Rosa Rain menangis terseduh sedan, airmata nya mengalir deras bagai anak sungai yang didera hujan semalam, Hanson dan ibunya kaget juga bingung entah untuk apa tangisan yang berlebihan ini.
"ahhh Rosa sayang, apa yang terjadi padamu, mengapa kamu sedih sekali, apa ada yang ingin kau sampaikan" Nyonya Johannes berusaha serasional mungkin menghadapi gadis muda yang entah mengapa pagi ini sangat emosional.
"Nyonya, Hanson telah berselingkuh dariku. Aku merasa dikhianati!."
"Rosa sayang, panggil saya Ibu saja, aku paham perasaanmu dan Ibu sudah menasihati Hanson untuk tidak macam-macam dengan gadis lain diuar sana" Hanson diam saja mendengar ibunya dan Rosa bercerita panjang lebar.
"Ibu, aku ingin Hanson mengakui hubunganku bersamanya di depan awak wartawan, aku ingin semua orang tahu bahwa Hanson adalah milikku, bukan gadis murahan diluaran sana"
"ah Rosa sayang, Ibu ingin itu semua terjadi tapi harus atas persetujuan Hanson, karena kalian yang menjalin hubungan, tapi Ibu minta jangan mengumbar segala sesuatu yang terjadi di depan media, tidak semua hal harus diketahui oleh orang asing, jagalah hubunganmu secara pribadi dan itu semua akan jauh lebih berkesan"
Rosa Rain mengusap airmata nya dan beralih menatap Hanson yang sedari tadi mendengar semua percakapan mereka, Hanson berdehem mencairkan suasana.
"Rosa, apakah kamu sudah selesai bercerita tentang omong kosong mu pada ibuku?"
"Hanson, apa yang kamu katakan, kamu sudah tau bahwa ibu hanya setuju kamu dengan Rosa, bukan gadis murahan yang kamu bawa dengan terpaksa tadi malam!". Rosa Rain yang mengetahui itu semua kaget dan menangis lagi karena video amatir yang tersebar di internet tentang Hanson menarik paksa seorang wanita kedalam mobilnya benar adanya.
"Hanson, kamu keterlaluan!" teriak Rosa Rain dengan frustasi.
"Rosa Rain dengarkan aku baik-baik, aku bukan pacarmu, kita bukan sepasang kekasih, kamu sangat mengada-ada tentang semuanya, aku tidak pernah menyatakan cinta padamu, kadekatan kita saat ini hanya karena urusan bisnis dan usaha badan amal yang didirikan oleh orangtua kita, dan satu lagi aku tidak menyukai mu! Dan jangan pernah memasuki hidupku dengan cara apa pun, aku ingin hidup tenang dan hidupku adalah hal pribadi!"
Pernyataan Hanson Johannes tersebut membuat Rosa dan ibunya bagai disambar petir disiang bolong, Hanson adalah orang yang cukup pendiam, selalu berbicara secara sopan dan profesional tapi entah mengapa siang ini jauh dari Hanson yang ibunya kenal, setelah berkata demikian Hanson meninggalkan Rosa dan ibunya menuju kamar lalu menguncinya. Rosa merasa hidupnya kacau mengetahui hal itu, lalu memutuskan pergi begitu saja dari kediaman Nyonya Johannes.
***
Carmen sampai di mini apartmentnya lalu mengecas handphonenya, tubuhnya lengket sekali. Kejadian tadi malam sangat spontan dan terdengar tidak masuk akal tapi benar adanya. Dress merah yang dia kenakan menjadi sangat kusut, malam itu adalah yang paling random terjadi dalam hidup Carmen Juan.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang terik sekali, Carmen kelaparan tidak ada persediaan makanan sama sekali di kulkas. Ah hari ini akan menjadi hari yang panjang tapi setidaknya Carmen sudah mengetahui siapa yang dia tabrak di lampu merah tiga minggu lalu. Baterai handphonenya terisi 49%, Carmen mencabut alat casnya lalu menyalahkan ponsel, sepersekian detik kemudian, puluhan pesan dan panggilan memenuhi notifikasi hp nya, pesan dari Vanessa, panggilan dari ayahnya, satu pesan dari nomor baru.
