Pukul lima pagi, koridor Institut Musik Wreksodiningrat masih gelap dan dingin oleh AC yang belum dimatikan sejak malam. Arsa menyelinap masuk lewat pintu samping yang kuncinya ia pinjam diam-diam dari petugas kebersihan, menyusuri lorong marmer yang biasanya berderak oleh sepatu mahal, sekarang sunyi kecuali langkah kakinya sendiri yang mengenakan sepatu usang. Ruang Latihan 7 menunggu di ujung, gelap, berdebu tipis di ambang jendela. Ia menyalakan satu lampu saja—cukup untuk melihat tuts, tidak cukup untuk siapa pun di luar curiga ada orang di dalam.
Di atas piano upright ruangan itu—bukan grand piano warisan, sebab ia tak berani membawa kelemahannya ke instrumen yang sewaktu-waktu bisa dicabut—ia membentangkan kertas fotokopi bertuliskan tangan Dr. Prasetya: lima baris latihan, tak lebih rumit dari yang diajarkan pada anak-anak berusia tujuh tahun. Do-re-mi-fa-sol. Kembali. Do-re-mi-fa-sol. Kembali. Metronom disetel pada tempo yang membuatnya ingin tertawa getir: enam puluh, seperti detak jam dinding, seperti waktu yang merangkak.
Jari manisnya sudah dililit selotip kain tipis, direkatkan longgar ke jari tengah—trik yang diajarkan Dr. Prasetya untuk memaksa otak mengenali kembali jari itu sebagai anggota terpisah, bukan bagian dari gerakan menekuk yang sudah jadi kebiasaan liar. Ia menekan tuts pertama. Do. Bunyi itu jujur. Ia menekan yang kedua. Re. Juga jujur. Tapi pada fa, jari manisnya—meski terikat—tetap berusaha menekuk ke dalam, dan bunyinya pecah jadi dua nada berdempetan, sumbang, seperti anak kecil yang salah pijak.
Ia berhenti. Mengulang dari do.
Absolute pitch-nya, yang dulu ia banggakan sebagai berkah—satu-satunya modal yang tak bisa dibeli oleh anak-anak berjas mahal di kelas Danupraja—kini jadi hukuman tersendiri. Ia mendengar dengan presisi kejam setiap mikrodetik ketidaktepatan, setiap nada yang meleset seperempat, setengah, sepertiga langkah dari yang seharusnya. Telinganya tak pernah berbohong padanya. Karena itulah setiap kegagalan terasa lebih telanjang: ia tahu persis seberapa jauh ia dari benar, dan tahu pula bahwa dulu, di panggung nasional, jarak itu nol.
Pukul enam, pintu berderit. Renjana masuk membawa dua gelas kopi plastik dan sekantong roti dari kedai dekat kos. Ia tidak bertanya kenapa Arsa ada di sana selarut—atau sepagi—itu. Ia hanya meletakkan kopi di tepi piano, duduk di kursi pojok, dan diam. Setelah konfrontasi mereka beberapa pekan lalu, diam Renjana bukan lagi jarak, melainkan cara barunya hadir: tidak memaksa Arsa bicara, hanya memastikan ia tidak sendirian menanggung latihan yang memalukan ini.
"Aku dulu bisa mainkan Rachmaninoff," kata Arsa akhirnya, tanpa menoleh, jarinya masih di atas tuts. "Sekarang aku diajari cara menekan do-re-mi seperti anak SD."
"Anak SD nggak punya telinga sepertimu," kata Renjana pelan. "Mereka nggak tahu kalau salah. Kau tahu. Itu bedanya. Kau bukan mundur ke titik nol. Kau cuma sedang membangun ulang jalan yang rusak, dengan mata yang masih bisa melihat setiap lubangnya."
Arsa tidak menjawab. Ia menekan do lagi. Kali ini bunyinya bersih. Ia menahan napas, seolah takut mengagetkan keberhasilan kecil itu sampai buyar.
Latihan berikutnya lebih berat: Dr. Prasetya menuliskan agar ia berlatih dengan mata tertutup, mengandalkan rasa di ujung jari, bukan pandangan yang selama ini jadi kebiasaan sejak kecil ia bermain dengan menatap tuts. Sensorik harus dibangun ulang, katanya, sebab distonia fokal sebagian besar bersarang di jalur otak yang keliru mengenali sinyal dari tangan, bukan di ototnya sendiri. Arsa memejamkan mata. Kegelapan itu membuatnya limbung sesaat, seperti berdiri di tepi sesuatu yang tak bisa ia ukur. Ia menekan tuts pertama tanpa melihat. Meleset satu jari. Ia membuka mata, menahan malu yang konyol—tak ada siapa pun menonton selain Renjana yang memilih menunduk ke gelas kopinya, memberi ruang tanpa berpura-pura tak ada.
Jam tujuh, suara langkah dari koridor membuat jantungnya berdegup. Ia buru-buru melepas selotip dari jarinya, menumpuk kertas latihan Dr. Prasetya di bawah partitur Chopin seolah itu yang sedang ia baca. Langkah itu lewat begitu saja—hanya petugas kebersihan mendorong troli—tapi keringat dingin sempat membasahi tengkuknya. Ia sadar, dengan pahit, betapa banyak energinya kini habis bukan untuk musik, melainkan untuk bersembunyi dari musik yang sesungguhnya sedang ia perjuangkan.
Menjelang pukul delapan, ketika mahasiswa lain mulai berdatangan dan ruang-ruang latihan lain mulai riuh oleh Chopin, Liszt, dan gesekan cello dari lantai atas, Arsa masih di sana, mengulang lima nada yang sama, ratusan kali, dengan tempo yang tak juga naik. Renjana sudah pergi ke kelasnya sendiri, meninggalkan pesan kecil di sudut kertas: "Nol bukan kekalahan. Nol itu awal lain."
Arsa membaca kalimat itu, lalu melipat kertasnya, menyimpannya di saku jaket seperti jimat. Ia tahu, di kelas-kelas lain, mahasiswa seusianya sedang menaklukkan etude tersulit, sedang dipuji karena kecepatan jari yang nyaris mustahil. Ia sendiri baru saja menaklukkan lima nada berurutan tanpa kesalahan, dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak jarinya mulai berkhianat, ia merasakan sesuatu yang menyerupai—meski belum sepenuhnya—kebanggaan. Bukan kebanggaan seorang prodigi yang mengagumkan orang lain, melainkan kebanggaan seseorang yang berhasil berdiri sekali lagi di atas kaki yang baru saja belajar berjalan.
Ia menutup tutup piano pelan-pelan, mematikan lampu, dan berjalan keluar sebelum seorang pun sempat bertanya kenapa seorang juara kompetisi internal menghabiskan pagi buta di ruang paling ujung, memainkan nada-nada yang biasa dimainkan anak-anak yang baru belajar mengenal piano.