Phillips Paradise.
dengan langkah yang lesu Bill mengikuti langkah seorang wanita muda berseragam rapi.
celana panjang warna maroon dengan kemeja yang juga lengan panjang berwarna putih.
lalu sepatu kulit hitam dengan hak 5 cm menyangga kedua kaki dari wanita itu.
sejurus kemudian,mereka sudah sampai di sebuah lift.
"silahkan tuan muda.".
wanita itu meminta Bill untuk masuk ke dalam lift.
Bill bingung.
ia tak tahu akan kemana tujuan mereka.
"silahkan tuan,!".
wanita itu kembali meminta Bill untuk segera masuk ke dalam lift.
Bill gugup.
"e..kau saja duluan!".
ucap Bill.
"maaf tuan.saya tidak berani".
ucap wanita itu sambil tertunduk.
"a..aku yang memintamu".
kilah Bill.
mendapat perintah dari sang majikan,wanita itu akhirnya menyerah.ia pun segera menekan tombol lift.dan seketika pintu lift yang terbuat dari kaca itupun segera terbuka.
wanita itu lalu masuk,dan diikuti oleh Bill.
sesampainya di dalam lift,wanita tadi kembali meminta Bill yang menekan tombol lift.
"tekan saja!".
ucap Bill dengan gaya sok memerintah layaknya seorang bos.hal itu terpaksa ia lakukan demi menutupi kebingungannya.
wanita itupun segera melakukan yang Bill minta.
terlihat ia menekan angka dua di panel tombol lift.
dan hanya dalam hitungan detik lift sudah berhenti tepat di lantai yang mereka tuju.
jantung Bill berdegup kencang.
keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.nafasnya pun mulai tak teratur terkadang cepat,terkadang lambat.ia cemas.
bagaimana tidak,sebentar lagi ia akan menghadapi orang orang,yang tidak ia kenal sama sekali.namun ia harus bersikap seolah ia memang orang yang sudah sejak lama menjadi bagian dari keluarga ini.
bersikap seolah ia tahu segalanya,meski kenyataan yang ada justru berbanding terbalik dengan apa yang tampak oleh pandangan mereka.
Bill terus berjalan menyusuri ruangan demi ruangan.matanya tak henti mengedarkan pandangan ke penjuru tempat yang ia lalui.
besar dan mewah.itulah yang bisa ia simpulkan saat melewati beberapa ruangan di tempat yang ia belum bisa memastikan,itu rumah atau hotel.
"maaf tuan,kita ke ruang makan pribadi".
ucap wanita yang mendampingi Bill.
Bill rupanya berjalan menuju ke tempat yang berbeda dari yang di maksud si wanita itu.
"e.o.oke!".
Bill lagi lagi mulai panik.
ia membelokkan arah langkahnya menuju ke tempat lain.dengan rasa percaya diri yang di atur sedemikian rupa,ia terus melangkah.hingga langkahnya terhenti di sebuah tempat yang membuat ia takjub.
sebuah taman yang dipenuhi dengan aneka bunga yang cantik,dan sebuah air mancur berukuran besar di tengahnya.
pemandangan yang membuat Bill begitu terpesona.untuk sejenak ia sempat terlupa dengan hal aneh yang sedang ia alami.
"maaf tuan,kenapa tuan kesini?".
"sekali lagi maaf".
suara wanita yang adalah seorang pegawai di tempat itu terdengar bingung.
mendengar suara wanita itu Bill terkejut.ia seperti sedang dibangunkan dari tidurnya.
"e.e.sorry.".
Bill gugup.
ia tak tahu lagi harus mencari alasan apa untuk menutupi hal yang sebenarnya.
ia terdiam.
berdiri mematung menatap nanar ke hamparan bunga bunga yang bermekaran dengan aneka warna dan aroma.
"ah,andai saja aku tak terjebak disini...".
"andai saja ada yang bisa menjelaskan semua ini padaku...".
"mungkin aku tak akan menghadapi masalah yang rumit seperti ini...".
"aku kangen Bibi Joanna,aku..aku kangen paman Phillip dengan sikap kony**nya itu,aku kangen Marco,Luke,tuan Ronald....ah!".
batin Bill sesak menahan rasa yang terus memberontak, menginginkan segalanya kembali seperti semula,namun apa daya semua nampak hanya sia sia belaka.