'heii Carmen aku berharap kau baik-baik saja. Pria itu memang gila tapi dia sangat tampan, apakah kamu tersakiti? jika ia, kita harus melaporkan dia ke polisi, aku punya buktinya, aku akan mampir ke mini apartment mu jika kamu sudah kembali dari mana pria gila itu membawamu, balas pesanku segera'
Pesan yang cukup panjang dari Vanessa, dia sangat khawatir memikirkan nasib sang sahabat yang diculik pria asing gila.
'Hai putri kesayangan Papa, terimakasih sudah mengirimkan pesan, semuanya baik-baik saja disini, Paman Joe semakin sehat, tolong selalu jaga dirimu, semoga akhir tahun ini kamu bisa pulang, Papa ingin kita merayakan akhir tahun bersama' Pesan manis dari sang Papa membuat Carmen merasa bahagia, dibalik kehidupan keras yang dia jalani di kota seni.
Pesan baru, nomor tidak tersimpan
dari +6282354××××××
'Hai bagaimana keadaanmu?'
Pesan singkat tapi cukup membuat Carmen penasaran, siapa gerangan yang menanyakan keadaannya. Carmen tidak langsung membalas pesan itu karena seseorang diluar sana mengetuk pintu mini apartmentnya tidak dengan sabar.
"tunggu sebentar, aku akan segera membuka pintunya"
Carmen terlihat shock dan tidak percaya pada penglihatannya, benarkah itu dia? cinta masa muda Carmen, pria itu memeluknya erat dan menghirup bau tubuh Carmen yang paling disukainya lalu mengecup pucuk kepala Carmen dengan lembut dan memberikan seikat bunga cantik kepada Carmen.
"aku merindukanmu, maaf aku membuatmu kaget, aku hanya ingin memberi mu kejutan" pria itu berkata sambil memberikan tersenyuman terbaiknya lalu duduk di sofa warna krem itu dengan nyaman.
"aku juga merindukanmu, terimakasih untuk bunganya, sejak kapan kau tiba di kota seni?"
"aku tiba semalam dan menginap di villa milik ayahku dekat Klub C, aku mendengar bahwa ada konser dari seorang artis muda bernama Rosa Rain"
"kau juga seorang penggemar Rosa Rain?"
"tidak, tapi Ayahku dan orangtuanya memiliki bisnis amal dan satu lagi keluarga yang terlibat, aku mengenal salah satu anggota keluarganya"
"ah begitu rupanya, bagaimana kehidupan mu di Jerman? semuanya baik-baik saja kan?, kau jarang menghubungiku jadi ku pikir kau telah melupakan aku"
"Carmen kamu tidak akan tergantikan. Tapi aku lapar, apakah kamu punya sesuatu untuk dimakan?"
"sayangnya tidak, aku juga sangat lapar sejak kejadian semalam"
"kejadian apa? " Ferdinand terdengar cukup penasaran dengan pernyataan Carmen.
"ah bukan apa-apa, hanya kejadian menyebalkan di Klub C tadi malam"
"baiklah, kalau kamu tidak ingin cerita, ayo berbelanja aku akan masak makanan kesukaan mu"
Carmen menganti baju rumah dengan pakaian santai lalu mengenakan jaket besar yang membautnya tampak imut menurut Ferdinand. Keduanya berkendara dengan santai menggunakan mobil mewah Ferdinand.
Sejak kepergian Ferdinand ke Jerman untuk melanjutkan kuliahnya, Carmen menutuskan untuk hidup bebas dan menikmati hidup namun masih mengharapkan Ferdinand untuk kembali kapan saja waktunya, dan hari ini telah terjadi, hubungan mereka tampak serius namun tidak ada persetujuan dari orang tua Ferdinand karena Carmen bukan dari keluarga kaya, orangtua Ferdinand lebih berharap Ferdinand berkencan dengan Vanessa namun tetap saja Ferdinand jatuh hati pada Carmen, sejak saat itu mereka berhubungan secara diam-diam sambil perlahan-lahan meyakinkan kedua orangtua Ferdinand yang terkenal gigih dalam prinsip mereka.