Bab 3)
Bertemu.
Mendengar ucapan Lastri, semua orang langsung menunjukkan ekspresi yang berbeda-beda. Sementara Tama dan Nining, langsung menunjukkan ekspresi tak terima dengan keputusan yang diambil oleh Lastri untuk anak perempuan mereka.
Terlebih Nayra adalah anak satu-satunya, yang pasti nya diharapkan akan mendapatkan kehidupan yang baik dan layak untuk kedepannya.
" Bu, apa maksud nya.?" Tanya Tama dengan suara rendah nya.
Ia menatap sang ibu dengan pandangan yang begitu menusuk, dan itu cukup membuat Lastri merasa salah tingkah, dan dengan susah payah ia menelan air liurnya sendiri.
" Kenapa dia seperti mas Pujo?"
Batinnya dengan mengalihkan tatapan dari anak bungsu nya.
" Bu, tolong jawab aku.! Apa maksud nya dengan menikah kan Nayra dengan laki-laki lain?" Ulang Tama dengan suara yang semakin tajam.
Melihat sang ibu yang tak bisa melakukan apapun karena aura dominan yang terpancar dari sang Adik, Dirga langsung bangun dari sofa yang ia duduki dan berjalan kearah Tama.
" Aku rasa itu keputusan yang baik, Tama. Apa salahnya Jika Nayra Juga menikah? Apalagi ibu pasti akan memilih kan laki-laki yang baik untuk Nayra." Ucap Dirga dengan santai nya.
Membuat ia harus mendapatkan tatapan tajam dari Tama, yang merasa miris dengan isi kepala sang kakak kandung.
" Tuhan, tolong katakan mereka bukan lah keluarga kandung ku, aku benar-benar lelah tuhan.... Perlakukan mereka benar-benar diluar batas kesabaran ku."
Batin Tama dengan tangan yang bergetar hebat.
Entah apa kesalahannya pada ibu dan kakak kandungnya, sehingga mereka tak pernah sedikit pun mau memikirkan keadaan dan juga perasaan nya.
Dengan kepala yang terasa Penuh, Tama menatap sang ibu dengan tatapan yang begitu dalam.
" Selama ini Tama selalu mengingat Nasihat dari bapak, karena Tama yang diberikan kesempatan untuk bisa menemani bapak sampai menutup mata, dan itu selalu Tama ingat sampai Tama lupa, jika perlakuan ibu sudah terlalu jauh. Apa yang sebenarnya ibu inginkan? Tidak cukup kah selama ini Bu? Apa yang harus Tama lakukan lagi agar ibu bisa tau? Jika Tama muak..! Bu, Tama muak..! Dengan segala yang ibu lakukan pada keluarga Kecil Tama!" Ucap Tama dengan nada tinggi.
Dan itu mampu memberikan tekanan pada keluarga Adiwinata yang lain, mereka langsung saling tatap dengan ekspresi yang terlihat menciut karena melihat kemarahan Tama untuk yang pertama kali nya.
Bahkan tak hanya Lastri yang terlihat menelan air liurnya dengan susah payah, Bulan yang biasa nya selalu menatap remeh pada keluarga Tama, kini duduk dengan tubuh yang merinding sebadan-badan.
Selama hampir 25 tahun menikah dengan Dirga, ia tak pernah sekalipun melihat kemarahan dalam diri Tama, membuat nya cukup ketakutan saat melihat Tama yang Kini berbicara dengan nada tinggi, dan dengan tatapan mata yang begitu tajam.
" Ternyata mas Tama kalo marah nyeremin banget, bahkan mas Dirga tak ada apa-apa nya di banding kan mas Tama." Lirihnya dengan memainkan jari-jarinya.
Nining yang melihat kemarahan sang suami, Hanya terdiam karena memang seharusnya sang suami marah, pada perlakuan keluarga nya.
Ini sudah terlalu jauh, bahkan tak masuk akal untuk di cerna, mengambil Andi yang berstatus sebagai pacar Nayra saja, itu sudah terlalu lucu. Dan Kini, mereka mengambil keputusan untuk menikah kan Nayra dengan laki-laki lain?
Dimana otak dan isi hati mereka semua? Apa perlu ia dan sang suami melakukan hal yang diluar batas? Agar mereka mengerti, jika kelakuan mereka benar-benar menyakiti mereka berdua.
