Malam itu gereja kosong, hanya diterangi dua lampu neon yang berdengung pelan dan cahaya jalan yang menyelinap lewat kaca patah di sudut atap yang baru diperbaiki tahun lalu. Arsa duduk di depan piano upright tua, jarinya mengambang di atas tuts yang catnya sudah mengelupas di beberapa titik, meninggalkan kayu telanjang seperti bekas luka yang sudah lama sembuh. Ia menekan B, dan seperti selalu, nada itu jatuh sedikit di bawah semestinya—fals, seperti empat puluh tahun terakhir, seperti sepanjang umur pianis ini di bumi Wonokromo.
Dulu nada itu menghantuinya. Sekarang ia menunggu nada itu seperti menunggu suara seseorang yang dikenal—suara ibunya memanggil dari dapur, suara ayahnya membanting pintu kulkas yang baru selesai diperbaiki. Fals, tapi miliknya. Atau lebih tepat: bukan miliknya, tapi dipercayakan padanya untuk sementara, seperti segala yang lain.
Ia membuka map tua yang dipinjamkan Ibu Widari bulan lalu—bukan dipinjamkan sesungguhnya, sebab Ibu Widari sudah bilang jelas, sambil menyerahkannya dengan kedua tangan seperti menyerahkan sesuatu yang hidup: "Ini bukan warisan yang harus kausimpan, Arsa. Ini amanah yang harus kauteruskan." Di dalamnya, nada-nada terakhir Eyang Wreksodiningrat, tertulis dengan tangan yang gemetar di tahun-tahun setelah tangannya sendiri berhenti menurut—coretan-coretan yang berhenti di tengah birama, seolah sang maestro tahu ia takkan sempat menuntaskannya, dan menyimpannya untuk seseorang yang belum lahir.
Selama berbulan-bulan Arsa menyalin, menerka, kadang membuang lembar demi lembar karena tak sanggup menemukan jalan yang jujur untuk melanjutkannya. Sampai suatu malam ia sadar: mungkin cara paling jujur untuk menuntaskan komposisi seorang pianis yang kehilangan tangan kanannya adalah dengan tangan kiri seorang pianis lain yang juga kehilangannya. Bukan menyembuhkan yang cacat, tapi menjahitnya dengan cacat yang lain, hingga keduanya jadi satu kain.
Pintu gereja berderit. Ibunya masuk membawa dua gelas teh, memberi satu ke ayah yang duduk di bangku ketiga, kaki kanannya masih agak diseret sejak cedera lamanya tapi kini ia berjalan tanpa mengeluh, sebab bengkel kulkas kecilnya di ujung gang sudah punya dua pelanggan tetap per minggu, cukup untuk menegakkan kepala. Pak Pendeta duduk di kursi rodanya yang baru—bukan karena semakin sakit, katanya sambil tertawa, hanya karena lututnya "sudah dipinjam terlalu lama dan sekarang menagih." Ia menaruh Alkitabnya di pangkuan, menatap Arsa dengan mata yang sama seperti tujuh tahun lalu, saat pertama kali membiarkan anak pembantu gereja itu menyentuh tuts pianonya.
"Sudah selesai?" tanya ibunya, pelan, seperti bertanya apakah nasi sudah matang.
"Hampir," jawab Arsa. Ia tak bisa menjelaskan bahwa sebuah komposisi tak pernah benar-benar selesai—ia hanya berhenti pada titik ketika penciptanya harus melepaskannya, sebagaimana setiap pianis pada akhirnya harus melepaskan tangannya, cepat atau lambat, pada usia berapa pun.
Ponselnya bergetar di atas piano. Renjana, dari kota tempat orkestranya berlatih untuk musim baru—jarak yang mereka pilih bersama, bukan yang menimpa mereka. Sebuah pesan singkat: *Main yang bagus malam ini. Aku dengar dari sini, sungguh.* Arsa tersenyum. Absolute pitch-nya dulu adalah kutukan yang membuatnya mendengar terlalu banyak; kini ia tahu ada pendengaran lain yang tak butuh telinga sama sekali.
