"apa!!!?, lelaki muda itu menciumnya? apa yang kalian kerjakan disana? bagaimana bisa?"
Hanson menggebrak meja dengan kasar dan frustasi merasa kecewa dengan kinerja suruhannya saat memata-matai Carmen. Sejak kejadian itu Hanson menyuruh anak buahnya untuk mengikuti apapun yang dilakukan oleh Carmen termasuk memasang camera pengantai di rumah Carmen, hal itu memang tidak sopan tapi itu semua demi satu misi yang membuatnya terpaksa melakukannya.
"maafkan kami Tuan Hanson, itu semua kelalaian kami, kami akan bekerja lebih baik lagi untuk mengawasi Nona Carmen"
"jangan sampai pria manapun menyentuhnya lagi, kalian paham?
"lalu bagaimana dengan nona Rosa Rain, apakah kami perlu mengawasinya juga?"
"tidak perlu dia sudah memiliki pengawal pribadi, kalian fokus saja pada Carmen"
"baik Tuan Hanson, kami permisi"
Kekesalan masih terlihat jelas pada wajah seorang Tuan Hanson, saat ini logikanya entah hilang kemana, sejak kejadian itu Carmen adalah pusat alam semestanya, gadis muda yang menurutnya sangat layak dijadikan seorang istri, dia pandai mengurus rumah, pantai merawat anak, pandai memasak dan terlihat elegan dan dewasa, tipe istri idaman bagi seorang Hanson yang ingin mempunyai istri yang bisa melakukan segalanya di rumah hanya untuknya, disatu sisi Ibunya selalu menjodohkan dirinya dengan Rosa Rain artis muda yang terkenal manja namun tidak pandai melakukan pekerjaan rumah apapun termasuk memotong buah sekalipun.
"apa aku menelponnya saja?" batin Hanson, tapi ego-nya terlalu tinggi. Hanson adalah putra kedua dari tiga bersaudara, dia mempunyai satu kaka laki-laki dan satu adik perempuan. Mereka adalah tuan dan nona muda yang paling disegani di kota seni, perusahaan A merupakan perusahaan yang bergerak dibilang seni, pariwisata dan ekspor impor barang antik ke berbagai negara, kekayaan mereka mampu menghidupi masyarakat di kota seni.
***
"Carmen ayo bicaralah dengan pria itu kasihan dia, bukankah dia sangat manis? kalau aku jadi kamu, aku akan mengajaknya bicara"
"Vanessa ayo nonton konser, aku pikir kamu sekarang sangat mabuk dan teler"
"Car! aku tidak mabuk" Vanessa berbicara seperti orang kesetanan, suaranya melengking dan menjadikan mereka pusat perhatian termasuk pria manis yang tadi dicium oleh Carmen.
"Vanessa lebih baik kita pulang, mana nomor hp supir kamu"
"Carmen jangan coba-coba menelpon supirku, kita berpesta sampai pagi, harus sampai pagi!:
"Vanessa bisa kecilkan suaramu?"
Vanessa sangat teler dan tidak bisa diajak bicara baik-baik. Kebiasaan buruk yang tidak akan pernah sembuh, Carmen tidak beda jauh dari Vanessa, ketika dia mabuk, dia akan tidur disembarang tempat.
"ayo kita masuk sekarang"
"kemana?"
"ke ruang dansa, bukankah kita akan berpesta?"
Pembicaraan dua sahabat yang tidak singkron lagi, kesadaran mereka setipis tisu. Disatu sisi seorang pria muda yang disegani oleh tamu di klub C turun dengan gagah bak model, wartawan serentak memotret, kilau blits menyilaukan mata.
"permisi Tuan Hanson apakah Anda kesini untuk menonton konser kekasih Anda Rosa Rain?"
"dengan kehadiran Anda, apakah ini berarti Anda meresmikan hubungan Anda dengan Rosa Rain?"
"Tuan Hanson bagaimana keseharian Anda dengan Rosa Rain?"
"apakah betul Anda pergi berkencan dengan Rosa Rain akhir pekan lalu?"
