah Xandra yang tadinya hanya merah muda kini berubah menjadi semerah tomat matang. Meso yang melihat adiknya kehilangan kata-kata langsung merangkul pundak Xafi dengan bangga, seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre karena berhasil mempertemukan mereka berdua.
Malam itu, sesuai undangan, Duta, Genta, dan Meso menyelinap melalui pintu belakang untuk menuju galeri mini milik Xafi. Mereka harus ekstra waspada, mengenakan jaket oversized dan topi yang ditarik rendah agar tidak memancing kerumunan fans. Xandra mengekor di belakang, hatinya masih berdebu oleh rasa penasaran yang luar biasa tentang siapa sebenarnya sosok "Dewa Kuas" ini. Sesampainya di galeri yang terletak di sebuah gang artistik yang tersembunyi, mereka disambut oleh aroma cat minyak yang khas dan alunan musik klasik yang sangat lembut. Tempat itu tidak besar, tapi setiap sudutnya memancarkan aura kemewahan yang sunyi.
Xafi sudah menunggu di sana, kali ini tanpa kostum misteriusnya. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan beberapa bercak cat di kulitnya yang justru membuatnya tampak sangat maskulin. "Selamat datang di duniaku yang berantakan," sapanya ramah. Meso langsung berkeliling, mengagumi lukisan-lukisan abstrak yang harganya mungkin bisa membeli satu buah apartemen mewah di pusat kota. Sementara itu, Xandra berdiri terpaku di depan sebuah kanvas besar yang ditutupi kain beludru hitam di sudut ruangan yang paling gelap.
"Itu adalah karya terbaruku, Xandra. Belum ada yang melihatnya, bahkan Meso sekalipun," ucap Xafi yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Xandra menahan napas saat Xafi menarik kain penutup itu perlahan. Di atas kanvas itu, tergambar sosok seorang gadis yang sedang menari di bawah lampu jalanan yang remang-remang, dengan sebuah lolipop di tangannya yang bersinar seperti permata. Wajah gadis di lukisan itu sangat jelas: itu adalah Xandra dengan gurat kesedihan sekaligus harapan yang tertangkap dengan sangat sempurna. "Kenapa... kenapa kamu melukisku?" tanya Xandra dengan suara bergetar. Xafi menatap lukisan itu dengan dalam, lalu beralih menatap mata Xandra. "Karena kamu adalah inspirasi yang membuat kuasku kembali bergerak setelah bertahun-tahun mati suri."
Suasana yang tadinya romantis dan hangat mendadak berubah tegang ketika pintu galeri digebrak dengan keras dari luar. Suara teriakan massa dan kilatan lampu kamera mulai terlihat dari balik jendela kaca yang buram. "Dewa Kuas! Kami tahu kamu di dalam! Keluar dan jelaskan lukisan curian dari museum nasional itu!" teriak seseorang dari luar yang terdengar seperti suara petugas keamanan atau mungkin kolektor yang marah. Meso, Genta, dan Duta langsung panik dan kembali memasang masker mereka. Xafi mematikan lampu utama galeri, menyisakan kegelapan yang mencekam. Ia menarik tangan Xandra menuju sebuah pintu rahasia di balik rak buku.
"Meso, bawa mereka pergi lewat lorong bawah tanah! Biar aku yang menghadapi mereka!" perintah Xafi tegas. Namun, sebelum Xandra sempat memprotes, terdengar suara kaca pecah di lantai atas dan sebuah bayangan hitam melompat masuk, tepat ke arah tempat Xandra berdiri. Xafi mendorong Xandra hingga terjatuh ke pelukan Meso, sementara ia sendiri menerjang bayangan tersebut dalam kegelapan yang pekat. Suara benturan fisik dan napas yang memburu memenuhi ruangan, sementara Xandra hanya bisa terpaku melihat kunci galeri yang terjatuh tepat di depan kakinya, bersinar di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah atap, diiringi suara sirine polisi yang semakin mendekat.
Dor....dor....dor....
Dentuman keras dari senjata api terdengar sangat nyaring, dan Xafi masih ada di gallery mininya, apakah Xafi akan selamat?
Gimana, makin penasaran nggak sama identitas bayangan hitam itu atau nasib galeri Xafi?
wah apa yang akan terjadi dengan Xafi ya? apakah Xafi bisa keluar hidup-hidup dari gallery nya atau pertemuannya dengan Xandra adalah kenangan terakhir yang bisa dikenang oleh Xandra ?
Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Xafi, apa benar ia mencuri lukisan?
Siapa dalang dari kejadian ini?
semua akan segera terungkap, dan semua yang terjadi pasti ada pembalasannya satu per satu, bukan yang lemah yang kalah tapi yang tidak tahu diri yang akan sadar diri.
Apakah cinta Xafi akan mampu melewati ini semua? atau ia akan kalah dengan detuman keras yang tiba-tiba saja terdengar mengerikan di telinga.