Ferdinand sangat berkharisma, tampan dan tenang juga humoris, ketampanannya mampu membuat banyak wanita takluk tapi dia sangat menyukai wanita sederhana, Carmen adalah yang terbaik. Yup pintar memasak dan merawat rumah, luar biasa bukan?
"Ferdinand apakah kamu datang hanya untuk berlibur atau?"
"Ya, aku disuruh ayahku untuk berpartisipasi dalam acara amal, dan kemungkinan aku akan berkunjung ke beberapa daerah untuk menyalurkan sumbangan"
"ah begitu rupanya, jadi kita tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang"
"tentu saja kita punya banyak waktu, akan aku usahakan, anyway kamu mau masak apa?"
"aku ingin masakan sederhana, ayo masak spaghetti"
"ok, itu luar biasa, tidak sabar untuk memakannya"
Mereka berbelanja beberapa bahan makanan sekalian untuk stock di mini apartment Carmen, mereka menikmati setiap moment dengan sangat baik. Ferdinand memperhatikan Carmen menata beberapa bahan belanjaan di kulkas, tidak niat membantu, Carmen sangat menawan ketika bekerja seperti seorang istri.
"Carmen!"
"Yup, maukah kamu menjadi kekasihku untuk selamanya?"
"hmm? apa maksudmu?"
"aku suka dan menyayangi mu maukah kau?"
"Ferdinand bukankah sekarang kita seperti sepasang kekasih?"
"ya aku tahu, tapi aku ingin lebih, kamu sangat menawan saat mengurus rumah"
"Ferdinand kamu sangat konyol, berhentilah bercanda, ayo makan. Kamu harus kembali ke Villa bukan?
Spaghetti buatan Carmen selalu menjadi yang terbaik untuk Ferdinand, jika Carmen menikah dengan Ferdinand, tentu saja mereka tidak perlu makan di restoran, karena Carmen akan memasak untukny, dan Ferdinand tidak akan melewatkan satu hari pun untuk makan bersama.
"Ferdinand, ini sudah larut kamu harus pergi sekarang"
"aww benarkah? boleh aku menginap? please"
"Ferdinand tidak untuk sekarang, kita masih punya banyak waktu untuk berkencan, aku rasa ibu dan ayahmu merindukanmu"
"lalu, kau tidak merindukanku?"
"aku merindukanmu, tapi kamu harus pulang, dan kirimi aku pesan saat kamu sudah tiba di villa, selamat malam"
Ferdinand memeluk Carmen dengan erat enggan melepaskannya, lalu mencium pucuk kepala Carmen dengan lembut.
***
Alarm berbunyi untuk kesekian kalinya, Carmen si tukang ngantuk memang tidak pernah patuh dengan alarm setelannya sendiri, ah sial masih terlalu pagi untuk bangun tapi Carmen harus menemui seseorang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya tiga minggu lalu.
"Permisi Pak, bisa saya bertemu dengan Hanson Johannes?"
"maaf Nona, Tuan balum bangun, mungkin nona ada pesan untuk Tuan Muda?"
"aku akan menunggu sampai dia bangun, ada beberapa hal yang saya ingin bicarakan langsung padanya"
"baik Nona, Anda bisa duduk dulu, saya akan memanggil kepala pelayan untuk membangunkan Tuan Muda"
Carmen duduk dengan santai sambil membaca beberapa pesan yang belum sempat dia balas, pesan dari Vanessa, dari Ferdinand juga dari nomor baru, dari gerbang sebuah mobil mewah masuk dan berhenti dengan sempurna dipekarangan villa, Carmen tidak fokus sama sekali dan lebih tertarik membalas pesan dari beberapa orang penting di kontaknya.
"haii selamat pagi Nona Rosa, pagi sekali anda kesini"
"Ya betul, aku ingin sarapan bersama Hanson lalu pergi shooting beberapa video klip"
"maaf nona, Tuan Muda belum bangun"
"aku akan membangunkannya, biarkan aku masuk"
Rosa Rain berjalan dengan anggun menuju kamar Hanson, disana terlihat kepala pelayan berusaha membangunkan Hanson yang sebenarnya sudah bangun beberapa saat yang lalu.
