Ibu Widari muncul di ambang pintu ruang latihan tujuh tanpa mengetuk, seperti biasa, seolah pintu-pintu di Institut Musik Wreksodiningrat memang miliknya untuk dibuka kapan saja. Arsa tak mendengarnya datang. Tangan kirinya sedang menapaki sebuah pola arpeggio yang dirombak Danupraja tiga hari lalu—interval-interval yang harus melompat jauh karena tak ada tangan kanan yang menopang harmoni di atasnya—dan seluruh perhatiannya terkumpul di situ, di lima jari yang bekerja rangkap dua.
Danupraja-lah yang lebih dulu menyadari kehadiran itu. Ia mengangkat tangan sedikit, isyarat berhenti, dan baru kemudian Arsa menoleh dan melihat perempuan berkebaya abu-abu itu berdiri tegak dengan tas kulitnya dipeluk di depan dada, seperti seseorang yang datang untuk menagih sesuatu.
Arsa mengangkat tangan kanannya dari pangkuan, refleks lama untuk menyembunyikannya, lalu sadar tak ada gunanya lagi disembunyikan. Semua orang di institut sudah tahu.
"Teruskan," kata Ibu Widari, tanpa basa-basi. "Aku hanya menonton."
Ia tak duduk di kursi yang ditawarkan Danupraja. Ia berdiri di dekat jendela, dengan cahaya sore yang jatuh miring di wajahnya, mengamati upright tua di ujung ruangan itu—instrumen buangan yang kayunya sudah pudar, yang dulu, di hari pertama Arsa di institut ini, jadi lambang betapa jauhnya jarak antara dirinya dan mahasiswa lain. Sekarang instrumen itulah satu-satunya yang mau menampung tangannya yang cacat.
Arsa melanjutkan. Ia memainkan bagian yang sama, arpeggio yang melompat, lalu masuk ke transkripsi Renjana atas sebuah lagu rakyat yang direncanakan untuk ujian ulang—kertas partitur penuh coretan pensil, penjarian ulang, tanda-tanda kecil yang menunjukkan di mana ibu jari harus menyeberang lebih awal, di mana kelingking harus meregang untuk menyangga apa yang seharusnya dipegang dua tangan. Suaranya timpang di beberapa tempat, ada jeda yang tak semestinya ada, tapi garis melodinya tetap berdiri, tetap bisa dikenali sebagai musik, bukan sekadar latihan jari.
Ketika ia selesai, ruangan diam sebentar. Danupraja tak berkomentar, hanya mencatat sesuatu di buku kecilnya—kebiasaan yang tak pernah berubah sejak pelajaran pertama yang brutal itu.
Ibu Widari yang bicara duluan. "Berapa lama kau bisa bertahan bermain begitu, sebelum tanganmu lelah?"
"Belum tahu, Bu. Kami masih mencoba."
"Belum tahu," ulangnya, datar, seolah menimbang kata itu. "Kudengar peringkatmu masih di bawah. Komite akan menemuimu bulan depan."
"Saya tahu."
"Kau tahu, tapi kau di sini, mengulang lompatan interval alih-alih menyiapkan sesuatu yang bisa kau tunjukkan pada mereka."
Danupraja membuka mulut, mungkin hendak membela, tapi Arsa lebih dulu menjawab, dan suaranya lebih tenang daripada yang ia duga sendiri akan keluar. "Ini yang bisa saya tunjukkan, Bu. Saya tidak punya yang lain lagi."
Ibu Widari menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang Arsa tak pernah lihat sebelumnya—bukan kelunakan, belum, tapi semacam pengenalan, seolah kalimat itu membuka pintu ke ruangan lain dalam ingatannya.
Ia meletakkan tasnya di kursi, membuka kancingnya, dan mengeluarkan sebuah map kulit yang sudah retak di sudut-sudutnya, warnanya coklat tua mendekati hitam karena umur. Ia tak langsung memberikannya. Ia memegangnya sebentar seperti menimbang apakah keputusan ini benar.
"Kau tahu Eyang Wreksodiningrat berhenti tampil di depan umum sepuluh tahun sebelum ia meninggal," katanya akhirnya. "Yang kuceritakan dulu padamu, tentang kariernya yang berakhir 'secara misterius'—aku tidak berbohong, hanya belum siap mengatakan yang sebenarnya. Tangannya gagal. Sama seperti tanganmu."
Arsa merasa dadanya menyempit. Ia sudah mendengar sebagian dari ini—dari Ibu Widari sendiri, beberapa bulan lalu, sebelum piano ditarik—tapi mendengarnya diulang sekarang, di depan upright tua ini, terasa berbeda.
"Yang tidak pernah kuceritakan," lanjutnya, "apa yang ia lakukan sesudahnya."
Ia membuka map itu di atas tutup piano, dan Arsa melihat halaman-halaman manuskrip yang tintanya sudah kecoklatan, tulisan tangan yang rapat dan sedikit gemetar di beberapa baris, judul di halaman pertama yang nyaris luntur: Studi untuk Tangan Kiri. Di bawahnya ada tanggal—tahun yang, Arsa hitung cepat dalam kepala, jatuh delapan tahun setelah tahun yang selama ini disebut sebagai "akhir karier" Eyang.
"Ia tidak berhenti bermusik," kata Ibu Widari. "Ia berhenti tampil. Sepuluh tahun terakhirnya ia habiskan menulis ini—latihan-latihan seperti yang kau mainkan barusan, sebelum ada nama untuk apa yang menimpanya, sebelum ada dokter yang bisa menjelaskannya. Ia juga mengajar. Murid-murid datang ke rumahnya, bukan ke panggung mana pun, dan ia mendemonstrasikan semuanya dengan tangan kiri saja, karena itu satu-satunya tangan yang mau menurut."
Arsa menatap halaman-halaman itu, mencoba membaca notasi yang mulai buram, dan menemukan sesuatu yang aneh menggenang di tenggorokannya—bukan kesedihan, bukan juga lega, sesuatu di antaranya yang belum punya nama.
"Kenapa Ibu tidak pernah bilang ini dari dulu?"
"Karena dulu kupikir ceritanya memalukan," jawab Ibu Widari, dan untuk pertama kalinya suaranya kehilangan ketegasannya yang biasa. "Yayasan ini dibangun di atas nama seorang virtuoso, bukan seorang guru tua yang menulis sendirian di ruang kerjanya. Aku menjaga cerita yang lebih mudah didengar orang. Tapi melihatmu di sini, mengulang gerakan yang sama seperti dalam manuskrip ini—aku pikir kau berhak tahu yang mana yang sebenarnya warisannya."
Ia menutup map itu, tapi tidak memasukkannya kembali ke tas. Ia meletakkannya di atas piano, di dekat partitur Renjana yang penuh coretan pensil.
"Aku tidak menjanjikan apa-apa soal piano itu," katanya, lebih tegas lagi, seolah hendak menarik diri kembali ke sikap lamanya. "Syarat masih syarat. Komite masih komite. Tapi latihan ini—" ia menunjuk map itu dengan dagunya, "—boleh kau pinjam sampai kau perlu menunjukkannya pada orang lain."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban, sebagaimana ia datang. Danupraja menatap pintu yang tertutup sebentar, lalu menatap Arsa, dan untuk sekali ini tak mencatat apa pun di buku kecilnya.
Arsa membuka map itu lagi, sendirian, dan mulai membaca notasi tangan kiri yang ditulis oleh tangan yang juga pernah gagal.