"Lepaskan tanganku, apa yang kamu lakukan, hei pria bodoh kamu ingin menculik aku? kamu pikir dengan badan besarmu kamu bisa menggendongku?"
Pertanyaan yang bertubi-tubi terdengar mengganggu telinga juga tinju dan pukulan kecil kesembarang arah, gadis periang yang berisik. Semakin imut saja, bisakah dia diam sedikit saja telingaku sudah sakit. Dengan kasar Hanson membanting Carmen di dalam mobil lalu memasang sabuk pengaman dan melaju dengan kencang membuat Carmen terdiam sejenak, namun lagi Carmen berteriak.
"ahhhhh pelan-pelan, kamu pria gila aku masih muda dan hidupku masih panjang, mati saja sendiri jangan mengajak aku"
"Diam! atau kita semakin ngebut dan dalam 200 meter aku akan menghantam mobil ini ke tiang depan, kamu pilih!" Carmen menutup mulutnya dengan kedua tangan matanya melotot pria gila yang tidak takut mati, seketika Carmen terdiam tanpa sekata pun, namun detak jantungnya bisa terdengar dengan jelas. Lima menit berlalu Hanson akhirnya mengemudi dengan pelan lalu masuk ke sebuah pelataran villa mewah yang sangat elegan dan cantik, Carmen terpukau tapi diam saja. Mobil berhenti dengan sempurna, Hanson keluar dan membukakan pintu untuk Carmen lalu melepaskan sabuk pengaman dengan tenang, Carmen menahan napas saat wajah mereka begitu dekat. Pria muda yang tampan tapi nekat sekali.
"Ayo keluar!" Dua kata yang terdengar seperti perintah, Carmen mengernyitkan jidatnya, kenapa pria ini sangat kasar, Carmen tidak mau keluar dan terdiam seribu bahasa dengan mata yang bergerak memperhatikan pria gila depannya dengan serius.
"Ayo keluar, kalau tidak aku akan menguncimu di mobil ini"
Carmen masih terdiam dan tidak bergerak sama sekali, ingin menguji kesabaran pria yang saat ini menatapnya bagai penyihir ganas Namun sepersekian detik mobil itu terkunci dengan Carmen masih duduk didalam. Carmen tidak menyangka bahwa pria kasar ini menguncinya didalam mobil lalu pergi begitu saja ke dalam villa lalu menutup pintu, Carmen panik lalu berteriak dengan keras.
"heiiii pria bodoh kamu serius mengunciku dalam mobil?, terserah padamu aku akan tidur disini"
Hanson masuk dan menghempaskan badan kekarnya di sofa berdesain hitam legam yang sangat empuk itu lalu memijat kepalanya pelan, belum pernah dia menemukan orang sekeras kepala ini dalam hidupnya, Rosa Rain sekalipun akan sangat penurut padanya. Biarkan saja dia tidur di mobil itu sampai pagi, bukankah dia gadis yang kuat. Hanson tertidur di sofa dan Carmen tertidur didalam mobil, satu jam kemudian Hanson bangun dengan panik, lalu pergi keluar dan mengecek mobilnya Carmen tertidur pulas sambil membuka mulutnya, Hanson tersenyum geli, dasar keras kepala. Hanson membuka mobil dan menggendong Carmen dalam dekapannya bagai seorang bayi mungil lalu memindahkan Carmen kedalam kamarnya dan tidur disamping Carmen sampai pagi.
Matahari pagi yang hangat dengan selimut tebal dan tangan kekar melingkar manja dipinggang kecil Carmen. Sial tangan kekar siapa ini? Carmen terbangun memperhatikan sekitar dengan cermat, apa yang terjadi padaku semalam, tangan itu semakin kuat melingkari pinggang Carmen, siapa pria ini, apa yang telah dia lakukan apakah dia menculikku lalu mengambil kegadisanku? Pria disamping Carmen tidur begitu pulas mendengkur halus, saat tidurpun Hanson tetap saja tampan, Hanson menggeliat pelan membuat Carmen waspada. Dari luar terdengar panggilan dari pelayan rumah.