****
"hei sayang,comeon!".
seorang wanita yang sedang duduk menghadap meja makan yang panjang dan terbuat dari kaca itu nampak tersenyum ramah menyambut kedatangan Bill.
wajahnya terlihat ayu dengan polesan tata rias yang sederhana namun terlihat bersih dan anggun.
rambut wanita itu sebahu panjangnya dengan warna cokelat muda, dibiarkan terurai namun di percantik dengan sebuah aksesoris yang nampaknya terbuat dari emas sungguhan.
jleb!!!
Bill kaget bukan main.
"astaga!".
"bi..bi..bibi Joanna!!?".
mata Bill terbelalak bagai kedua bola matanya hendak keluar dari kelopaknya.
ia tak percaya dengan apa yang ia saksikan.tapi wanita yang menyapanya itu memang sungguh bibi Joanna.dari raut wajahnya Bill bisa mengenali dengan pasti,meski wanita itu mengenakan riasan yang cantik,tetap saja itu tak mampu menutupi raut asli dari wajah itu.
dan dari gaya bicaranya,meski wanita itu berbicara dengan nada yang lembut tetap saja,suara yang keluar dari bibirnya adalah suara bibi Joanna.
"jangan hanya disitu!duduklah!".
ucap wanita itu lagi.
Bill masih terdiam.namun pandangannya kini secara diam-diam ia edarkan ke beberapa titik di tempat itu.
di ruangan yang tadi disebutkan oleh wanita yang mengawalnya sebagai ruang makan pribadi,tak ada banyak orang.hanya ada wanita yang mirip bibi Joanna,dan dua orang pria berpakaian dengan warna yang sama dengan yang wanita tadi kenakan.
melihat Bill yang masih tetap berdiri, akhirnya wanita itu mendekat ke arah Bill.
jantung Bill kembali berdegup kencang.ia tak tahu harus berkata apa jika wanita itu mengajaknya berbincang.
"sayang,mama tau kau masih marah.tapi...jangan terus lampiaskan rasa marah mu pada mama..".
"ini semua masih proses sayang.mama yakin pasti nanti akan ada jalan keluarnya yah!".
ucap wanita yang menyebut dirinya sebagai mama.
"oh my God!".
Bill makin panik.
ia yang tak tahu apapun terpaksa harus mengikuti setiap alur kehidupan yang dibuat oleh orang orang aneh ini.
"apa sebaiknya kukatakan saja yang sesungguhnya pada wanita ini?".
tanya Bill dalam hati.
ia sepertinya sudah mulai tak tahan dengan situasi yang membingungkan itu.
"ah, sudahlah.kita sarapan saja dulu ya,mama sudah lapar".
wanita itu menggandeng tangan Bill.Bill menurut begitu saja.antara pasrah atau justru bingung.
seketika salah seorang pria berseragam yang sedari tadi berdiri di dekat meja makan yang panjang itu,langsung menggeser satu kursi dan mempersilahkan Bill untuk duduk.
Bill duduk.
kursi kayu yang dilapisi busa empuk di bagian tempat duduknya itu memang terasa begitu nyaman.
"John!".
wanita yang mengaku sebagai mama dari Bill itu memberi isyarat pada salah satu pria berseragam.
pria itu pun segera mendekat ke arah Bill.kini ia berada tepat di samping kursi yang di duduki Bill.
Bill masih terdiam.
dipandanginya meja kaca panjang yang di atasnya ada aneka menu makanan dan minuman yang semuanya terlihat enak.
seketika Bill menelan ludah membayangkan betapa lezatnya semua itu jika masuk ke mulutnya.
ia ingat,semalam saat pulang kerja ia sebenarnya belum makan apapun.
dan saat sang bibi memintanya untuk makan Bill menolak,karena situasi yang sedang tidak tepat saat itu.
itulah sebabnya,saat melihat aneka makanan yang lezat itu perut Bill langsung keroncongan.
dan tanpa sadar ia langsung mencomot sepotong sandwich dengan isi daging sapi asap dan sayuran segar.
dan tanpa menunggu lama, sepotong sandwich itu langsung hilang di dalam mulutnya.
melihat Bill yang makan dengan sangat lahap,wanita yang duduk dihadapan Bill itu tampak heran.
"hei sayang,pelan pelan makannya!".
ucap wanita itu cemas.
"kau...sejak kapan kau suka sandwich sayang?".
tanya wanita itu.
Bill terdiam.
mulutnya yang sedang mengunyah sandwich kedua yang ia ambil,seketika terhenti.
rasa sesak kini memenuhi tenggorokannya.
antara rasa lapar dan bingung berbaur jadi satu, menciptakan sebuah suasana yang teramat rumit bagi Bill saat itu.
****