Ruang tunggu di belakang panggung berbau pernis dan debu lampu yang terlalu lama menyala. Arsa Pradipta duduk di kursi lipat dengan punggung yang tak menyentuh sandaran, seolah bersandar berarti mengizinkan tubuhnya berhenti melawan. Dari balik dinding, ia mendengar suara penonton — gemuruh pelan seperti hujan yang belum memutuskan hendak turun atau tidak. Sepuluh menit. Seorang petugas berbisik angka itu sambil lewat, dan angka itu menancap di dadanya seperti jarum yang tak sengaja tertinggal di kain.
Ia menatap tangan kanannya di atas paha. Diam. Terlalu diam. Ia menyuruhnya bergerak — sekadar mengetuk irama pertama karya yang akan ia mainkan — dan untuk sesaat jari-jari itu menurut. Lalu, tanpa perintah, jari manis menekuk ke dalam, menarik jari tengah ikut serta, membentuk cakar kecil yang tak bisa ia luruskan tanpa memakai tangan kiri. Napasnya tersangkut. Ia menekan buku-buku jari itu ke pahanya, keras, seakan bisa memaksanya kembali seperti menekan pegas yang macet. Keringat dingin merambati tengkuknya. Bukan sekarang, batinnya. Kumohon, bukan sekarang.
"Berhenti menatapnya," kata sebuah suara.
Profesor Danupraja berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan gelap yang membuatnya tampak lebih tinggi dari biasanya. Ia tidak masuk dengan gaya seseorang yang hendak menghibur. Ia masuk seperti orang yang tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam tubuh muridnya, karena ia pernah menghuninya.
"Semakin kau pelototi tangan itu," lanjutnya, menutup pintu di belakangnya, "semakin ia tahu kau takut. Tangan itu tak bodoh, Arsa. Ia membaca ketakutanmu lebih cepat daripada telingamu membaca nada."
Arsa menelan ludah. "Ia mengunci lagi tadi. Di tengah tangga nada." Suaranya keluar tipis, hampir tak bertulang. "Kalau ini terjadi di panggung—"
"Mungkin terjadi." Danupraja tidak berpura-pura. Ia menarik kursi lipat yang lain, mendudukkannya berhadapan, dan duduk dengan lutut nyaris menyentuh lutut muridnya. "Aku tidak akan berdiri di sini dan berbohong bahwa jarimu akan tenang begitu tirai terbuka. Aku pernah dibohongi begitu, oleh guruku sendiri, malam sebelum aku naik panggung untuk terakhir kalinya. Ia menepuk bahuku dan bilang semuanya akan baik-baik saja."
Ia berhenti. Di bawah lampu neon yang berdengung, wajah profesor itu tampak lebih tua, garis-garisnya lebih dalam, seolah ada tahun-tahun yang selama ini ia sembunyikan di balik metronom dan teriakan.
"Semuanya tidak baik-baik saja," kata Danupraja pelan. "Jariku mengunci di bar keempat puluh. Aku memaksanya. Aku memaksa dan memaksa sampai musik itu berubah jadi perkelahian, dan penonton bisa mendengarnya — bukan nada yang salah, tapi ketakutan yang salah. Aku turun panggung malam itu dan tak pernah naik lagi selama tiga puluh tahun. Bukan karena tanganku. Karena aku memainkan malam itu untuk membuktikan aku belum hancur. Dan piano tahu kalau kau berbohong tentang alasanmu bermain."
Arsa merasakan sesuatu di kerongkongannya, panas dan sesak. Dari luar, tepuk tangan kecil menyambut seseorang yang memberi sambutan pembuka. Waktunya menyusut. Ia bisa mendengar detak jam dinding tua di sudut ruangan, dan — kutukan itu — telinganya menangkap dengungnya: nada yang sedikit tinggi, sedikit meleset. Bahkan di sini, di gedung semegah ini, absolute pitch-nya mencari-cari kejanggalan. Dulu itu menyiksanya. Nada B fals dari upright gereja yang selalu membuntutinya ke mana pun.
"Aku menyusun karya ini di sekitar nada yang fals, Prof," bisiknya, hampir pada dirinya sendiri. "Nada B gereja itu. Yang bertahun-tahun kupikir menghantuiku."
"Aku tahu." Untuk pertama kalinya sesuatu yang menyerupai kelembutan melintas di mata Danupraja. "Dan itu sebabnya kau tidak boleh naik ke sana untuk membuktikan apa pun. Kau bukan Bramantyo. Kau bukan anak-anak yang bermain agar dikagumi. Kalau kau naik untuk menunjukkan bahwa Arsa Pradipta belum tamat, tangan itu akan mengunci, dan kau akan mengulang malamku." Ia mencondongkan tubuh. "Tapi kalau kau naik karena ada sesuatu yang harus dikatakan — sesuatu yang hanya bisa dikatakan oleh orang yang tangannya mengkhianatinya dan tetap memilih bunyi — maka biar saja jarimu mengunci. Bunyi yang jujur lebih menggetarkan daripada seratus nada yang sempurna dan kosong."
Arsa menunduk. Ia teringat upright ber-nada-B-fals itu, teringat ibunya yang duduk di bangku jemaat, teringat Pak Pendeta yang bilang kidung yang cacat pun tetap menggerakkan orang. Ia teringat Renjana Larasati yang menaruh partitur tangan kiri di pangkuannya seperti menaruh tali penyelamat. Grand piano warisan Eyang Wreksodiningrat menunggu di seberang tirai itu — instrumen yang pemilik aslinya pun pernah kehilangan tangannya, piano yang menjadi monumen atas pengkhianatan tubuh yang sama.
Ia meluruskan jari-jarinya dengan tangan kiri, pelan, satu per satu, tanpa memaksa. Kali ini ia tidak menyuruhnya kembali sempurna. Ia hanya mengucap terima kasih diam-diam kepada tangan itu — atas apa yang masih bisa diberikannya, dan atas yang tak bisa.
"Aku takut," kata Arsa akhirnya. Tapi suaranya tak lagi tipis. "Aku tetap akan naik."
Danupraja berdiri. Ia tidak menepuk bahu Arsa. Ia melakukan sesuatu yang lebih langka — ia mengangguk, sekali, dengan cara seseorang mengakui orang yang setara. "Jangan mainkan untuk mereka," katanya di pintu. "Jangan mainkan untukku, atau untuk Ibu Widari, atau untuk peringkat yang sudah tak ada. Mainkan karena bunyi itu benar. Kalau jarimu jatuh, biarkan jatuh di dalam kalimat musik yang jujur. Itu saja yang pernah kuinginkan darimu, sejak hari pertama aku meneriakimu."
Petugas mengetuk pintu. Lima menit.
Arsa berdiri. Lututnya bergetar, tapi kakinya menopang. Ia menyusuri lorong sempit menuju sisi panggung, di mana cahaya dari balik tirai jatuh seperti garis emas di lantai. Tangan kanannya masih terasa asing, sebuah benda pinjaman yang tak sepenuhnya miliknya lagi. Ia membiarkannya menggantung, tidak menyembunyikannya, tidak lagi malu padanya. Di seberang, di tengah panggung yang gelap, grand piano itu menunggu dengan tutup terangkat seperti sayap yang setengah terbuka.
Ia menarik napas. Di kepalanya, samar, nada B yang fals itu berdengung — dan untuk pertama kalinya dengungan itu tidak terdengar seperti ancaman. Ia terdengar seperti undangan.
Arsa melangkah ke arah cahaya.