"Permisi Tuan Muda, Nyonya Johannes akan datang dan membangunkan Anda"
"Tolong katakan pada Ibu ku bahwa aku tidak akan bekerja hari ini, hari libur untukku"
"tapi Tuan, Nyonya Johannes terlihat sangat marah dan sepertinya Anda akan terkena masalah"
"Baiklah aku akan bangun, jangan biarkan Ibu ku masuk ke kamarku, ada seseorang sedang tidur pulas dan tidak bisa diganggu"
"Baik Tuan"
Hanson Johannes bangun dari tidurnya dan meraih baju kaos oblong berwarna putih yang menggantung lemas disudut ranjang dan memakainya dengan asal lalu keluar dengan gontai menuju dapur untuk minum air lalu duduk dengan malas di sofa ruang keluarga sambil mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang akan ibunya katakan.
"selamat pagi putra kedua Mama yang manis, apakah kamu sudah tidak waras dengan membatalkan meeting penting dengan perusahaan K?"
"Mama ayolah aku ingin libur hari ini, kenapa tidak suruh Papa atau Kaka Edmund Johannes untuk menghadiri meeting itu saja?"
"dan rupanya putra kedua Mama sudah mulai membantah dan satu lagi kenapa hari ini kamu bangun siang, Mama menelpon beberapa kali dan semua orang di rumah ini mengabaikan Mama"
"Mama ayolah, ini masih terlalu pagi untuk berselisih paham, ayo kita minum teh saja"
"Hanson Johannes kamu sudah melihat berita pagi ini?, Kekasihmu Rosa Rain membuat pernyataan bahwa kamu telah berselingkuh darinya dan satu lagi kamu meniduri seorang gadis, kamu membawanya dengan paksa ke villa, apa itu semua benar adanya? Bisa jelaskan pada Mama?"
"Mama ayolah, kenapa Mama percaya berita gosip?, Aku bahkan tidak tau bahwa aku dan Rosa Rain punya hubungan, Mama tau bahwa aku tidak suka pada Rosa Rain, apa itu cukup Mama"?
"lalu siapa gadis yang Rosa Rain katakan pada wartawan itu? Kamu menidurinya dan sekarang dia ada di villa ini?"
"ah tentang gadis itu, aku sama sekali tidak menidurinya dan Ya sekarang dia ada di villa ini dan tidur di kamarku dengan pulas"
"kelakuan kamu sungguh keterlaluan membawa perempuan itu ke Villa kita?, kamu tahu bahwa Mama tidak setuju dengan wanita manapun selain Rosa Rain!"
Perdebatan pagi yang tidak bisa dihindari oleh Hanson Johannes, Ibunya adalah sosok yang tegas perkataannya adalah perintah. Pagi yang cukup menegangkan, belum lagi Rosa Rain akan datang ke villa ini dan merengek pada Nyonya Johannes meminta pembelaan dengan airmata buanya miliknya.
Carmen terbangun dan melihat jam yang diletakkan di meja pojok dan terbelalak seperti melihat hantu, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, Aduh sial.
"permisi dimana pintu keluarnya, aku mau pergi, juga dimana tuan mu?"
"maaf nona, Anda tidak bisa keluar, Tuan Muda melarang Anda untuk keluar kamar sebelum dia kembali"
"tapi aku harus bekerja dan aku sudah sangat sangat terlambat" Perdebatan yang cukup ribut menarik perhatian Hanson maupun Nyonya Johannes, mereka berdua bingung namun penasaran, Hanson berlari ke arah kamarnya dengan panik disusul Nyonya Johannes.
"maaf Tuan Hanson, nona muda ini bersikeras ingin keluar dari kamar Anda"
"tidak apa-apa, kamu boleh pergi biar aku saja yang mengurusnya"
"baik Tuan Hanson terima kasih"
Pelayan itu berjalan menuruni anak tangga dan Nyonya Johannes sampai didepan kamar mendapati Hanson berdiri menghadang Carmen yang memakai gaun pendek berwarna merah yang indah namun sungguh menggoda.