Pertanyaan demi pertanyaan melayang bagai bulu kucing diudara, datang dari berbagai arah mata angin, bagai peluru yang tidak bisa ditahan, tidak meleset tapi tidak juga mendapatkan jawaban, raut kecewa terlihat dari berbagai sudut
"maaf para wartawan Tuan Hanson sedang tidak ingin diganggu dengan berbagai pertanyaan, mohon dimaklumi"
Rosa Rain menyanyikan hits terbarunya sebagai penutup konser yang begitu meriah di klub C, disambut dengan sorakan riuh dari penggemar yang lebih banyak pria daripada wanita. Sorakan makin riuh dan meriah ketika seorang Tuan Muda Hanson naik keatas panggung untuk memberikan seikat bunga pada Rosa Rain dengan keadaan terpaksa. Rosa Rain merasa hidupnya ada diatas puncak dunia, karier yang cemerlang kekasih yand romantis dan penggemar pria yang setia.
"ohhhh Hanso, aku bahagia sekali atas kejutanmu, aku pikir kamu akan membatalkan kehadiranmu di konser ku ini, aku mencintaimu" satu ciuman panas mendarat di bibir Hanson dari seorang Rosa Rain.
Hanson kaget namun terdiam, kacau sekali malam ini. Kejadian malam ini akan menjadi berita utama besok pagi, banyak penggemar pria akan sangat kecewa dan banyak penggemar wanita yang iri. Hanson turun dari panggung dan berjalan lurus ke pintu keluar melewati kerumunan dengan santai dan gagah, Rosa Rain menyapa penggemarnya lalu berjalan dengan cepat mengejar Hanson yang sudah hilang dibalik pintu.
"Hei pria aneh lepaskan tangan sahabatku, apa yang akan kamu lakukan!" Hanson keluar dan menarik tangan Carmen dengan keras dan membawanya ke mobil hasil tabrakan Carmen 3 minggu yang lalu, Carmen bingung dan panik tidak tau harus bereaksi apa, kejadian ini sangat aneh dan terlalu tiba-tiba. Vanessa yang kaget meneriaki Carmen namun ditahan oleh pengawal Tuan Hanson.
"Pak, itu sahabat saya, apa yang kalian lakukan padanya?"
"maaf nona, itu kemauan Tuan kami, saya harap Anda mengerti"
"mengerti? kalian sudah gila, dia telah menculik sahabat saya!, saya akan menelpon polisi"
"Nona tolong hentikan tindakan Anda, semuanya akan sia-sia"
"Katakan padaku apa yang akan Tuan mu lakukan pada sahabatku!"
"Nona tenang saja, kami pastikan sahabat nona akan baik-baik saja"
"ah sial, malam macam apa ini?, aku pastikan kalian akan mendapatkan pelajaran yang setimpal karena menculik sahabatku"
Vanessa bagai induk singa yang kehilangan anaknya, meraung dan berteriak dengan kesal dan frustasi memikirkan nasib sahabatnya yang telah diculik oleh pria asing
"Nona tenang saja Tuan kami tidak akan melakukan apapun terhadap sahabat nona"
"Tuan? siapa Tuan kalian?"
"Tuan Muda Hanson Johannes "
Seketika mata Vanessa terbelalak, Tuan Muda Hanson Johannes? bukankah dia adalah anggota keluarga dari perusahaan A? apa yang akan dia lakukan dengan Carmen, ah jangan-jangan mobil mewah yang ditabrak oleh Carmen waktu itu adalah mobil Tuan Hanson Johannes? ahhh sial malang sekali nasib Carmen, apakah Tuan Hanson menculik Carmen untuk minta ganti rugi? tapi kenapa mereka tidak menelpon Carmen saja, bukankah itu jauh lebih baik dan sopan. Beribu pertanyaan muncul dalam kepala Vanessa, aneh tapi nyata.
"oh aku paham, pastikan sahabatku baik-baik saja, kalau tidak aku akan menuntut kalian" Vanessa mengeluarkan handphone-nya dan merekam video juga mengambil beberapa gambar pengawal pribadi Tuan Hanson sebagai barang bukti jika terjadi sesuatu yang buruk terhadap sahabatnya. Malam yang menyebalkan, bukannya bersenang-senang malah menjadi kacau seperti ini. Vanessa menelpon Carmen namun handphonenya tidak aktif. Dengan terpaksa Vanessa pulang tanpa Carmen. Sedangkan hari Selasa Vanessa akan terbang ke London untuk berlibur satu bulan, Vanessa semakin merasa bersalah.