Penanda latihan yang dibawa Peter ternyata terlalu dekat ketika pertama disusun. Shalter mencoba melewati jalurnya, kehilangan bola, lalu menyalahkan jarak sebelum ayahnya sempat memberi saran. Peter menatap susunan tersebut dan setuju mereka perlu mengubahnya. Tidak ada kebutuhan membuktikan anak salah agar orang dewasa tetap terlihat pandai. Mereka menggeser satu per satu sampai ada ruang yang cukup untuk mencoba dengan lebih tenang.
Sabelle memperhatikan dari tempat yang disepakati. Area sudah diperiksa sebelum permainan dimulai dan tidak menghalangi orang lewat. Ia membantu mengingatkan waktu istirahat, kemudian kembali membaca pesan pekerjaan yang memang perlu dijawab. Tidak ada gambar anak yang diambil untuk dikirim kepada pengelola. Hari tersebut milik Shalter, termasuk ketika ia membuat wajah kesal karena bola kembali lolos dari tangan.
Peter mencoba setelah diminta memperlihatkan. Ia berhasil melewati bagian awal, lalu kehilangan kendali pada putaran terakhir. Shalter tertawa keras dan segera mengatakan Daddy juga perlu latihan. Ayahnya menerima penilaian itu. Mereka mencoba lagi dengan urutan berbeda, saling menunggu mengambil bola, lalu duduk ketika anak mengatakan kakinya sudah ingin berhenti sebentar.
'Daddy pulang ke tempat Daddy lagi sesudah ini?' tanya Shalter saat minum.
'Ya. Kamu pulang bersama Mommy sesuai rencana.'
'Aku tahu. Aku cuma tanya.'
Peter mengangguk tanpa menambahkan penjelasan panjang mengenai perpisahan. Pertanyaan anak kadang memerlukan jawaban yang sama supaya keadaan terasa pasti. Ia tidak menganggapnya undangan membicarakan keinginan kembali kepada Sabelle. Setelah minum, Shalter memilih permainan terakhir, kemudian membantu membereskan penanda dengan menghitung satu per satu.
Saat berpamitan, ia memeluk Peter lebih lama daripada biasanya. Sabelle menunggu tanpa mengatakan sudah waktunya cukup hanya karena dadanya terasa berat melihat kerinduan tersebut. Peter pun melepaskan ketika Shalter mundur, tidak menggunakan pelukan panjang sebagai bukti bahwa anak menginginkan rumah mereka kembali. Ia mengingatkan waktu komunikasi berikut yang sudah diketahui, lalu membiarkan putranya kembali kepada ibunya.
Dalam perjalanan, Shalter mendadak marah karena penghapus kecilnya tidak ditemukan di dalam tas. Sabelle berhenti di tempat aman sebelum membantu mencari. Benda tersebut ternyata ada pada kantong lain. Ketika ditemukan, anak itu tidak segera tenang. Ia memegangnya erat, kemudian menangis dengan suara yang membuat ibunya memahami persoalan bukan hanya barang yang sempat dianggap hilang.
'Aku kangen Daddy,' katanya. 'Padahal tadi sudah ketemu.'
Sabelle mengangguk, mengatakan pertemuan tidak selalu menghabiskan kerinduan. Anak boleh merasa senang sudah bermain sekaligus sedih karena berpisah lagi. Ia tidak perlu malu mengatakannya di depan Mommy. Sabelle duduk menunggu sampai napas putranya lebih tenang, lalu menanyakan apakah ingin dibacakan rencana berikut atau hanya ditemani dahulu.
'Ditemani saja.'
'Baik.'
Beberapa menit berlalu tanpa cerita baru. Sabelle memikirkan betapa mudahnya mengatakan bahwa anak sudah mendapat cukup waktu sehingga seharusnya tidak lagi menangis. Ia tidak ingin mengukur perasaan dengan durasi permainan. Shalter kehilangan gambaran rumah yang pernah diharapkan, dan pertemuan baik dengan ayahnya dapat membuat kehilangan itu justru lebih terasa, bukan otomatis sembuh.
