Ruangan itu dulu gudang partitur, sebelum Ibu Widari menandatangani surat yang mengubahnya jadi "Ruang Latihan Amanah" — nama yang diusulkan Arsa sendiri, meski ia masih canggung tiap kali orang menyebutnya begitu di depannya. Dindingnya belum sempat dicat ulang, catnya masih warna gudang, tapi ada dua piano di sana sekarang: sebuah upright yang disumbangkan seorang alumnus, dan, di sudut yang paling banyak cahaya, salinan kecil kebijakan Eyang Wreksodiningrat — bahwa yang dipinjamkan harus terus dipinjamkan, bukan disimpan.
Arsa datang jam empat, seperti biasa, sebelum anak itu tiba. Ia duduk di bangku upright, membentangkan tangan kirinya di atas tuts, menekan sebuah akord pelan hanya untuk memastikan telinganya masih bekerja seperti dulu — telinga yang tak pernah rusak, hanya tangan yang berubah bahasa. Nada-nada itu berdiri tegak di kepalanya, presisi seperti selalu, dan untuk sepersekian detik ia teringat betapa dulu kesempurnaan semacam ini terasa dingin, sebelum ia belajar apa yang harus dilakukan dengannya.
Pintu berderit. Seorang anak perempuan masuk lebih dulu dari ibunya, tas ranselnya lebih besar dari punggungnya sendiri, sepatu kanvas yang solnya mulai mengelupas di ujung jempol. Namanya Sekar. Sebelas tahun, dari sebuah gang di Ngagel yang tak jauh berbeda dari gang tempat Arsa dibesarkan, dan seorang guru SD-nya yang kebetulan pernah mendengar Arsa main di gereja, mengiriminya sepucuk pesan singkat: ada anak ini, Mas, kalau boleh didengar.
"Bu Renjana belum datang?" tanya Sekar, agak kecewa, dan Arsa tertawa kecil.
"Sabar. Cellonya berat, jadi jalannya pelan-pelan."
Renjana muncul lima menit kemudian, sudah membawa selonya dan bibirnya melengkung menahan senyum saat Sekar langsung berlari kecil menghambur menyapanya. Sejak kepulangannya yang lebih jarang tapi lebih pasti — dua minggu sekali dari orkestra tempatnya kini duduk sebagai pemain cello tetap, jarak yang mereka rundingkan bersama tanpa ada yang mengalah penuh — Renjana selalu menyempatkan diri mampir ke ruang ini, kadang hanya duduk di kursi kayu dekat jendela, kadang ikut memainkan sesuatu bersama murid-murid kecil Arsa, seolah cello dan piano memang selalu ditakdirkan saling menunggu.
Hari itu, Sekar harus memainkan lagu yang sudah dua minggu ia latih, dan tangannya gemetar begitu jarinya menyentuh tuts pertama. Ia berhenti. Mengulang. Berhenti lagi.
"Aku salah lagi," katanya, hampir menangis, "terus-terusan salah di bagian yang sama."
Arsa tidak langsung menjawab. Ia menggeser bangkunya mendekat, lalu menekan satu tuts di upright itu — tuts B, yang sejak pertama kali piano ini datang ke ruangan itu memang sedikit sumbang, sedikit lebih rendah dari seharusnya, seolah instrumen tua itu membawa cacatnya sendiri ke mana pun ia pergi.
"Dengar," ujarnya. "Nada itu fals. Sudah dari dulu, di piano lain, di gereja tempat aku besar. Empat puluh tahun, kata orang yang merawatnya. Dan tahu apa yang kupelajari dari situ?"
Sekar menggeleng, matanya masih berkaca-kaca tapi mendengarkan.
"Bahwa nada yang sedikit meleset itu bukan berarti musiknya rusak. Kadang justru di situ orang mengenali kamu — bukan di bagian yang sempurna, tapi di bagian yang jujur." Ia menekan tuts itu sekali lagi, membiarkan gaungnya memudar. "Kesalahanmu tadi bukan sesuatu yang harus kausembunyikan sampai hilang. Kau cuma perlu tahu di mana letaknya, dan mainkan sekitar itu dengan sadar. Bukan berpura-pura tak ada."
"Tapi kalau juri dengar—"
"Aku bukan juri," Arsa memotong, lembut. "Dan lagi pula, aku sendiri tak pernah lagi main dengan tangan yang sempurna. Kau lihat ini?" Ia mengangkat tangan kanannya, membiarkan Sekar memperhatikan jari manisnya yang masih, sampai sekarang, sedikit lebih malas dari saudara-saudaranya. "Aku belajar main ulang dari nol dengan tangan begini. Bukan supaya orang tak sadar aku berbeda. Supaya aku sendiri berdamai dengannya."
Renjana, dari kursinya, menambahkan tanpa diminta, "Cello-ku juga fals kalau kelembapan naik. Aku sudah berhenti membencinya. Sekarang aku dengar itu seperti cuaca — bukan salahku, bukan salah cellonya, cuma sesuatu yang harus kuajak bicara tiap hari."
Sekar tertawa kecil mendengar itu, air matanya nyaris kering, dan ia kembali menghadap tuts-tuts itu dengan bahu yang sedikit lebih turun, sedikit lebih lega.
Program itu — yang belum resmi punya nama besar, baru sebatas surat keputusan tipis dari yayasan dan tiga murid yang datang bergiliran tiap sore, salah satunya penyintas cedera pergelangan yang dulu vokalis paduan suara gereja tetangga — tumbuh diam-diam dari sisa dana yang tak terpakai penuh saat Ibu Widari menata ulang warisan itu. Danupraja datang sekali seminggu, tak lagi memaksakan disiplin lama yang keras, tapi masih menuntut kejujuran teknik dari tiap anak yang duduk di depan piano itu — kejujuran, kata Arsa dalam hati, adalah satu-satunya hal yang tak pernah berubah dari gurunya sejak awal.
Ketika Sekar akhirnya berhasil melewati bagian yang tadi meleset, tanpa kesempurnaan tapi dengan tempo yang mantap dan nada B yang dibiarkannya berbunyi apa adanya, Arsa merasakan sesuatu yang tak pernah ia duga akan ia rasakan di ruangan berbau cat lama ini: bukan kebanggaan atas muridnya semata, tapi rasa lega yang aneh, seperti sebuah pinjaman yang akhirnya berpindah tangan dengan selamat.
Di luar jendela, langit Surabaya mulai jingga. Renjana menyandarkan kepala sebentar ke bahunya, hanya sebentar, cukup untuk mengatakan segala yang tak perlu diucapkan lagi di antara mereka. Sekar berkemas, berjanji akan datang lagi Kamis, dan menyebut, hampir malu-malu, bahwa ia ingin suatu hari bisa main sebaik Arsa.
"Jangan," kata Arsa, sambil membenahi partitur di meja. "Main sebaik dirimu sendiri saja. Itu lebih susah, tapi lebih tahan lama."