Hujan tanggung turun sore itu di Wonokromo, tak cukup deras untuk membuat orang berlari, tapi cukup untuk membuat ibu memeriksa payung lipat tiga kali sebelum memasukkannya ke tas kresek hitam yang juga memuat kemeja ganti ayah dan sebuah kotak kue kering yang sudah dibungkus lagi dengan kertas koran—bekal kalau nanti lapar di jalan, kata ibu, padahal Arsa tahu itu juga supaya mereka tak perlu membeli apa-apa di kota.
Mereka berangkat tiga jam lebih awal dari yang diperlukan. Ayah bersikeras naik angkot yang sama seperti dulu ia antar Arsa ke institut untuk pertama kali, meski sekarang ada pilihan yang lebih cepat. "Biar hemat, sekalian nostalgia," katanya, dan tak seorang pun membantahnya, karena semua tahu hemat bukan kata yang bisa ditawar-tawar dalam keluarga itu, bahkan untuk malam sepenting ini.
Pak Pendeta sudah menunggu di depan gereja ketika mereka lewat, mengenakan jas hitam yang Arsa kenali—jas yang sama dipakai tiap Natal dan tiap pernikahan, bahunya sudah agak mengilap karena usia. Di sampingnya berdiri lima-enam jemaat, membawa map plastik berisi amplop yang, Arsa tahu tanpa perlu dibuka, berisi uang recehan yang dikumpulkan diam-diam sejak minggu lalu untuk ongkos dan konsumsi kecil malam itu. Seorang ibu tua dari kelompok paduan suara menggenggam tangan ibu Arsa erat-erat, matanya sudah berkaca sebelum apa pun terjadi.
"Kita doain dari kursi belakang," kata Pak Pendeta, menepuk pundak Arsa yang datang menjemput mereka di gerbang institut, wajahnya basah bukan hanya oleh gerimis. "Kamu main, kami yang jaga hati kamu dari sini."
Institut malam itu berubah wujud. Koridor marmer yang dulu membuat Arsa merasa seperti ikan tersasar di darat kini dipasangi karpet merah menuju auditorium, lampu-lampu kristal menyala penuh, dan orang-orang berpakaian mahal turun dari mobil-mobil yang parkirnya rapi berbaris. Di tengah semua itu, rombongan kecil dari Wonokromo berjalan seperti serombongan yang salah masuk pintu—ayah dengan kemeja batik lawas yang disetrika sampai lipatannya tajam, ibu dengan kebaya yang sama dipakainya saat pernikahan tetangga tiga tahun lalu, kain jarik yang warnanya sudah agak pudar di bagian lipatan yang paling sering dibuka.
Tak ada yang menegur mereka. Tapi Arsa melihat caranya orang-orang lain melirik, cara pandangan itu singgah sebentar di sepatu ayah yang solnya sudah ditambal lem, lalu berpindah cepat, sopan, tapi tetap tertangkap. Ia teringat dirinya sendiri di hari pertama, sepatu usang yang dilirik sinis oleh Bramantyo. Sekarang gilirannya berdiri di sisi lain jurang itu, menyaksikan orang tuanya yang menyeberanginya untuknya.
Ibu Widari menemui mereka di lobi, lebih cepat dari yang diduga siapa pun, dengan gaun gelap sederhana dan wajah yang—Arsa perhatikan—sudah lama tak sekaku dulu. Ia mengulurkan tangan pada ibu Arsa lebih dulu, bukan pada ayah, sebuah kesopanan kecil yang tak biasa dari orang-orang macam dia.
"Ibu dan Bapak," katanya, "terima kasih sudah membesarkan anak yang berani main dengan tangan yang tak sempurna. Itu lebih sulit daripada yang saya kira dulu."
Ibu Arsa hanya mengangguk, tak tahu harus menjawab apa pada seorang wali yayasan yang namanya saja membuatnya gugup sejak dulu ia dengar dari surat-surat Arsa. Tapi tangannya menggenggam tangan Ibu Widari lama, seperti dua perempuan yang, dengan cara berbeda, sama-sama menjaga sesuatu yang rapuh.
Renjana muncul dari arah backstage, masih mengenakan gaun konser hitamnya, cello belum ia bawa keluar. Ia memeluk ibu Arsa lebih dulu, lalu ayah, tanpa canggung, seolah sudah lama jadi bagian keluarga itu—dan mungkin, pikir Arsa, memang begitu adanya sekarang.
"Dia deg-degan dari tadi pagi," bisik Renjana pada ibu Arsa, sambil melirik Arsa yang berdiri kaku di ambang pintu auditorium. "Tapi jangan bilang saya yang cerita."
Ibu tersenyum, dan untuk sesaat wajahnya adalah wajah yang pernah Arsa lihat bertahun-tahun lalu di gereja, saat suaminya belum cedera dan hidup terasa lebih ringan—wajah yang percaya bahwa doa dan kerja keras, cepat atau lambat, akan dijawab.
Kursi-kursi depan mulai terisi. Arsa berdiri sebentar di ambang, memandangi barisan yang perlahan penuh: jemaat gereja dengan pakaian terbaik yang mereka punya, duduk berdampingan dengan orang-orang kaya kota yang biasa menonton di sana; seorang tetangga yang dulu menitipkan uang untuk ongkos ibu; kolega ayah dari bengkel kulkas yang datang membawa map berisi tanda tangan seluruh RT sebagai dukungan, meski tak satu pun dari mereka paham musik klasik. Wajah-wajah itu, disatukan hanya oleh cinta pada satu anak muda yang lahir dari gang sempit dan entah bagaimana sampai ke panggung ini, adalah peta perjalanan yang tak tertulis di undangan resital mana pun.
Ayah menepuk pundak Arsa sekali, singkat, cara seorang teknisi memastikan sebuah sambungan sudah benar sebelum menyalakan mesin. "Kami di depan," katanya. "Kamu tinggal main. Sisanya biar kami yang tanggung, seperti biasa."
Arsa mengangguk, tak sanggup bicara. Di balik pintu auditorium, grand piano warisan menunggu di tengah panggung, tertutup kain beludru gelap, sunyi seperti selalu sebelum seseorang berani membangunkannya. Sebentar lagi ia harus masuk ke ruang tunggu di belakang panggung, dan meninggalkan wajah-wajah itu di kursi depan—satu-satunya penonton yang benar-benar memahami harga tiap nada yang akan ia mainkan malam itu.