Ruang Latihan 7 paling dingin menjelang magrib, dan Arsa mulai menyukainya justru karena itu. Hawa yang menggigit memaksa tangan kirinya tetap terjaga, memaksa tiap frasa dimainkan sadar, satu demi satu, seperti orang menapaki jembatan yang papannya hilang selang-seling. Tangan kanannya ia biarkan beristirahat telungkup di pangkuan, jari manisnya sesekali berkedut sendiri seolah masih menuntut giliran yang tak akan ia berikan lagi. Di luar jendela, sisa cahaya sore memerah pelan di atas atap-atap institut.
Pintu diketuk. Bukan ketukan ragu Renjana, bukan pula tiga ketuk tegas Profesor Danupraja. Ini ketukan yang menahan diri, dan Arsa sudah tahu siapa sebelum daun pintu terbuka.
Bramantyo berdiri di ambang, mantel wolnya rapi seperti biasa, tetapi ada yang tak lazim pada wajahnya — lelah yang tak bisa ditutupi oleh potongan rambut mahal. Di tangannya tergenggam map karton berwarna gading.
Arsa menutup partitur tangan kirinya perlahan, seperti menutup sesuatu yang harus dilindungi. Ia menunggu. Selama bertahun-tahun ia belajar bahwa kedatangan Bramantyo selalu berarti ada yang hendak dirampas.
"Kau boleh menutupnya," kata Bramantyo, menunjuk partitur dengan dagu. "Aku tidak datang untuk melihat itu."
"Lalu untuk apa?"
Bramantyo tidak segera menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan berdiri di dekat grand piano tanpa menyentuhnya — seolah instrumen itu milik seseorang yang tak ia kenal lagi. Ia meletakkan map gading di atas tutup tuts.
"Slot resital malam di Aula Wreksodiningrat," katanya. "Yang tanggal dua puluh tiga. Itu milikku sejak awal semester. Ayahku yang mengurusnya." Ia berhenti. "Kau butuh aula itu untuk resitalmu, kan? Yang lain cuma ruang seminar dengan piano yang senarnya sudah mati sebelah."
Arsa merasa dadanya menegang. Ia sudah tahu soal itu. Aula utama, dengan akustik yang dirancang Eyang Wreksodiningrat sendiri, hanya kosong satu malam menjelang jadwal komite. Dan malam itu tercatat atas nama Bramantyo.
"Kalau kau mau memaksaku memohon," kata Arsa pelan, "aku tidak akan."
"Aku tahu kau tidak akan." Sudut bibir Bramantyo terangkat sedikit, tetapi bukan seringai yang biasa. "Itu yang selalu membuatku muak padamu. Kau tidak pernah memohon. Bahkan waktu sepatumu ditertawakan orang, kau cuma diam dan tetap main."
Ia membuka map itu. Di dalamnya ada formulir — Arsa mengenali kop yayasan — dan selembar surat yang belum ditandatangani. Bramantyo mengeluarkan surat itu, memegangnya sejenak, lalu menyobeknya menjadi dua di depan Arsa.
"Itu laporan," katanya datar. "Tentang tanganmu. Tentang kondisi yang kau sembunyikan. Kalau aku serahkan ke komite dengan tanda tanganku dan nama keluargaku di bawahnya, mereka akan menyelidiki, dan resitalmu batal sebelum kau menyentuh tuts. Aku menyimpannya sejak berbulan-bulan lalu."
Arsa tidak bergerak. Ia sudah tahu Bramantyo memegang senjata itu. Yang tidak ia duga adalah suara robeknya kertas.
"Kenapa," Arsa akhirnya bertanya. Bukan ucapan terima kasih. Sebuah pertanyaan yang jujur.
Bramantyo menjatuhkan dua potongan kertas itu ke lantai, seakan tak ingin menyentuhnya lebih lama. Ia berjalan ke jendela, membelakangi Arsa.
"Minggu lalu ayahku menyuruhku memainkan Liszt di depan koleganya. Investor. Orang-orang yang bisa membelikanku panggung mana pun di dunia." Suaranya rata, tetapi ada retakan tipis di dalamnya. "Aku main sempurna. Tidak satu nada meleset. Dan waktu selesai, mereka bertepuk, dan ayahku tersenyum, dan aku berdiri di sana merasa—" ia berhenti mencari kata "—kosong. Seperti kulkas yang menyala tapi tak ada isinya."
Arsa hampir tersenyum mendengar perumpamaan itu — perumpamaan yang bisa keluar dari mulut ayahnya sendiri, sang teknisi kulkas — tetapi ia menahannya.
"Aku sadar aku tidak pernah tahu kenapa aku main," lanjut Bramantyo. "Kau tahu. Bahkan waktu tanganmu mengkhianatimu, kau masih tahu. Itu yang tak bisa dibeli ayahku." Ia berbalik. "Aku tidak menyingkir supaya kau berutang budi padaku, Arsa. Aku menyingkir karena aku lelah menang atas hal yang tidak kupahami."
Arsa memandang map gading di atas piano. "Aula itu—"
"Sudah kupindahkan atas namamu. Administrasi memprosesnya kemarin. Aku bilang pada ayahku aku mengundurkan diri dari resital semester ini." Bramantyo menghela napas. "Dia belum bicara padaku sejak itu. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, aku bisa tidur."
Sesuatu bergeser di dalam dada Arsa, pelan dan asing, seperti nada yang selama ini ia sangka fals ternyata cuma menunggu didengar dengan benar. Ia teringat nada B upright gereja, nada yang menghantuinya bertahun-tahun, yang kini justru menjadi tanda tangannya. Barangkali manusia pun begitu. Barangkali orang yang paling lama ia anggap sumbang hanya perlu didengar sampai habis.
"Aku tidak tahu harus bilang apa," kata Arsa.
"Jangan bilang apa-apa. Jangan berterima kasih." Bramantyo melangkah ke pintu, lalu berhenti, tangannya di gagang. "Satu hal. Malam resital nanti, aku tidak akan duduk di depan. Aku akan berdiri di belakang, di dekat pintu. Bukan karena aku tak mau dilihat. Karena aku ingin mendengar bagian yang tak sempurna itu." Ia menoleh sedikit. "Bagian yang tanganmu tak bisa lagi mainkan mulus. Aku ingin tahu bagaimana rasanya bermain jujur. Mungkin aku masih bisa belajar."
Ia membuka pintu. Udara koridor mengalir masuk, dingin dan bersih.
"Danupraja benar soal satu hal," kata Bramantyo di ambang, tanpa menoleh lagi. "Piano itu tidak pernah benar-benar milik siapa pun. Bahkan waktu masih di tanganku, aku cuma meminjamnya." Lalu ia pergi, langkahnya menjauh di koridor marmer sampai lenyap.
Arsa duduk sendiri untuk waktu yang lama. Di lantai, dua potongan surat itu tergeletak. Ia memungutnya, membacanya sekilas — namanya, kata distonia yang dulu membuatnya membeku, klausa yang bisa merampas segalanya — lalu ia melipat keduanya dan menyimpannya di saku, bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk diingat.
Ia membuka kembali partitur tangan kirinya. Tangan kanannya tetap telungkup di pangkuan, berkedut sekali, lalu diam. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arsa memainkan frasa pembuka itu tanpa merasa sedang berlari dari seseorang.