Phillips Paradise.
Bill masih bingung.ia tetap duduk di atas tempat tidurnya.
"tuan muda,jika tidak ada yang di perlukan lagi,saya permisi..".
ucap pria itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
"e..i..itu..a..anu..apa e...".
Bill tak tahu hendak berkata apa.lidahnya terasa kaku.meski di otaknya begitu banyak sesuatu yang ingin ia tanyakan,tapi bibirnya tak mampu mewujudkan keinginannya itu dalam bentuk kata-kata.
melihat Bill yang demikian,pria itu heran.
"tuan baik baik saja?".
"apa ada masalah tuan?".
pria itu tampak khawatir.
Bill menggeleng.
"baiklah tuan, kalau begitu bolehkah saya pamit?".
"i..iya!".
begitu mendapat izin,pria itu segera pergi meninggalkan Bill yang masih tetap bingung.
Bill mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.
ruangan yang berupa kamar tidur itu tampak luas.dindingnya bermotif bunga berwarna emas.ada juga satu set sofa cokelat tua yang juga terlihat mewah.
aroma wangi dari bunga lavender segar yang terletak di sebuah vas besar di sudut ruangan menyeruak mengisi seisi ruangan,belum lagi hawa sejuk yang keluar dari pendingin udara membuat nuansa tenang dan nyaman tercipta di ruangan itu.
di salah satu sudut ruang terdapat sebuah lemari kaca berisi aneka keramik berbagai bentuk,sedang di sudut lainnya ada lemari kaca lagi yang di isi berbagai buku.
dan saat pandangan Bill terarah pada sudut yang lain,tampak pula sebuah akuarium besar dengan ikan hias yang cantik tampak berenang ceria kesana-kemari,layaknya manusia yang sedang menari dengan gemulai.
"hai,itu ada fotoku juga?".
Bill bertambah terkejut saat melihat sebuah pigura besar berisi foto dirinya.
"ba.. bagaimana bisa foto itu ada di sini?".
Bill ingat dengan betul,bahwa foto yang di pajang di dinding itu adalah foto yang sama yang terpajang di dinding ruang tamu di rumah kontrakan bibinya.
"astaga..!".
"sebenarnya semua ini apa?".
"kalau ini mimpi..kenapa semua tampak seperti nyata??".
Bill semakin bingung.
apa gerangan yang bisa membuat i berada di tempat asing ini.
"e..telpon,ya..telpon.mana teleponku.
?".
Bill mencari ponselnya.
rupanya barang tersebut berada di meja lampu yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya.
dengan segera ia mencoba untuk menghubungi seseorang.
dengan harapan mungkin saja ada yang bisa menjelaskan tentang apa yang sedang ia alami saat ini.
"hallo!Marco?".
"iya tuan?!".
"hei jangan bercanda!aku sedang dalam masalah besar..".
"maaf tuan.".
"a..apa kau sebut aku tu...".
"ah sudahlah!".
Bill yang merasa aneh dengan cara Marco memanggil dirinya,ingin sekali mempertanyakan hal itu pada marco.tapi,ia segera menepis keinginan tahuannya itu.karena ada hal yang lebih penting yang harus ia ketahui.
dan mungkin Marco mengetahui sesuatu.
"e..Marco..kau bisa tolong aku?!".
"pasti tuan.apapun yang tuan inginkan,pasti saya siap melakukannya".
"itu sudah menjadi kewajiban saya tuan".
"haduh!si Marco kok jadi ngaco gini sih?".
tanya Bill di dalam hatinya.kebingungan pun kian bertambah di pikirannya.
sesaat Bill terdiam.
mendengar cara bicara Marco yang tak wajar itu,terbesit rasa ragu di hati Bill untuk meminta bantuan pada Marco.
Bill mulai berpikir,mungkin saja Marco terlibat dalam hal ini.mungkin saat ini ia sedang menjadi korban keisengan teman temannya.
mungkin saja saat ia tidur di gudang tadi, teman-teman kerjanya di toko tuan Ronald mengerjai dirinya.
bisa saja karena terlalu lelah ia tak bisa merasakan saat tubuhnya dipindahkan ke tempat lain.
dan tempat yang penampakannya seperti ini hanya ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama,ini mungkin di rumah tuan Ronald.
kemungkinan kedua,ini mungkin di sebuah hotel.
"astaga!!.
"ini sungguh bukan mimpi .ini nyata!".
"ini sungguh kony**".
gerutu Bill.
ia membayangkan wajah teman-temanya saat ini yang mungkin sedang bahagia dan tertawa lepas karena berhasil membuat dirinya bingung.
Bill kesal bukan main.
dan....
"Tut!Tut!Tut!".
sambungan telepon antara Bill dan Marco terputus seketika.