"Tuan muda, ada dua wanita muda yang ingin bertemu dengan Anda, Rosa Rain sudah didepan kamar dan yang satunya menunggu Anda di pos depan"
"Siapa yang anda maksud, dua wanita muda?"
"itu dia datang lebih awal, dari Anda dan menunggu di pos depan"
"ah Baiklah, aku penasaran dengan wanita muda itu"
Hanson membuka pintu dan sudah mengenakan baju kerja begitu rapih dan serasi. Rosa Rain terkesima, meskipun Hanson jelas-jelas menolak cintanya, hal itu tidak membuat seorang Rosa Rain patah arang.
"aku mau sarapan sekarang dan akan berangkat kerja lebih awal" hal itu Hanson lakukan karena untuk menghindari Rosa Rain yang terlihat sangat mengganggu ketenangannya.
"Hanson, jangan menghindariku, aku hanya ingin sarapan denganmu lalu pergi"
"Rosa berhentilah mengejarku, kamu tahu bahwa aku tidak menyukaimu, aku menyukai wanita lain"
"maksudmu wanita yang kau paksa ikut ke mobilmu tempo hari, dan aku yakin dia adalah wanita yang menunggumu di depan pos itu"
"siapa wanita yang kau maksud menunggu di depan pos" Hanson penasaran dengan kehadiran Carmen lalu berlari kecil kearah pos dan mendapati Carmen sedang asyik bermain handphonenya.
"Carmen!"
"oh haiii Anda yang dipanggil Tuan Muda, saya datang kesini untuk bertanggung jawab atas kecelakaan tiga minggu lalu"
"aku tidak pernah memintamu bertanggung jawab"
"ya aku tau, tapi itu adalah kesalahan saya berkendara tidak hati-hati"
"waktu itu kamu bilang sedang terburu-buru, aku pahami itu"
"tidak, aku akan tetap bertanggung jawab dan akan melaporkan Anda ke kantor polisi karena menculikku secara paksa tempo hari"
"heii gadis bodoh, aku bilang tidak artinya tidak, dan jangan memaksa, dan satu lagi laporanmu tidak akan diproses"
"tapi kamu harus bertanggung jawab, kamu membuat aku ketakutan, dasar orang kaya aneh"
"Ayo berdamai dan ikut sarapan denganku"
"tidak terima kasih" karena tau Carmen adalah wanita yang keras kepala, maka Hanson Johannes menggendong Carmen dipundaknya seperti sekarung beras lalu berjalan ke ruang makan yang disana Rosa Rain sudah menanti dengan wajah penuh emosi, sedangkan Carmen berontak dengan sekuat tenaga dan tidak berhasil.
"Hanson, siapa wanita gila ini"
"berhenti memanggilnya wanita gila"
"tapi kenapa kamu tidak menghargai kehadiranku disini dan sibuk menggendong w************n ini"
"Nona Rosa, berhenti mengata-ngataiku dengan mulut tidak berpendidikan mu"
"apa kamu bilang? aku tidak berpendidikan? kamu wanita miskin dan murahan, aku yakin kedatanganmu kesini untuk mencari kerja dan menumpang hidup dengan Keluarga Hanson Johannes bukan?"
"jaga bicaramu" Carmen tidak lagi menguasai emosi yang begitu campur aduk lalu dengan sekuat tenaga mengayunkan satu tamparan singkat namun cukup menyakitkan di wajah Hanson karena Hanson dengan cepat menghadang pukulan maut yang berasal dari Carmen untuk Rosa Rain.
"Carmen sejak kapan kamu jadi tukang pukul?" Hanson yang terkena tamparan maut Rosa yang menangis.
"sejak teman artismu tidak tau cara berbicara dengan baik dan sopan"
"Itu benar adanya, kamu wanita miskin yang mau numpang hidup" Rosa terlihat tidak ingin kalah dalam pertengkaran ini.
"Baiklah, sejak kalian berdua sangat keras kepala dan kalian berdua seperti anak-anak, maka kalian boleh pulang ke rumah masing-masing dan tidak ada sarapan, sekian dan terimakasih"
"tapi, aku ingin makan bersama, Hanson dengarkan aku, ini semua gara-gara wanita miskin ini"
"Heii Rosa percayalah kehidupan artis mu tidak akan bertahan lama" Carmen berkata sambil berlalu