Ia meletakkan tangan kanannya di pahanya—tangan itu masih di sana, masih miliknya secara hukum tubuh, tapi jari manisnya tak lagi bisa dipercaya untuk pasase cepat, dan ia sudah berhenti memaksanya. Tangan kiri yang memikul segalanya sekarang: kokoh, terlatih ulang dari nol seperti bayi belajar berjalan, mengambil peran ganda yang dulu dibagi dua tangan. Danupraja pernah bilang, di salah satu pelajaran terakhir sebelum Arsa lulus, bahwa seorang guru sejati mengajar muridnya bukan untuk menjadi salinan gurunya, melainkan untuk menemukan cacat yang layak dipertahankan. Arsa baru mengerti kalimat itu sepenuhnya sekarang, bertahun kemudian, ketika ia sendiri mulai mengajar—anak-anak dari gang-gang seperti gangnya dulu, dan sesekali seorang pianis dewasa yang tangannya juga berhenti menurut, datang dengan mata yang sama takutnya seperti matanya sendiri dulu di ruang periksa Dr. Prasetya.
Ia mulai memainkan bagian akhir yang ia tulis sendiri untuk menutup naskah Eyang Wreksodiningrat: melodi tangan kiri yang membentang lebar, menopang dirinya sendiri seperti jembatan yang membangun penyangganya sambil berjalan di atasnya, dan di titik tertentu, sengaja, tangannya menekan B itu—fals, seperti nada yang sama di gereja ini, seperti nada yang dulu ia sembunyikan lalu ia banggakan. Bukan kesalahan yang diperbaiki, melainkan tanda tangan yang diakui.
Grand piano warisan sudah kembali ke aula institut, dipakai murid-murid baru yang tak tahu berapa banyak yang pernah dipertaruhkan di atasnya. Itu benar sebagaimana mestinya—instrumen itu bukan miliknya, tak pernah, hanya dipinjamkan untuk masa yang diberikan padanya, sebagaimana bakatnya dipinjamkan, sebagaimana tangan kanannya yang dulu sempurna hanya dipinjamkan, dan bahkan usia mudanya sendiri, yang kini mulai ia tinggalkan selangkah demi selangkah, hanyalah pinjaman lain yang harus dikembalikan pada waktunya.
Yang tersisa, pikirnya sambil membiarkan akord terakhir menggantung di udara gereja yang dingin dan sedikit lembap itu, bukan kepemilikan atas apa pun—bukan piano, bukan tangan, bukan bahkan kesempurnaan yang pernah ia kejar mati-matian di lorong-lorong marmer Institut Musik Wreksodiningrat. Yang tersisa hanyalah musik yang sempat tercipta dalam waktu yang diberikan, dan gema yang ditinggalkannya di telinga orang-orang yang mendengarnya, lama setelah jari-jari yang memainkannya berhenti bergerak.
Ibunya menyeruput tehnya. Ayahnya menepuk lantai kayu pelan-pelan mengikuti irama, cara ia dulu—dan masih—menunjukkan cinta tanpa kata. Pak Pendeta memejamkan mata, bukan tidur, hanya mendengarkan dengan cara orang tua mendengarkan doa yang sudah dikenalnya. Dan di kota lain, entah sedang apa, Renjana mendengarkan gema yang sama lewat jarak yang mereka pilih untuk dijembatani, bukan dihindari.
Arsa membiarkan nada B fals itu menggantung sedikit lebih lama dari seharusnya, sebelum jarinya terangkat dari tuts—dan dalam keheningan yang menyusul, ia merasa, untuk pertama kalinya sungguh-sungguh, bahwa ia tak lagi takut pada apa yang dipinjamkan kepadanya, sebab ia sudah tahu persis apa yang akan dilakukannya dengan setiap detik dari pinjaman itu.