"Permisi Tuan Muda, ini sudah pukul delapan pagi, Anda harus meeting jam sembilan pagi dengan perusahaan K, dan pertemuan ini sangat penting Tuan"
Tuan?, siapa pria gila ini. Apakah dia orang penting atau semacamnya? Mengapa dia terlihat sangat familiar. Carmen menepis pikirannya lalu berusaha membangunkan Hanson, dia ingin menjawab panggilan dari laur itu tapi merasa segan dan aneh, Carmen menggoyangkan tangan Hanson sambil mengacak rambut Hanson dengan niat.
"hei bangun ada seseorang memanggilmu katanya ada meeting penting, dan aku harus pergi"
"ummmmm kau berisik sekali seperti pelayanku, kamu masih mengantuk, tidurlah lagi, aku akan membatalkan meetingnya"
"tapi aku harus kerja!" Carmen beranjak dari tempat tidur dengan cepat tapi tidak kalah cepat dengan tangan kekar Hanson yang menariknya kembali dengan cepat ke tempat tidur.
"apakah kau sudah gila? aku harus pergi dan satu lagi kau adalah orang asing yang menculikku tadi malam, kamu penjahat"
"kamu bilang aku penjahat, kamu mencium pria asing di klub semalam bukan?" Carmen terbelalak tidak percaya bahwa Hanson mengetahui hal itu, bukankah itu aneh.
"bagaimana kamu bisa tahu bahwa aku mencium pria asing, kamu memata-matai ku?, dasar penguntit!"
"aku tahu setiap inci tentangmu" Hanson mengatakan itu dengan santai dan kembali tidur.
"aku mau pulang dan aku harus bekerja aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku, apakah kamu akan tanggung jawab?" Carmen merasa frustasi dengan pria gila ini.
"sekali lagi kamu berbicara aku akan mencium mu, dasar gadis cerewet, diamlah aku masih ingin tidur"
"aaaaaakuuuuuu mauuuuuuuu pulaaaaaaa..." satu ciuman kasar mendarat dibibir merah mudah Carmen, ciuman kasar dan penuh tekanan. Kaget bukan main Carmen mendorong tubuh kekar Hanson namun tidak berhasil.
"aku sudah bilang diamlah, aku masih ingin tidur, tidak bisakah kamu diam dan tidak membantah, kamu berisik sekali" Carmen terdiam seribu bahasa, terpaku dan gemetar tidak menyangka bahwa pria gila ini akan melalukan ini padanya, Carmen mulai terisak dalam diam. Seketika tangan kekar Hanson mengusap wajah mungil berderai airmata itu dan mengecupnya penuh kasih, lalu kembali tertidur. Carmen pun ikut tertidur hingga mimpi menjemputnya berkelana dialam alam lain.
Vanessa dengan panik menelpon Carmen namun tidak ada jawaban sama sekali, sedari tadi malam tidak ada kabar sama sekali. Sedangkan pagi ini media dihebohkan dengan Rosa Rain yang memberi pernyataan bahwa kekasihnya Hanson Johannes telah berselingkuh dan meniduri seorang gadis murahan yang kebetulan merupakan salah satu penggemarnya. Berita simpang siur ini terdengar hingga ke tempat kerja Carmen Juan. Beredar video amatir Tuan Muda Hanson Johannes menarik seorang gadis muda yang terlihat mirip Carmen Juan masuk ke dalam mobilnya.
Telepon rumah Hanson Johannes berdering untuk kesekian kalinya tapi tidak ada jawaban sama sekali, Nyonya Johannes dari seberang sana terlibat tidak sabaran mendapati panggilannya tidak dijawab sama sekali oleh seisi villa termasuk putra keduanya Hanson. Hingga pada panggilan terakhir...
"Halo, dimana Hanson? mengapa dia tidak menjawab telfon saya?"
"Halo Nyonya Johannes maafkan kami, Tuan Muda masih tidur, dan belum bangun"
"apa? bukankah dia ada meeting penting dengan perusahaan K? cepat bangunkan dia atau saya yang kesana!" tegas Nyonya Johannes dari seberang sana dengan tidak sabaran, bagaimana bisa putra keduanya jadi membangkang seperti itu. Pagi tadi pun berita penyaataan Rosa Rain membuat Nyonya Johannes semakin geram. Berprasangka bahwa putra keduanya telah berbuat onar.