"jadi wanita muda ini benar adanya, kamu berani sekali masuk ke Villa ini"
"Mama, aku yang memaksanya datang kesini, dan tidak terjadi apapun diantara kami" Carmen terdiam seribu bahasa bingung dan cemas menghadapi dua orang asing yang dia temui tadi malam dan siang ini.
"maaf Nyonya, sepertinya Anda salah paham, aku tidak mengenal pria ini, dan dia memaksa dan menculik aku untuk datang ke Villa ini, aku akan pergi sekarang"
"pria muda ini adalah putra kedua saya dan namanya adalah Hanson Johannes dan saya adalah ibunya"
"Baiklah Hanson dan Ibu, aku pikir urusan kita sudah selesai dan aku akan melaporkan putra Anda ke kantor polisi karena telah menculik aku secara paksa, terimakasih saya pamit"
Carmen berjalan dengan cepat menuju pintu keluar lalu melewati taman besar dan mobil berwarna hitam yang terparkir tidak rapih itu menarik perhatiannya, ya ada goresan dan penyok dibagian belakang, juga supir yang sedang memcuci mobil yang lain terlihat familiar, kebetulan yang tidak masuk akal, dan sekarang semua terlihat sangat jelas bahwa mobil ini adalah hasil tabrakannya di lampu merah tiga minggu lalu dan Hanson adalah pemiliknya, sial bukan?
"permisi Pak, apa betul mobil warna hitam itu korban tabrakan di lampu merah tiga minggu lalu?"
"ya betul, apa Nona mengenal siapa yang menabrak mobilnya?"
"ya itu adalah saya, saya memberikan kartu nama saya waktu itu tapi tidak ada nomor baru yang menelepon"
"oh waktu itu saya mau menghubungi nona tapi Tuan Hanson tidak mengizinkan, katanya dia saja yang akan menghubungi nona"
"ah seperti itu rupanya, terimakasih Pak saya permisi" Carmen bergegas mencari tumpangan namun perumahan elit ini cukup sepi, tidak ada angkutan umum yang lewat, Carmen pun tidak bisa memesan taksi online karena baterai handphonenya habis, bingung mau meminta tolong pada siapa. Bingung mendapati dirinya harus pulang dengan cara apa, dari kejauhan sebuah mobil mewah melaju kearah villa milik keluarga Hanson dan berhenti di pelataran villa, terlihat seorang gadis muda nan menawan turun dari mobil bak putri dongeng dengan kuda putih, Carmen tidak ambil pusing dan berlalu begitu saja, Carmen berjalan ke jalan umum mungkin ada taksi atau siapapun yang bisa dimintai tolong.
"ah permisi Pak, apakah bapak menawarkan jasa mengemudi?, bisa antarkan saya ke alamat ini?"
"ya bisa, karena alamat ini cukup jauh jadi tarifnya 250 ribu"
"Pak mahal sekali, ayo kurangi sedikit, bagaimana kalau 150 ribu, deal?"
" Nona, saya bisa memberi harga 200 ribu, oke?"
"hmmm Baiklah, ayo berangkat. Bisa agak ngebut sedikit saya ada urusan mendadak"
"baik nona"
Mobil yang ditumpangi Carmen mejalu dengan mulus, entah apa yang akan terjadi selanjutnya biarlah alam yang bekerja, sedikit over thinking dengan pekerjaannya juga kejadian semalam yang tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa orang kaya akan melalukan hal gila untuk kesenangannya. Sedangkan dikediaman Keluarga Johannes, Rosa Rain hadir dengan segala drama untuk menarik perhatian juga simpati dari Nyonya Johannes, dia mulai menangis sambil menunjukkan kemampuan aktingnya yang dia pikir akan berhasil menarik simpati Nyonya Johannes dan Hanson Johannes. Hanson dengan senyum terpaksa menyambut Rosa Rain yang kini berderai airmata kesedihan yang dibuat-buat.