Bagas datang seminggu kemudian, dan Sekar tahu sebelum mobilnya berhenti bahwa ini akan berbeda. Tidak ada map biru. Tidak ada map abu-abu. Ia datang dengan tangan yang hampir kosong, hanya membawa satu amplop tipis dan ekspresi yang Sekar tak pernah lihat di wajahnya sebelumnya—sesuatu yang menyerupai kerendahan hati, atau setidaknya kelelahan dari seseorang yang telah lama bertengkar dengan dirinya sendiri.
Mereka duduk di teras kali ini, bukan di ruang tengah. Sekar sengaja memilih teras—ruang yang terbuka, yang bisa dilihat tetangga, ruang tanpa amben tempat neneknya dulu berbaring. Bu Sri membawa teh dan singkong rebus, lalu mundur ke dalam, dan tinggal mereka berdua menghadap lereng yang menguning.
"Saya lihat peragaannya," kata Bagas membuka, menatap cangkir tehnya alih-alih menatap Sekar. "Saya ada di sana. Di barisan belakang. Mbak nggak lihat saya, dan memang saya nggak mau dilihat."
Sekar tidak menjawab. Ia menunggu.
"Saya datang ke peragaan itu," lanjut Bagas, "setengah berharap kampung Mbak gagal. Saya jujur saja. Karena kalau Mbak gagal di sana, saya benar. Bertahun-tahun saya percaya kain tangan nggak punya tempat di dunia yang saya kenal—dunia volume, harga, distribusi. Saya kira menyelamatkan kain Mbak berarti menukarnya jadi sesuatu yang bisa dijual banyak. Kalau Mbak jatuh di panggung itu, saya bisa pulang dan bilang ke diri saya sendiri, 'Tuh, kan. Saya benar. Mereka harusnya teken dari dulu.'"
Ia berhenti, dan untuk pertama kalinya menatap Sekar langsung. "Tapi Mbak nggak jatuh. Saya berdiri di belakang ruangan itu dan saya lihat orang-orang yang biasa saya ajak bisnis—pembeli, perancang, orang yang tiap hari ngomong soal margin dan tren—saya lihat mereka diam. Mereka diam waktu kain Mbak lewat. Saya kenal diam itu. Itu diam yang nggak bisa dibeli. Saya nggak pernah bisa bikin orang diam seperti itu dengan kain printing saya, sebanyak apa pun yang saya cetak."
Sekar menyesap tehnya. "Mas datang buat bilang itu?"
"Saya datang," kata Bagas, dan ia meletakkan amplop tipis itu di meja, di antara mereka, "buat menawarkan sesuatu. Dan saya minta Mbak dengar sampai habis sebelum nolak, karena saya tahu refleks Mbak udah terlatih nolak saya." Senyum kecil yang getir. "Saya yang ngelatih, jadi saya nggak bisa protes."
Sekar tidak menyentuh amplop itu. "Saya dengar."
"Ini bukan lisensi. Tujuh gunung tetap milik kampung, nggak ada satu garis pun yang dicetak mesin, titik, nggak bisa ditawar, saya yang tulis sendiri klausulnya begitu." Bagas berbicara cepat sekarang, seperti orang yang takut kehilangan keberaniannya. "Ini bukan distribusi yang ngatur. Saya inget Mbak nolak yang dulu karena harga dan volume ditentukan Rasaraya. Yang ini—harga ditentukan koperasi Mbak. Volume ditentukan koperasi Mbak. Jadwal ditentukan koperasi Mbak. Rasaraya cuma jadi pintu. Kami punya empat puluh toko di kota-kota besar, kami punya jaringan pembeli yang Mbak nggak akan bisa jangkau sendiri dari lereng ini. Kami pajang kain Mbak di toko-toko itu, kami jual dengan nama penenunnya, dengan cerita tujuh gunung, dengan harga yang Mbak tentukan. Dari tiap kain yang terjual, kami ambil komisi—wajar, kecil, saya tulis angkanya di situ. Sisanya milik kampung."
