Lisa POV
sudah 1 bulan berlalu sejak kedatangan keluarga Aldo kerumah ku.
tapi masih tidak ada kata-kata yang menyatakan bahwa benar diriku akan menikah.
dan sudah 2 Minggu kehamilan ku, Bagas benar-benar meninggalkan ku untuk kerjaan barunya di Kalimantan.
aku berangkat kerja seperti biasa dan menutupi kehamilan ku
lelah, ingin rasanya saat pulang nanti langsung rebahan.
aku tinggal di kos-kosan dekat kantor agar aku tak perlu tergesa-gesa setiap pagi, hanya beberapa Minggu sekali aku mengunjungi rumah mama Rita.
awalnya tidak mendapat restu, karena mama Rita tau kalau aku sudah lama berpacaran dengan Bagas dan pernah melihatku berciuman. tapi aku memperkekeuh alasan ku, dan berakhirlah aku di kos-kosan ini.
tak perlu kendaraan untukku sampai ke kosan, ku menyusuri lorong kamar kamar seperti sekolahan.
ku perhatikan pintu kamar ku dari jauh. 'siapa?'
semakin kuperjelas pengelihatan ku dengan mendekatinya.
"Aldo? kok tau kosan ku disini" jelas kaget bukan main, kukira perjodohan ini tidak jadi karena semua keburukan ku yang sudah diperinci mama Rita.
"aku punya mulut, bisa nanya ke orang Lis.. bukain pintunya, aku ga enak nih diliatin cewe-cewe" kata Aldo
"sok ganteng banget si" jelas ku sembari memutar kunci dan menekan engkel pintu.
"emang iya kok" pede nya
"kenapa do?" kata ku sambil bebersih badan
"duduk do, kosan ku emang cuma segini" kata ku lagi yang risih karena Aldo terlalu tinggi untuk tinggi ku yang hanya 158cm
aku bergegas kekamar mandi, kunci pintu dan mandi.
-
-
Aldo POV
kamar petakan yang saat membuka pintu langsung terlihat kasur, lemari bufet yang panjang seukuran tembok dan diatas nya terdapat tv dan kulkas mini, agak kedalam terlihat pintu yang diyakini kamar mandi dan bersebelahan dengan kompor dan perabot masak lainnya.
ukuran atapnya jelas hampir mengenai kepalaku. ku lihat Lisa bolak balik menyimpan peralatan bekerja nya dan menuju bufet tv mengambil beberapa helai kain dan dibawa nya ke kamar mandi.
aku sudah yakin kalau Lisa mandi. sebenarnya tujuan ku kesini tidak ada, hanya disuruh ibu untuk melihat Lisa calon istriku sesekali.
dan disinilah aku, duduk diatas kasur bingung untuk apa.
cklek~
pintu kamar mandi terbuka diiringi wewangian segar dari sabun. ku lihat Lisa sudah bersih dengan pakaian tidurnya dan handuk dililit diatas kepalanya menyisakan anak rambut dibelakang.
"do, ada apa kesini?" tanya nya sambil menginjak kasurnya mengambil bagian terpojok dari kasur, sedikit menjauh dariku.
"disuruh ibu nengok calon istri" kataku
"kirain ga jadi nikah gara-gara tau kalau aku sudah ga perawan" kata Lisa sambil mengotak Atik handphone nya tidak perduli
"ibu belum tau kalo kamu ga perawan" sebetulnya diriku jengah melihat Lisa cuek, tidak seperti dulu yang selalu mengintil hingga membuat ku ingin menjahilinya
"kasih tau lah do, kasian ibumu kalo tau anaknya nikah sama perempuan bekas" kata Lisa mulai melihatku saat berbicara
"Lisa, boleh pegang" kataku spontan
"hah?! apaan!" ucap Lisa meninggi
"pegang tangan kamu maksudnya" sergahku segera
Lisa mengulurkan tangannya tanpa bicara apapun. ku keluarkan cincin yang memang sudah diniatkan untuk dipakaikan ke Lisa hari ini karena saat lamaran, orangtua sibuk reuni yang alhasil Lisa malah ketiduran
"apa nih do" kata Lisa
"cincin lamaran, nanti cincin kawin nya beda lagi" kataku sambil memperhatikan wajah Lisa yang terlihat bingung
"do, boleh jujur?" kata Lisa membuatku penasaran
"jujur apa nih? jadi aku yang deg-degan" ucapku yang memang benar adanya
"aku hamil sama pacarku. tapi sekarang dia ke Kalimantan kerja, dia baru berangkat hari ini do. ini chat nya" ucap Lisa seraya menunjukkan hp nya yang ternyata sedari tadi dia bertukar pesan dengan pacarnya
(Lisa, aku berangkat hari ini. aku mohon kamu pertimbangin lagi untuk ngebesarin janin nya.. maaf aku ga bisa nemenin kamu diproses aborsi kamu, tunggu aku sukses ya sayang)
wih gila, ternyata betul ada ya laki laki yang kabur dari tanggung jawab kayak gini.
aku tidak kaget waktu Lisa bilang dia hamil, karena aku sudah tau~