Terutama Nayra, yang kini berdiri dengan tatapan mata yang begitu kosong.
" Tama, kamu harus ingat! Nasihat bapak itu adalah hal yang harus Kamu ingat sepanjang hidup mu, jangan pernah menunjukkan kemarahan mu lagi pada ibu, karena aku adalah ibu kandung mu, Tama. Jaga ucapan dan juga perbuatan mu pada ku." Ucap Lastri dengan suara yang melengking tinggi.
Namun Siapa pun tau, jika didalam suara nya. Lastri tengah menahan perasaan takut.
Jujur seumur hidup nya mengenal Tama sebagai anak bungsu nya, ia tak pernah sekalipun melihat kemarahan dalam diri dan juga pancaran mata Tama.
Dan kini, detik ini. Ia bisa melihat dan merasakan nya dengan nyata, bahkan sampai menembus kedalam tulang-belulang nya.
" Ibu bercanda? Apa ibu sendiri tau? Nasihat bapak itu apa?" Ucap Tama, dengan tertawa pelan.
Dirga yang merasa keadaan semakin tak kondusif, langsung bergegas keluar dari dalam rumah dan mencari seseorang.
Seseorang Yang pasti bisa membuat Tama menjadi penurut kembali, tanpa menunjukkan taring nya.
" Sial, kenapa aku merinding melihat kemarahan Tama?" Oceh nya, saat ia keluar mencari seseorang.
Dengan langkah terburu-buru, ia langsung bergegas mencari penjaga pos untuk memanggil nya Agar segera masuk kedalam.
Disaat Tama tengah beradu tatapan dan juga suara dengan sang ibu, Andi dan juga Nining langsung membulat kan mata dengan mulut yang terbuka lebar.
Saat melihat Dirga yang masuk dengan membawa beberapa orang dibelakang tubuhnya.
Terdapat beberapa orang yang berjalan dengan terpaksa dibelakang Dirga.
Dan saat itu lah, Nayra bertemu dan beradu tatapan dengan mata elang milik laki-laki yang terkenal pendiam di desanya.
Lelaki tampan dengan tubuh yang begitu sempurna, namun memiliki aura dominan yang membuat orang lain menciut saat mendekati nya.
Laki-laki yang terkenal sering menyendiri dengan bekerja di ladang, dan hanya hidup dengan sang nenek tercinta.
" Mata itu, mata yang indah.. Namun penuh dengan aura yang menyesatkan."
Batinnya dengan menatap intens kearah mata' tajam milik, Narendra Mahardika.
" Tolong lepaskan nenek saya!!" Teriak Narendra.
Membuat semua orang kembali saling tatap dengan ekspresi tak mengerti.
" Apa yang anda lakukan nyonya? Kenapa anda juga membawa suami saya? Dia harus berada di rumah sakit nyonya." Ucap ibu Andi, dengan suara Yang bergetar.
Saat mata kepala nya sendiri melihat sang suami di apit dua orang berbadan besar.
Dan yang lebih menyesak kan hati, terdapat jarum infus yang masih tertancap di punggung tangan lemah itu.
Yang menandakan, jika ayah Andi di paksa pergi dari rumah sakit, dengan cara yang terbilang kasar.
ya, tak Hanya orang tua Andi yang dibawa masuk kedalam rumah Adiwinata, tapi ayah mertua Arkatama juga nenek Narendra pun, tak kalah menjadi korban.
Sementara Nining, ia langsung lemas sebadan-badan. Saat melihat sang ayah yang sudah tua. Harus di piting dengan orang-orang yang berdandan dua kali lipat Lebih besar.
Tatapan lelah dan juga lemah dari sang ayah, membuat Nining semakin tak kuasa menahan tangisnya.
Arkatama yang melihat kegilaan sang ibu dan juga sang kakak kandung, langsung memejamkan mata dengan tangan dan gigi yang bergeletuk hebat.
Bahkan ia tak sadar, jika bibir nya sudah basah oleh darah karena ia terlalu menahan kemarahannya, pada sang ibu kandung dan juga kakak kandungnya sendiri.
Entah seperti apa lagi yang harus ia perbuat, agar kedua nya bisa sedikit saja membuka pintu hati untuk melihat keadaan dan juga perasaan orang lain, dan berhenti melakukan hal-hal buruk untuk mendapatkan keinginannya masing-masing.
Bersambung...