****
tak ada sesuatu yang bisa Bill dapatkan dengan menelpon Marco tadi.
yang ada ia justru di buat bingung dengan cara bicara Marco yang terdengar aneh.
Bill mulai dihampiri rasa putus asa.ada rasa takut yang tiba tiba menyelinap di dalam hatinya.
rasa takut jika semua tidak akan bisa kembali seperti sebelumnya.jika ia tidak bisa kembali lagi menjadi seorang Bill Cornor si karyawan toko.
dan ketika Bill masih terus diliputi kebingungan, tiba-tiba ponselnya berdering.
dengan segera Bill melihat ke layar ponselnya.
"bibi Joanna!".
hati Bill senang.
setidaknya ia bisa menceritakan hal ini pada sang bibi.
keyakinannya akan ulah iseng teman temannya yang menyebabkan ia menjadi seperti ini,semakin kuat.
bibi Joanna menelpon dirinya pasti karena ia khawatir.Bill ingat,semalam ia berpamitan pada bibi Joanna untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di toko.
dan sekarang sudah pagi,wajar jika bibi Joanna menelpon dirinya,pasti itu menanyakan dimana ia tidur semalam.
"hallo bi...".
"sayang, kenapa kau belum turun?".
"kami sudah lama menunggumu".
jleb!!
Bill tak habis pikir,suara yang ada di ujung telpon itu sungguh suara bibi Joanna.ia langsung menyerobot,dan tak memberi kesempatan pada Bill untuk berbicara.
tapi, bagaimana bisa ia berbicara selayaknya cara Marco tadi berbicara padanya.
"Marco,bibi Joanna, kenapa mereka berbicara seperti itu padanya?".
tanya Bill pada dirinya.
"ayolah Bill turunlah!jangan terlalu lama,nanti ayahmu bisa marah".
"kau tau kan bagaimana ayahmu itu jika sudah marah?".
"jadi turunlah ya?!".
Tut!Tut!Tut!.
belum lagi Bill mengajukan sebuah pertanyaan,hubungan telepon antara mereka sudah terputus.
"ahrrrggg!!".
Bill melemparkan selimut tebal yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya.
tak tahu dengan apa yang terjadi,dan keanehan demi keanehan yang terus menghampiri,membuat Bill kesal.
"aku terjebak di tempat aneh ini!".
"aku dimana?dimana?!!".
suara Bill menggelegar mengisi segenap penjuru kamar itu.
"ya Tuhan.aku harus bagaimana?".
"Marco menjadi orang aneh,dan bibi..ya bibi juga jadi aneh..".
"terus siapa lagi yang akan jadi aneh?".
"paman?Luke?tuan Ronald?atau,atau aku sendiri?".
Bill mengoceh kesal di depan cermin besar berbingkai kayu yang di ukir dengan di cat warna emas.
tampak di cermin gambaran dirinya memang terlihat berbeda.
di cermin itu, Bill terlihat memiliki kulit yang bersih,tubuh yang terlihat segar dan prima.
bahkan wajah Bill yang biasanya kusut karena di rawat ala kadarnya,kini justru terlihat bersih dan sangat tampan.
"aku?aku juga sudah berubah???".
Bill melihat penuh heran ke arah cermin yang memantulkan bayangan dirinya yang sedang berdiri dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan.
"oh my God,ini tidak benar.ini seperti bukan aku...".
"dan baju ini?".
"bagaimana bisa?".
"aku tidak punya baju ini.".
Bill segera beranjak untuk mencari lemari pakaian.
namun di kamar itu tak ia temui sesuatu yang ia maksud.
sempat kebingungan, akhirnya ia menemukan juga apa yang ia cari.
ada sebuah pintu kaca di satu sisi dinding kamar,dan ketika pintu itu dibuka,ternyata di dalamnya berisi beberapa lemari tempat menyimpan pakaian,tas,sepatu,dan beberapa item fesyen lainnya.
mata Bill terbelalak kaget menyaksikan apa yang terpampang di hadapannya.
dan dengan segera,ia langsung menuju ke sebuah lemari pakaian.
dan ketika pintu lemari dibuka...
"astaga!!".
mata Bill langsung tertuju pada sebuah pakaian yang tergantung di antara berpuluh pakaian lainnya.
"I..ini..ini..inikan baju yang kupakai semalam...??".
Bill meraih selembar kaos lengan panjang berwarna hitam dengan motif garis berwarna merah.
kaos itu yang semalam Bill kenakan saat ia pergi untuk tidur di gudang toko.
diamatinya kaos itu dengan seksama.bahkan ia pun mencium aroma dari kaos itu.
"ini sungguh bajuku,tapi... bagaimana bisa...??".
"ya Tuhan...??".
****