Kabar itu datang lewat secarik kertas yang diselipkan penjaga institut ke bawah pintu ruang latihan tujuh: Ibu Widari menunggunya di sayap timur, pukul empat. Arsa membacanya dua kali, mencari klausa tersembunyi di balik lima kata itu, sebab selama ini setiap kalimat dari perempuan itu selalu berekor syarat. Ia menyeka telapak tangannya ke celana — kebiasaan baru sejak jari manis kanannya tak lagi bisa ia percaya — lalu berjalan menyusuri koridor marmer yang dulu membuatnya merasa seperti ikan di darat.
Ruang penyimpanan di sayap timur berbau lilin dan kayu tua. Arsa mengenali bau itu sebelum ia melihat siapa yang berdiri di dalam. Ibu Widari menunggu di samping grand piano warisan, tangannya terlipat di depan mantel abu-abu yang selalu ia kenakan seolah cuaca di dalam gedung pun perlu dilawan. Penutup instrumen itu terbuka. Sudah hampir setengah tahun Arsa tak melihat tuts-tutsnya — gading yang menguning lembut di ujung, hitam yang mengilap seperti air kolam di malam hari. Dadanya menyempit. Ia menahan diri untuk tidak mundur.
"Kau kira aku memanggilmu untuk apa," kata Ibu Widari. Bukan pertanyaan. Ia tak pernah bertanya kalau sudah tahu jawabannya.
"Saya tidak tahu," Arsa menjawab jujur.
Perempuan itu memandangnya lama. Di bawah cahaya sore yang masuk lewat jendela tinggi, garis-garis di wajahnya tampak lebih dalam dari yang Arsa ingat. "Aku dengar kau menyiapkan resital," katanya. "Program tangan kiri."
"Ya, Bu."
"Danupraja yang mengajarimu."
"Ya."
Ibu Widari mengangguk pelan, seakan mencocokkan sesuatu di kepalanya. Lalu ia mengulurkan tangan dan menyentuh bibir papan tuts — tidak menekannya, hanya menyentuh, seperti orang menyentuh dahi yang sakit. "Piano ini ditarik karena kau cedera," ucapnya. "Itu bunyi kontraknya. Aku yang menjalankannya. Aku tidak akan berpura-pura tangan itu ringan."
Arsa diam. Ia masih ingat malam piano itu diangkut keluar dari ruang latihan, roda-roda troli menggilas lantai, dan bagaimana ia berdiri di ambang pintu tanpa berani menoleh. Kehilangan itu tak pernah benar-benar reda; ia hanya belajar berjalan dengan pincangnya.
"Sekarang aku menawarkannya kembali," kata Ibu Widari.
Sesuatu di dalam diri Arsa langsung mengeras, refleks lama seekor hewan yang pernah dijerat. "Dengan syarat apa," katanya, lebih tajam dari yang ia niatkan. Ia buru-buru menunduk. "Maaf. Maksud saya—"
"Kau berhak bertanya." Suara perempuan itu tidak tersinggung. "Selama ini memang selalu ada syarat. Peringkat harus tinggi. Tidak boleh cedera. Kau harus terus membuktikan diri layak. Itu caraku menjaga sesuatu yang bukan milikku untuk kuberikan sembarangan." Ia menarik napas. "Tapi kali ini tidak ada syarat. Piano ini kupinjamkan untuk resitalmu. Cuma-cuma. Tak akan kutarik kalau jarimu gagal di atas panggung. Tak akan kutimbang dengan nilai atau peringkat."
Arsa mengangkat wajah. Ia mengira ia salah dengar. "Kenapa," bisiknya.
Ibu Widari berjalan mengelilingi piano itu, telapaknya menyusur tepian kayu yang dipoles. "Aku menemukan kotak surat Eyang Wreksodiningrat bulan lalu," katanya. "Surat-surat yang tak pernah kubaca sampai habis. Ada satu yang ia tulis setelah tangannya berhenti menurut. Ia menuliskan kehendaknya soal piano ini." Ia berhenti. "Kau tahu apa yang dituliskannya?"
Arsa menggeleng.
"Ia menulis: berikan pada tangan yang paling membutuhkannya, bukan pada tangan yang paling sempurna." Suara Ibu Widari sedikit bergetar di ujung, hal yang belum pernah Arsa dengar darinya. "Selama ini aku menjaga piano ini seperti menjaga piala. Aku memberikannya sebagai hadiah untuk yang menang, lalu kutarik dari yang kalah. Aku salah membaca kehendaknya. Eyang tidak ingin piano ini menjadi upah. Ia ingin ia menjadi tempat berlindung."
Ruangan itu senyap. Di luar, seseorang melintas menyeret koper roda, dan bunyinya menjauh.
"Tangan Eyang gagal seperti tanganmu," lanjut Ibu Widari. "Ia tahu persis rasa dijerat oleh tubuh sendiri. Dan tahun-tahun terakhirnya ia habiskan di depan piano ini — bukan untuk bertepuk memuji dirinya, tapi untuk mengarang, untuk mengajar. Piano yang tak bisa lagi ia mainkan dengan utuh justru menjadi piano yang paling ia cintai." Ia menoleh menatap Arsa lurus-lurus. "Aku pikir ia akan lebih tenang kalau piano ini menemanimu naik panggung. Bukan sebagai imbalan. Sebagai berkah."
Arsa merasa matanya panas. Ia menekan rahangnya supaya tak runtuh di hadapan perempuan yang dulu ia takuti. "Saya mungkin gagal di atas sana, Bu," katanya pelan. "Jari kanan saya bisa menekuk kapan saja. Bisa jadi malu di depan semua orang."
"Aku tahu."
"Bu tetap meminjamkannya?"
"Kau tidak mendengarkan." Untuk pertama kalinya sudut bibir Ibu Widari terangkat, tipis, nyaris tak kelihatan. "Aku meminjamkannya justru karena itu. Piano ini tak lagi menuntut kesempurnaan darimu. Ia sudah pernah menampung tangan yang gagal. Ia tahu caranya."
Arsa memandang tuts-tuts itu. Gading yang menguning, hitam yang seperti air malam. Dulu instrumen ini adalah taruhan — sesuatu yang bisa direnggut dari genggamannya setiap saat, hingga tiap malam ia bermain dengan rasa takut. Kini ia berdiri di sana tanpa jerat, dan itu justru membuat Arsa gemetar dengan cara yang berbeda. Ia mendekat, perlahan, seolah menghampiri sesuatu yang suci. Tangan kirinya terangkat sendiri. Ia meletakkan satu jari di atas tuts B, nada yang di gereja di rumah selalu terdengar fals dan bertahun-tahun menghantui pendengaran sempurnanya. Di sini nada itu utuh, bening, sempurna. Dan anehnya, kini justru versi fals di Wonokromo itulah yang ingin ia bawa ke atas panggung, teranyam ke dalam karyanya sendiri.
"Terima kasih," katanya, dan suaranya pecah di kata kedua.
Ibu Widari tak menjawab. Ia hanya menutup penutup piano dengan hati-hati, seolah menyelimuti seseorang yang tidur, lalu berjalan ke pintu. Di ambangnya ia berhenti sebentar. "Mainkan yang jujur, Arsa," ucapnya tanpa berbalik. "Eyang tidak pernah peduli pada yang sempurna. Ia hanya percaya pada yang sungguh-sungguh." Lalu ia pergi, langkahnya menjauh di koridor marmer, meninggalkan Arsa sendirian bersama piano yang akhirnya, untuk pertama kalinya, tak menuntut apa pun darinya kecuali kesediaannya untuk bermain.