Efek suntikan itu mulai luntur tiga hari sebelum ujian peringkat, dan Arsa tahu persis kapan itu terjadi karena ia menghitungnya diam-diam setiap pagi—jumlah detik jari manisnya bertahan lurus sebelum menekuk sendiri saat ia mengangkat tangan dari pangkuan. Di hari pertama pascasuntik, dua puluh detik. Lalu lima belas. Pagi itu, hanya tujuh.
Ia tidak memberi tahu siapa pun. Bukan Danupraja, yang mengira latihan-ulang sudah membuahkan kemajuan nyata sejak Arsa berhasil melewati dua sesi tanpa kegagalan tampak. Bukan Renjana, yang sudah tahu segalanya sejak Bab lalu namun tetap menunggu di luar ruang latihan setiap sore dengan wajah yang berusaha tak menyelidik. Ia hanya menghitung, dan berlatih lebih keras, seolah kerja paksa bisa membeli waktu yang sudah ditagih tubuhnya sendiri.
Penjarian ulang yang diajarkan Danupraja—melewati bagian tersulit dengan pola jari yang sama sekali baru, menghindari otot yang sudah belajar mengkhianati—bekerja di ruang latihan tujuh yang sunyi, di mana tak ada yang menyaksikan selain tembok dan jam dinding yang berdetak pelan. Tapi Arsa tahu, jauh di dasar perutnya, bahwa ruang sunyi dan panggung adalah dua dunia yang tak pernah benar-benar sama.
Aula ujian peringkat penuh sesak sore itu. Deretan juri duduk di baris depan dengan map nilai di pangkuan mereka, dan Profesor Danupraja ada di antara mereka, wajahnya datar seperti biasa, tapi Arsa menangkap sesuatu yang berbeda—semacam kewaspadaan yang tak pernah ia lihat sebelum kata "distonia" diucapkan di ruang kerja profesor itu. Di baris kedua, Ibu Widari duduk tegak dengan tangan bersedekap, matanya yang biasa dingin kini menyimpan sesuatu yang menyerupai harapan yang dipaksakan. Bramantyo duduk lebih jauh ke belakang, sudah selesai tampil, wajahnya tenang dengan kepuasan yang tak perlu ia sembunyikan lagi. Dan di sudut, setengah bersembunyi di balik pilar, Renjana menatapnya dengan cello yang ia peluk seperti tameng.
Arsa duduk di depan grand piano warisan. Tuts gading itu dingin di bawah jarinya, dan untuk sesaat ia merasakan familiaritas yang menenangkan—instrumen ini pernah mengubahnya, pernah memberinya warna yang tak dimiliki upright gereja. Ia menarik napas, dan mulai.
Bagian pembuka mengalir tanpa cela. Frasa demi frasa keluar dengan kehalusan yang membuat beberapa juri mengangkat pena mereka, siap mencatat pujian. Danupraja tak bergerak, tapi Arsa bisa merasakan sesuatu melunak di balik ketegasannya. Untuk tiga puluh detik, Arsa membiarkan dirinya percaya bahwa mungkin—mungkin—kali ini berbeda.
Lalu pasase itu datang.
Ia mengenalinya jauh sebelum jarinya menyentuhnya: rangkaian nada cepat menaik yang sama yang pernah menekuk jari manisnya berbulan-bulan lalu di ruang latihan tujuh, yang telah ia latih ulang ribuan kali dengan penjarian baru sampai gerakan itu terasa seperti bahasa asing yang dihafal paksa. Tangannya bergerak ke posisi baru itu—posisi yang seharusnya aman, yang seharusnya menghindar dari otot yang berkhianat.
Jari manisnya menekuk.
Bukan sedikit, seperti biasanya. Kali ini seluruh tangan seperti mengunci diri sendiri, empat jari saling menekan tanpa perintah, tendon-tendon mengeras dalam kepalan yang bukan kepalan yang ia inginkan. Suara yang keluar bukan nada, melainkan gumpalan bunyi yang pecah dan aneh, seperti seseorang yang tersandung di tengah kalimat.
Ia mencoba lagi. Mengangkat tangan, menata ulang jari-jarinya dengan gerakan yang ia hafal di kepala—ia tahu persis bagaimana seharusnya jari-jari itu jatuh—tapi ketika ia menekan tuts, yang terjadi hanyalah kekakuan yang sama, kali ini menjalar sampai ke pergelangan.
Aula menjadi hening. Bukan hening yang biasa menyelimuti sebuah karya sebelum nada berikutnya; ini hening yang berbeda, hening yang mulai terasa seperti sesuatu yang menunggu untuk pecah menjadi bisik-bisik.
Arsa menatap tuts di depannya seolah tuts-tuts itu benda asing. Ia tahu notasinya. Ia tahu setiap frasa di baliknya, absolute pitch-nya mendengar seluruh karya itu sempurna di kepalanya, tak ada satu nada pun yang salah dalam telinganya—tapi tangan kanannya menolak menerjemahkan apa yang ia dengar menjadi apa yang harus ia mainkan. Untuk pertama kalinya, jarak antara telinganya yang sempurna dan tangannya yang gagal terasa seperti jurang yang tak terjembatani.
Sepuluh detik. Dua puluh detik. Seseorang di baris juri berdeham pelan. Map nilai bergeser di atas pangkuan. Arsa mencoba sekali lagi—mengangkat tangan, menurunkannya perlahan, berharap kelambatan akan menipu otot yang mengeras itu—tapi jarinya jatuh di tuts yang salah, dan bunyi yang keluar sumbang, jauh lebih sumbang dari nada B fals mana pun yang pernah menghantuinya di gereja Wonokromo.
Ia berhenti.
Tidak ada tepuk tangan iba, tidak ada isyarat untuk melanjutkan. Hanya keheningan yang menggantung, dan di dalamnya Arsa mendengar detak jam di dinding aula, mendengar seseorang berbisik pada tetangganya, mendengar—atau membayangkan mendengar—Ibu Widari menghela napas panjang dari baris kedua.
Ia menurunkan kedua tangannya ke pangkuan. Menatap tuts gading yang mengilap di bawah lampu panggung, tuts yang dulu terasa seperti milik sendiri, kini terasa seperti benda yang dipinjamkan pada orang yang salah.
"Maaf," katanya, suaranya nyaris tak terdengar sampai ke baris depan. "Saya tidak bisa melanjutkan."
Ia berdiri, membungkuk singkat—bukan bungkuk kemenangan seperti di kompetisi internal dulu, melainkan bungkuk seseorang yang menyerahkan diri—dan berjalan turun dari panggung tanpa menoleh ke arah Danupraja, tanpa berani menatap Ibu Widari, tanpa sanggup mencari mata Renjana di balik pilar.
Di lorong belakang panggung, jauh dari pandangan siapa pun, ia berhenti, bersandar ke dinding, dan menatap tangan kanannya sendiri—tangan yang baru saja, di depan semua orang yang menentukan nasibnya, menolak untuk menjadi miliknya sendiri.