Gereja itu selalu paling sunyi di jam-jam antara kebaktian, ketika bangku-bangku kayu berjajar kosong dan cahaya sore menyusup lewat kaca yang bertahun-tahun tak sempat dibersihkan. Arsa Pradipta berdiri di ambang pintu samping, menatap upright tua di sudut mimbar seperti menatap sesuatu yang pernah ia kenal di kehidupan lain. Sudah berminggu-minggu sejak ia pulang ke Wonokromo dalam kekalahan, dan selama itu ia menghindari piano itu seakan tuts-tutsnya menyimpan penyakit yang bisa menular.
Di dalam tasnya masih terlipat partitur yang dibawa Renjana Larasati jauh-jauh dari kota — repertoar untuk tangan kiri, kertas-kertas yang telah ia baca berulang di kamar kos sampai hafal setiap tanda tempo, tetapi tak sekali pun berani ia mainkan. Membaca bukan bermain. Membaca itu aman. Selama not-not itu hanya diam di atas halaman, ia tak perlu tahu apakah jari-jarinya akan patuh atau kembali menekuk sendiri tanpa ia perintahkan.
Ia melangkah pelan di antara bangku, papan lantai berderit di bawah sepatunya yang usang. Grand piano warisan itu jauh di sana, terkunci di Ruang Latihan 7 institut, di balik pintu yang tak lagi terbuka untuknya. Ia sudah kehilangan hak menyentuhnya. Yang tersisa cuma benda tua bernada sumbang ini, piano yang dulu ia anggap terlalu rendah untuk cita-citanya. Kini justru piano inilah satu-satunya yang masih mengizinkannya mendekat tanpa syarat, tanpa peringkat, tanpa klausa.
Arsa menarik bangku dan duduk. Tutup papan tuts terbuka dengan bunyi berkeriat yang ia kenal sejak kecil. Gading-gadingnya menguning, beberapa retak halus di ujung. Tangan kanannya ia biarkan tergeletak di pangkuan, seperti benda asing yang ia bawa ke mana-mana tetapi tak tahu harus diapakan. Ia menatapnya sebentar — jari-jari yang dulu bisa berlari lebih cepat dari napasnya sendiri, kini cuma bisa mengepal dan membuka dengan takut.
Ia mengangkat tangan kiri.
Untuk sesaat tangan itu menggantung di atas tuts, gemetar bukan karena penyakit melainkan karena ngeri. Bagaimana kalau bahkan tangan kiri pun mengkhianatinya? Bagaimana kalau ternyata tak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan? Ia menutup mata. Ia teringat kata-kata Pak Pendeta beberapa hari lalu, di teras pastori, dengan suara serak orang yang baru sembuh dari sakit: nada B piano ini sudah fals empat puluh tahun, Nak, tapi jemaat tetap menangis waktu menyanyikan kidung. Yang menggerakkan hati bukan kesempurnaannya.
Arsa membiarkan jari kelingkingnya turun lebih dulu. Satu nada bas, dalam dan bulat. Lalu ibu jari, sebuah interval. Ia tidak memainkan partitur Renjana. Ia tidak memainkan apa pun yang punya nama. Ia hanya membiarkan tangan kirinya meraba-raba, mencari, seperti orang buta yang kembali menyentuh wajah yang lama ia rindukan.
Melodi itu datang perlahan, terputus-putus, canggung. Tangan kiri tidak dilatih untuk membawa lagu; selama ini ia hanya pengiring, penopang di bawah kemegahan tangan kanan. Kini ia harus menyanyi sendirian, dan suaranya terdengar seperti anak yang baru belajar bicara. Arsa merasa malu pada dirinya sendiri — ia, yang dulu memenangi kompetisi, kini tersandung pada tangga nada paling sederhana.
Lalu jarinya menekan tuts itu.
Nada B. Fals, sebagaimana selalu. Setengah koma lebih rendah dari yang seharusnya, cacat kecil yang dulu menyiksa telinga absolute pitch-nya sampai ia tak bisa tidur di asrama, cacat yang menguntitnya di antara piano-piano institut yang sempurna dan dingin. Nada yang selama ini terasa seperti luka.
Tetapi kali ini Arsa tidak menghindarinya. Ia menekannya lagi, sengaja, dan mendengarkan. Ia membiarkan kesumbangan itu masuk. Dan pada dengungan yang meleset itu, sesuatu di dalam dadanya patah dengan lembut — bukan patah yang menghancurkan, melainkan patah seperti bendungan yang akhirnya menyerah pada air.
Ia terus bermain. Satu tangan. Melodi yang timpang, harmoni yang tak lengkap, nada B yang selalu miring. Musiknya cacat menurut ukuran mana pun yang pernah diajarkan Profesor Danupraja padanya. Tetapi untuk pertama kalinya sejak jari manisnya menekuk sendiri di atas panggung, sejak kata distonia fokal mendarat di telinganya, sejak grand piano itu ditarik dari genggamannya — untuk pertama kalinya, yang keluar dari piano ini adalah sesuatu yang jujur. Bukan pertunjukan. Bukan bukti. Hanya seorang anak muda yang bicara dengan satu tangan karena hanya itu yang ia punya.
Air mata itu jatuh sebelum ia sadar sedang menangis. Menetes ke punggung tangan kirinya yang masih menekan tuts, hangat dan asin, dan ia tidak berhenti untuk mengusapnya. Ia menangis bukan karena kehilangan — ia sudah cukup lama menangis untuk kehilangan. Ia menangis karena menemukan bahwa musik masih ada di dalam dirinya, bahwa musik itu tidak pergi bersama tangan kanannya, bahwa ia keliru mengira bakat itu berumah di jari-jari yang mengkhianatinya.
Nada demi nada mengisi ruang kosong gereja, memantul di langit-langit tinggi, membaur dengan debu yang menari di berkas cahaya. Sumbang, tidak rata, sepenuhnya miliknya. Ia memainkan tangga nada sederhana itu berulang-ulang, membiarkan nada B yang fals menjadi jangkar setiap frasa, tidak lagi melawannya, melainkan berjalan bersamanya.
Dari arah pastori, ia samar mendengar langkah berhenti di ambang. Ia tak menoleh. Ia tahu itu ibunya — mengenali napas orang yang menahan diri agar tak mengganggu, cara berdiri yang sama sejak ia kecil, ketika ibu berdiri di pintu mendengarkannya berlatih sepulang membersihkan gereja. Arsa membiarkan tangan kirinya menyelesaikan satu frasa terakhir, membiarkan nada B menggantung di udara sampai dengungnya habis dengan sendirinya.
Ia belum sembuh. Ia tahu itu. Tangan kanannya masih tergeletak diam di pangkuan, dan tak ada suntikan mahal, tak ada latihan berbulan-bulan, yang akan mengembalikannya menjadi seperti dulu. Jalan di depan masih gelap dan panjang, dan piano warisan itu masih terkunci di kota, dan uang tetap tak ada. Tetapi untuk malam ini, di gereja tua bernada sumbang tempat ibunya mengepel lantai dan ayahnya memperbaiki apa pun yang rusak, Arsa telah merebut kembali satu hal yang dikira telah hilang selamanya. Bukan seluruh musiknya. Hanya haknya untuk kembali menyentuh tuts — dengan syaratnya sendiri.