Uang itu tergeletak di atas meja kos dalam tiga tumpukan yang berbeda asal usulnya, dan Arsa tak sanggup menyentuhnya dulu.
Tumpukan pertama adalah gulungan lembaran lusuh yang dibungkus kain, disetorkan ibunya lewat titipan travel—tabungan yang katanya "buat kalau-kalau", dikumpulkan dari sisa belanja dapur bertahun-tahun, dari upah cuci-gosok yang tak pernah ia habiskan. Tumpukan kedua berupa amplop cokelat dari Pak Pendeta, disertai secarik kertas bertulisan tangan gemetar: *Ini bukan dari kas gereja, Nak. Ini dari jemaat yang menitip doa.* Tumpukan ketiga, paling tipis tapi paling keras kepala, adalah honor Renjana dari dua bulan mengajar les cello anak-anak pejabat—uang yang semula ia tabung untuk membeli senar baru.
"Aku enggak bisa terima ini," kata Arsa, matanya panas menatap amplop Renjana.
"Kau enggak minta. Aku yang naruh." Renjana mendorong amplop itu lebih dekat ke tumpukan lain, seolah dengan begitu perdebatan selesai. "Jangan bikin ini soal harga diri, Arsa. Bikin ini soal tanganmu."
Ia tak membalas. Ia hanya menghitung, dan angka di kepalanya—angka yang sudah ia cari tahu di warnet, angka untuk satu sesi suntikan toksin botulinum di titik-titik otot lengan bawah—masih lebih besar dari jumlah tiga tumpukan itu digabungkan. Ibu Widari tak tahu apa-apa soal ini. Tak boleh tahu. Kalau ia tahu, klausul dalam kontrak itu akan berbunyi lagi di kepalanya seperti lonceng: *cedera, piano ditarik.*
Dr. Prasetya menerimanya di ruang praktik kecil berbau alkohol dan kertas resep, dengan raut yang berusaha netral tapi tak sepenuhnya menyembunyikan keraguan. "Saya sudah jelaskan waktu itu," katanya sambil menyiapkan jarum-jarum kecil di baki logam. "Ini bukan obat untuk distonia. Ini melumpuhkan otot yang menekuk berlebihan, supaya otot lain punya ruang bekerja normal. Efeknya sementara—tiga sampai empat bulan. Dan responsnya beda-beda tiap orang."
"Saya ngerti," kata Arsa, meskipun yang sebenarnya ia mengerti hanyalah bahwa ia tak punya pilihan lain yang bisa ia beli.
Renjana duduk di kursi tunggu sambil menggenggam tasnya erat-erat, dan ibu—yang bersikeras ikut meski Arsa melarangnya jauh-jauh dari Wonokromo—berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada, bibirnya bergerak tanpa suara, entah berdoa entah menahan tangis.
Jarum pertama masuk ke lengan bawah kanannya, di titik yang ditandai spidol biru oleh Dr. Prasetya sebelumnya. Rasanya bukan sakit seperti yang ia bayangkan—lebih seperti sengatan kecil yang menjalar, lalu mati rasa yang aneh, seperti ada bagian dari dirinya yang sengaja dipadamkan. Jarum kedua, ketiga, keempat, di titik-titik berbeda sepanjang lengan bawah dan pangkal jari manis. Arsa memejamkan mata dan, entah kenapa, yang muncul di kepalanya bukan partitur Danupraja, melainkan nada B fals dari piano gereja—dengung sumbang yang selama ini menghantuinya, kini terasa seperti satu-satunya hal yang jujur di ruangan itu.
"Selesai," kata Dr. Prasetya, melepas sarung tangan. "Efeknya baru terasa tiga sampai lima hari lagi. Jangan berharap keajaiban."
Tapi Arsa berharap. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak berharap.
Hari kelima, di ruang latihan tujuh yang sepi, ia mendudukkan diri di depan upright bekas dan memainkan pasase yang selama berbulan-bulan mengkhianatinya—rangkaian oktaf cepat di tangan kanan yang selalu berakhir dengan jari manisnya menekuk sendiri seperti kepala yang menunduk pasrah. Kali ini jari itu tetap lurus. Tetap patuh. Ia mengulanginya, lebih cepat, lebih keras, dan jari itu tetap taat, dan untuk sesaat—hanya sesaat—Arsa merasa seperti dulu lagi, seperti sebelum semuanya runtuh.
Ia menelepon Renjana malam itu juga, suaranya nyaris pecah karena girang yang tak berani ia percaya sepenuhnya. "Bisa," katanya berulang-ulang, "bisa, Ren, jarinya nurut lagi."
Tapi kegembiraan itu tak bertahan sampai minggu kedua.
Danupraja memintanya memainkan sebuah bagian yang menuntut akord penuh di tangan kanan, dilepas dengan bobot dan kedalaman suara yang biasa Arsa hasilkan tanpa berpikir. Ia menekan tuts-tuts itu, dan suara yang keluar tipis, kosong, seperti piano yang tak sepenuhnya ditekan. Ia mencoba lagi, mengerahkan lebih banyak tenaga, tapi lengannya terasa seperti milik orang lain—jari-jarinya tak lagi menekuk sendiri secara liar, tapi mereka juga tak lagi punya kekuatan untuk melawan bobot tuts gading itu sepenuhnya. Otot yang dilumpuhkan untuk menghentikan kekejangan ternyata ikut melumpuhkan sebagian kekuatan cengkeramannya sendiri.
"Kenapa lemas begini?" gumamnya sendiri, mencoba lagi dan lagi, mengejar forte yang dulu datang begitu saja dan kini menghindarinya seperti bayangan.
Danupraja berdiri di belakangnya, diam untuk waktu yang lama sebelum berkata, suaranya lebih pelan dari biasanya, "Kekejangan hilang. Tapi kekuatannya ikut hilang bersamanya. Itu yang tidak diceritakan orang-orang yang bicara suntikan ini seperti mukjizat."
Malam itu, sendirian di kamar kos, Arsa membuka lagi lembaran-lembaran informasi yang pernah ia cetak di warnet berbulan-bulan lalu—dan di sana, di paragraf yang dulu ia lompati karena terlalu takut membacanya, tertulis jelas: kelemahan otot sebagai efek samping yang lazim, bisa berlangsung lebih lama dari manfaatnya sendiri. Ia sudah membayar dengan uang yang bukan miliknya untuk kabar yang sebenarnya sudah tersedia gratis, kalau saja waktu itu ia berani membacanya sampai selesai.
Ia menatap amplop kosong bekas suntikan itu, lalu tangan kanannya sendiri, membuka dan menutup jemarinya perlahan di udara malam yang dingin. Tak ada lagi tekukan liar yang menghantuinya. Tapi juga tak ada lagi kekuatan yang dulu ia banggakan sebagai bagian dari dirinya yang paling murni.
Tubuhnya, pikirnya, tak pernah benar-benar berhenti mengkhianati. Ia hanya berganti cara.