Lampu panggung menyala satu demi satu, dan untuk sesaat Arsa hanya berdiri di sisi kelam sayap panggung, mendengar detak jantungnya sendiri lebih keras daripada tepuk tangan penyambutan yang mulai reda. Grand piano warisan itu menunggu di tengah panggung, hitam legam di bawah cahaya, tutup ekornya terbuka seperti sayap yang direntangkan setengah. Ia sudah menghafal jarak dari tirai ke bangku itu—tujuh belas langkah—tetapi malam ini kakinya terasa milik orang lain.
Ia melangkah. Di barisan depan, ia melihat ibunya duduk tegak dengan kerudung terbaik yang dimilikinya, tangan menggenggam tangan ayah yang mengenakan kemeja licin bekas disetrika sendiri semalam. Pak Pendeta di sebelah mereka, mengangguk kecil, seolah memberi berkat tanpa suara. Lebih jauh, Renjana berdiri di balik tirai seberang, cello-nya bersandar di sudut, matanya tak lepas dari punggung Arsa. Dan di kursi juri, Profesor Danupraja duduk dengan wajah batu yang selama ini Arsa kenal—tetapi kali ini rahangnya sedikit gemetar, nyaris tak kentara.
Arsa duduk di bangku. Ia menyesuaikan tinggi bangku seperti biasa, meski tahu penyesuaian itu tak lagi untuk kenyamanan tangan kanan yang kini ia biarkan tergolek di atas paha, kaku dan asing seperti benda pinjaman yang harus dikembalikan. Tangan kirinya ia letakkan di atas tuts gading, dan gading itu terasa hangat—entah karena lampu sorot atau karena begitu banyak jari sebelum dia pernah menekannya di sini, termasuk jari-jari Eyang Wreksodiningrat sendiri, dahulu, sebelum tangannya juga dikhianati oleh tubuhnya.
Ia menutup mata sebentar. Bukan untuk menenangkan diri, tetapi untuk mendengar—benar-benar mendengar, seperti pendengaran mutlaknya selalu memaksanya mendengar setiap nada dengan kejujuran yang menyakitkan. Yang ia dengar bukan keheningan gedung konser yang mewah ini, melainkan derit bangku upright tua di gereja Wonokromo, dan di baliknya, nada B yang selalu sumbang itu, yang dahulu menghantuinya di tengah malam ketika ia merindukan kesempurnaan yang tak pernah ia miliki.
Tangan kirinya bergerak.
Nada pertama jatuh sendiri, sederhana, hampir telanjang—sebuah interval kelima yang menggantung di udara tanpa penopang tangan kanan untuk menebalkannya. Beberapa penonton di barisan belakang saling pandang, seolah menunggu tangan yang lain menyusul. Tangan itu tak menyusul. Arsa membiarkan kesunyian di sebelah kanan tubuhnya berbicara sama kerasnya dengan nada yang ia mainkan, dan dari kesunyian itu ia membangun melodi, memutar bas dan suara tengah dengan lima jari yang sama, seperti seorang tukang yang membangun rumah dari satu tumpukan kayu yang tersisa setelah kebakaran.
Ketika motif kedua datang, ia menyusupkan nada B—bukan B yang murni sesuai partitur, melainkan B yang sedikit merosot, tepat seperti nada fals piano gereja yang dahulu ia benci. Ia telah menuliskannya begitu, sengaja, di lembar aransemen yang ia susun berbulan-bulan bersama Profesor Danupraja: bukan kesalahan yang harus disembunyikan, melainkan warna yang harus dipertahankan. Telinganya, yang selama bertahun-tahun menyiksa dirinya karena tak sanggup memaafkan satu nada sumbang, kini membiarkan nada itu berdiri di tengah harmoni seperti bekas luka yang dibiarkan terlihat.
Di tengah bagian kedua, ketika tempo meninggi dan pola arpeggio menuntut lompatan cepat, ia merasakan jari manisnya mengejang samar—bayang gejala lama yang tak pernah benar-benar pergi, hanya tertidur. Selama sepersekian detik ia berpikir tangannya akan mengkhianatinya lagi, di depan semua orang yang paling ia cintai. Tetapi ia telah berlatih untuk momen ini: bukan untuk memaksa jari itu patuh, melainkan untuk membiarkan tangan kirinya menopang, mengalihkan bobot melodi ke jari-jari yang masih setia. Lompatan itu tak sempurna—ada satu nada yang meleset, terlalu pendek durasinya, terdengar oleh telinganya sendiri sebagai cacat yang tak bisa ia bantah. Ia tak berhenti. Ia biarkan cacat itu lewat, seperti membiarkan gelombang lewat tanpa melawannya, dan musik terus mengalir ke arah yang ia tuju.
Ia mendengar, di sela permainannya sendiri, isak kecil dari arah ibunya. Ia mendengar Danupraja tak lagi mengetuk lantai dengan kaki seperti kebiasaannya menghitung ketukan murid-muridnya—profesor itu diam total, seolah menghitung sesuatu yang jauh lebih tua daripada birama.
Bagian terakhir mendekat, bagian yang paling ia takuti karena di situlah melodi utama harus kembali membawa tema B fals, kali ini bukan sebagai selingan melainkan sebagai puncak—nada itu harus berdiri sendiri, telanjang, tanpa iringan apa pun, seperti pengakuan. Tangan kirinya naik ke register tinggi, memainkan kalimat yang ia susun sendiri berdasarkan kidung yang dahulu ia dengar dari upright gereja, kidung yang menurut Pak Pendeta tetap menggerakkan jemaat meski piano itu fals empat puluh tahun lamanya. Ia memainkan nada itu pelan, membiarkannya bergetar lebih lama daripada yang tertulis di partitur mana pun, membiarkan ketidaksempurnaannya terdengar sepenuhnya di ruangan yang biasa menuntut kesempurnaan.
Ia tak lagi memainkan untuk peringkat, untuk beasiswa, untuk syarat yang mengikat sebuah piano yang bisa ditarik kapan saja. Ia memainkan untuk tangan yang gagal dan tangan yang bertahan sekaligus, untuk ibunya yang bekerja di gereja, untuk ayahnya yang memperbaiki mesin yang orang lain buang, untuk Eyang Wreksodiningrat yang menghabiskan sisa hidupnya mengajar setelah jarinya sendiri berhenti menurut. Nada demi nada, ia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada instrumen yang dipinjamkan itu, seolah tangan kirinya dan gading di bawahnya adalah satu tubuh yang sama, satu-satunya yang tersisa.
Kalimat terakhir turun perlahan, melambat dengan sendirinya, hingga hanya satu nada yang tertinggal—B, fals, tunggal, bergetar di udara aula yang mewah itu seperti getar terakhir lonceng gereja tua. Ia mengangkat tangan kirinya dari tuts sepersekian detik sebelum dentang itu benar-benar mati, membiarkan gema menyelesaikan apa yang jarinya sudah tak sanggup selesaikan.
Ruangan itu diam. Sedemikian diam hingga Arsa bisa mendengar napasnya sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak distonia itu bersarang di tangannya, keheningan tidak terasa seperti kekalahan.