Lisa POV
kulihat Aldo masih berkutat didapur untuk memberikan yang terbaik yang dia bisa untukku.
"Lis, kamu mau pedes ga?" kata Aldo yang masih sibuk mengupas bawang
"pedes, oiya do" segera ku menuju kulkas mini samping tv untuk mengambil sosis kenzler kesukaan ku
"pakai ini ya" kata ku menjulurkan sosis dan ku taruh meja dimana bahan masak tersedia disana
kulihat Aldo membuka jaket nya menyisakan d**a nya yang putih.
"hormon hormon" kembali mantra itu kurapalkan sembari menutup mata agar sadarku tetap terjaga
"iya iya, aku tau kamu ngidam kan?" kata Aldo ga peka
tanpa ku jawab, aku kembali ke kasur ku mengecek handphone ku barangkali karyawan ku ada kesulitan
tring!
(sayang, sudah 5 hari aku disini tapi kamu masih belum tanya kabarku? gimana kamu? sudah digugurkan janinnya?) pesan diseberang sana yang membuatku merasakan getir
orang lain bisa menerima anaknya, mengapa sang ayah tidak bisa terima?
menangis ku memikirkan itu
"loh kenapa nangis?" kata Aldo saat mendengar isakan ku
Aldo mendekatiku, mengelus pundak ku tapi aku masih saja terisak.
sedetik kemudian Aldo memelukku dengan d**a polosnya, menangis sejadi-jadinya aku saat itu.
setelah satu jam berlalu, aku masih betah diposisi ku yang mana kami dalam posisi bersandar dan aku tetap didalam d**a polosnya.
"sepertinya kamu suka dadaku ya? aku memang berolahraga untuk memuaskan calon istriku. ga sia-sia olahraga ku, karena kamu suka" kata Aldo sombong
"tidak jadi makan?"
sepertinya Aldo tidak ingin mengungkit mengapa aku bisa menangis tadi
"mm, kamu benar. aku suka dipeluk posisi ini, kamu wangi" kata ku seperti terhipnotis
-
-
D-Day Wedding
semua riuh, semua bersuka
kami melakukannya dengan baik.
sah dimata hukum dan agama.
"Lisa, kamu ga mungkin tinggal dikosan kan?" kata mama Rita menginterupsi
"iya ma, aku sama Aldo bakal tinggal di apartemen nya Aldo" kataku sembari merapihkan koper
"Lisa, panggil Aldo yang sopan" kata mama Rita yang memang setengah Sunda setengah Jawa itu
"iya ma"
"Aldo mau langsung ke apartemen? ga tinggal dirumah mama dulu?" kata mama gantian menginterupsi Aldo
"engga ma, Aldo mau langsung ke apartemen saja sama Lisa agar Lisa bisa segera istirahat.." tutur Aldo tanpa pasang topeng
"yaudah, mama titip Lisa ya.. dia itu suka emosian kamu banyak banyak sabar.. titip cucu ya do" kata mama mengerlingkan matanya menggoda sang menantu yang baru melangsungkan pernikahan tadi siang
kebanyakan tamu undangan tadi siang hanyalah rekan kerja .. tidak ada teman sejawat didalam kamusku, karena sejak mengenal Bagas.
aku tak lagi mengenal dunia pertemanan, fokusku hanya Bagas seorang seolah tak ada lagi yang ku butuhkan selain Bagas.
kami berpamitan dengan orangtuaku untuk segera ke apartemen milik Aldo
-
-
sesampainya di apartemen
"Lisa, mau mandi duluan atau aku duluan yang mandi?" tanya Aldo padaku yang sudah menjejakkan p****t dipersinggahan yang nyaman
"mas duluan aja, kaki ku masih cape banget" kata ku yang mencoba membiasakan diri memanggil Aldo dengan sebutan mas
"Lis, pegangan Lis!" kata Aldo panik
"kenapa mas?" aku pun berlari kearah Aldo
"dunia mau hancur dengar Lisa manggil aku mas ehehe" kata Aldo guyon
"mas! ih" kataku balik lagi ke tempatku tadi
Aldo pun masuk kamar mandi dengan wajah yang tidak bisa ditebak
Author POV
selesai nya Aldo mandi, Aldo tau kelemahan Lisa adalah dadanya. sengaja ia tidak pakai atasan hanya pakai celana training.
Lisa pun bergeming pura-pura tidak melihatnya.
Lisa mulai membuka kopernya salah tingkah untuk mempersiapkan baju yang akan dipakai nya didalam kamar mandi.
"sayang, gamau coba d**a mas dulu?" ledek Aldo hingga Lisa mengerucutkan bibirnya
Lisa pun berjalan cepat menuju kamar mandi yang berada didalam kamar tersebut.
apartemen ini ukurannya lebih besar daripada apartemen milik Bagas.
apartemen yang memiliki ruang tamu dan dapur dengan sekat partisi minimalis yang indah.
kosan Lisa sudah dikosongkan sejak dua hari sebelum menikah.
barangnya pun disimpan dicoffeshop milik nya.
Lisa sudah tidak lagi boleh bekerja oleh Aldo di masa masa kehamilannya.
Lisa pun menyudahi aksi nya dikamar mandi, membiarkan rambut basahnya tergerai.
"sayang duduk sini" ajak Aldo agar Lisa menduduki tempat yang disiapkan Aldo
"kenapa?" tanya lisa yang masih saja tidak ingin berlama-lama melihat d**a Aldo
"kenapa ga dikeringkan? nanti kalau masuk angin bagaimana? masa malam pertama gajadi nyoblos gara-gara kamu nya masuk angin" kata Aldo vulgar
"ih mas! ngomong nya"
"loh, mas sudah halal kok nyoblos kamu" kata Aldo sambil mengeringkan rambut Lisa dengan handuk baru
hening suasana kira-kira jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
"tidur Lis" ajak Aldo menepuk bantal disebelahnya
"iya mas, aku mau ambil minum dulu mas mau nitip?" kata Lisa grogi
"nitip kamu aja baik baik didapur" kata Aldo gombal.
"emangnya aku bakal kenapa?" kata Lisa sombong
"gapapa, kalo malem-malem gini suka ada yang berdiri didapur" kata Aldo menakut-nakuti
"hantu maksudnya?" kata Lisa ga percaya dan tetap berjalan menuju dapur yang gelap gulita
sepersekian menit berlalu
"massss!!!" teriak Lisa dari dapur
"kenapa Lis?" kaget Aldo langsung beranjak menuju dapur
"s**u ku lupa dibawa yaaa? aku tiba-tiba pengen s**u coklat" kata Lisa
"kirain betulan ada hantu"
"dih kamu yang nakutin, kamu juga yang panik mas?" ledek Lisa
"mas ada s**u uht coklat stock dikulkas, mau itu aja? besok baru kita beli s**u hamil nya" ucap Aldo sambil menuju kulkas yang dimaksud
Yap! terlihat berjejer s**u uht dengan all variant
"ini sayang s**u nya" kata Aldo menyerahkan s**u uht yang sudah ditusukan sedotannya ke Lisa
diminumnya s**u tersebut
"mas, eneg" kata Lisa menunjukan ekspresi masam dan menyerahkan s**u kotak nya ke Aldo dan dihabiskan sisanya .
"sudah yuk, kekamar.. mas belum dapat jatah"