Setelah siap melanjutkan perjalanan, anak menanyakan apakah Mommy juga pernah kangen Daddy. Sabelle memilih jawaban yang benar tanpa menyerahkan seluruh perasaannya. Ia pernah merindukan banyak bagian kehidupan mereka dahulu. Sekarang ia sedang memilih cara menjalani hidup yang berbeda. Kerinduan tidak selalu berarti mereka harus kembali menjadi pasangan, sebagaimana kemarahan tidak membuat semua kenangan baik menjadi palsu.
'Jadi boleh kangen tapi tetap pulang ke rumah kita?'
'Boleh. Kamu tidak melakukan sesuatu yang salah dengan merindukannya.'
Di rumah, Shalter memilih menaruh bola sebelum bercerita kepada Emily. Ia menceritakan Daddy yang gagal melewati penanda dan dirinya yang berhasil setelah jarak diperlebar. Tidak ada keluarga yang mengatakan jangan menyebut Peter terlalu sering karena Mommy sedang berpisah. Sabelle telah meminta ruang untuk cerita seperti itu tetap ada, tanpa menjadikan rumah tempat anak harus menyaring siapa yang boleh disayanginya.
Malamnya Sabelle menyampaikan kepada Peter bahwa anak merasa sedih setelah pertemuan dan ingin tetap mempunyai kepastian komunikasi. Ia tidak mengirim cerita itu sebagai tuduhan atau undangan memperpanjang setiap pertemuan. Mereka memeriksa apakah waktu berikut sudah cukup jelas dan apakah penutupan dapat dibuat lebih dapat dipahami. Peter menyetujui tanpa menawarkan datang mendadak malam itu untuk meredakan perasaannya sendiri.
Sabelle juga meninjau kebutuhannya. Ia merasa lelah menghadapi pertanyaan yang dapat menyentuh harapannya sendiri dahulu. Emily bersedia mendengarkan setelah memastikan tidak mengambil waktu istirahat yang diperlukan. Putrinya mengatakan sulit melihat Shalter merindukan ayah tanpa merasa dirinya orang yang mempertahankan perpisahan. Ibunya mengingatkan bahwa tidak semua kesedihan anak dapat dicegah dengan orang dewasa menjalani hubungan yang tidak lagi dipilihnya.
'Aku tahu,' kata Sabelle. 'Aku hanya perlu mengatakannya supaya tidak terus menjawab rasa bersalah di kepalaku sendiri.'
Mereka menyepakati untuk menanyakan bantuan tambahan bila kesedihan Shalter terus mengganggu kebutuhannya, tanpa memberi label berdasarkan satu sore yang berat. Sabelle akan berbicara bersama Peter mengenai pilihan yang tepat dan melihat apa yang disarankan orang yang memang dapat membantu anak. Ia tidak ingin menunggu sampai merasa gagal sendiri, juga tidak ingin mengubah setiap air mata menjadi keadaan darurat. Untuk sekarang mereka mencatat apa yang benar-benar terjadi dan tetap mendengarkan putranya.
Sebelum tidur, Shalter meminta mengetahui lagi kapan dapat menelepon Daddy. Sabelle menunjukkan waktu yang disepakati dan menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin dicatat supaya tidak lupa diceritakan. Anak itu memilih menuliskan latihan penanda, lalu menambahkan gambar bola. Ia meletakkan kertas di tempat mudah ditemukan, mengecek sekali, kemudian naik ke tempat tidur.
Malam tersebut tidak berakhir dengan janji bahwa pertemuan berikut akan menghapus seluruh rindu. Sabelle hanya memastikan kertas tetap ada dan dirinya mendengar ketika putranya memanggil. Ia dapat menemani kesedihan tanpa mengubahnya menjadi tugas kembali menikah dalam hati. Di ruangan yang tenang, Shalter mulai mengantuk, masih menyayangi Daddy dan tetap aman berada bersama Mommy. Kedua hal itu tidak perlu saling membatalkan agar ia boleh beristirahat.