Sekar diam lama. Angin sore menggerakkan daun pisang di pekarangan. Di kolong rumah sebelah, terdengar derit ATBM Bu Lastri, lambat dan keras kepala seperti biasa.
"Kenapa?" tanya Sekar akhirnya. "Kenapa Mas mau jadi pintu doang? Itu nggak menguntungkan buat Mas. Komisi kecil, kendali nggak ada. Rasaraya bukan yayasan amal. Mas ahli waris konglomerat. Apa yang Mas dapat?"
Bagas memandang lereng itu lama. "Mbak tahu nggak," katanya akhirnya, pelan, "kenapa kakek saya bangun Rasaraya?" Sekar menggeleng. "Kakek saya dulu tukang jahit. Tukang jahit beneran, yang duduk di pinggir pasar, yang dibayar receh buat nambal celana orang. Dia bangun pabrik biar anak cucunya nggak usah jadi tukang jahit pinggir pasar lagi. Biar kami naik. Dan kami naik—saya sekolah di luar negeri, saya pakai sepatu yang harganya lebih mahal dari penghasilan kakek setahun waktu dia masih nambal celana. Tapi di jalan naik itu, kami ninggalin sesuatu. Kami ninggalin tangan. Pabrik saya nggak punya tangan, Mbak. Punya mesin. Saya nggak tahu nama satu pun orang yang bikin kain saya, dan kain saya nggak tahu nama saya. Kami semua jadi anonim—saya, mesin, kain, pembeli. Semua jadi nomor."
Ia menoleh pada Sekar. "Di label Mbak ada nama. Nama Bu Ngatiyem. Nama Warni. Nama nenek Mbak, dibaca pertama di tiap kain. Saya berdiri di peragaan itu dan saya sadar—kampung Mbak punya sesuatu yang kakek saya buang waktu dia bangun pabrik biar kami nggak miskin. Mbak nggak buang tangan buat naik. Mbak naik justru karena tangan. Saya nggak bisa beli itu. Saya nyoba beli berbulan-bulan, dengan lisensi, dengan distribusi, dan tiap kali Mbak nolak, saya makin paham yang Mbak punya itu memang nggak dijual." Ia mengetuk amplop tipis di meja. "Jadi saya berhenti nyoba beli. Saya datang buat nawarin jadi pintu. Karena cuma itu yang masih bisa saya tawarkan tanpa ngerusak yang saya akhirnya ngerti nilainya."
Sekar memandang amplop itu. Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Bagas, ia tidak merasakan firasat dingin yang biasa naik dari perutnya. Tapi ia juga sudah belajar—dengan harga tiga malam membaca kontrak di bawah lampu neon—bahwa kepercayaan bukan pengganti pembacaan. "Saya akan baca," katanya. "Lengkap. Tiap baris. Seperti dulu."
"Saya harap begitu," kata Bagas, dan kali ini ia tidak menyodorkan amplop terlalu cepat. Ia membiarkannya di meja, di tengah, dan tangannya tidak menyentuhnya. "Mbak baca sampai puas. Kalau ada yang nggak Mbak suka, kita ubah. Bukan saya yang ngatur kali ini, Mbak. Mbak yang ngatur." Ia berdiri, meninggalkan tehnya separuh. "Saya nggak buru-buru. Tapi bukan karena saya nungguin Mbak lelah seperti dulu. Saya nungguin Mbak yakin. Beda."
Ia berjalan ke mobilnya, dan sebelum masuk, ia berhenti dan menoleh ke kolong rumah sebelah tempat derit ATBM Bu Lastri masih bernyanyi. Sekar melihat ia mendengarkan—benar-benar mendengarkan—suara yang dulu mungkin baginya hanya derit kayu tua. Lalu ia masuk ke mobil dan pergi, dan kali ini ia tidak meninggalkan firasat di belakangnya, hanya sebuah amplop tipis di atas meja dan teh yang mendingin separuh.