Kampung pertama yang Sekar datangi bukan kampung kakek Bagas. Itu kemudian, lewat jalur Rasaraya. Kampung pertama yang ia datangi adalah satu yang ia simpan di kepalanya sejak setahun lalu, sejak perjalanan mencari saksi untuk hak komunal—sebuah dusun bernama Ngrancah di balik dua bukit, tempat ia pernah duduk semalam mendengar seorang nenek bernama Mbah Painem menangis karena alat tenunnya akan dijual jadi kayu bakar.
Ia membawa Warni dan Bujang. Mereka naik motor menyusuri jalan tanah yang berbatu, melewati ladang jagung dan hutan jati muda, dan ketika mereka sampai di Ngrancah, Sekar merasakan sesuatu yang menyesakkan: kampung itu seperti cermin Watu Lawang setahun yang lalu. Rumah-rumah panggung yang kolongnya kosong. ATBM yang berdebu, beberapa sudah dilepas papan-papannya. Sepi yang sama—sepi sebuah tempat yang sedang sekarat tanpa tahu cara berhenti mati.
Mbah Painem masih hidup, lebih tua, lebih bungkuk. Ia mengenali Sekar dan menangis lagi, tapi kali ini Sekar datang bukan untuk meminta kesaksian. Ia datang dengan sesuatu di tas: sehelai kain tujuh gunung, sertifikat bernomor dengan nama penenun, label yang bercerita, dan foto-foto peragaan ibu kota di telepon genggam Bujang.
"Mbah," kata Sekar, duduk di amben yang reyot itu, "motif Ngrancah apa namanya?"
Mbah Painem terdiam, seolah tak ada yang menanyakan itu sejak puluhan tahun. "Galar banyu," katanya akhirnya, lirih. "Aliran air. Motif kami galar banyu. Nenek moyang kami nenun air turun dari gunung, masuk ke sawah, ke sungai, ke laut. Sekarang yang inget cuma aku sama dua orang. Kalau aku mati, galar banyu ikut mati."
Sekar membuka teleponnya, menunjukkan foto kain tujuh gunung berjalan di bawah lampu panggung ibu kota, dipotret, dikagumi. "Mbah," katanya, "setahun lalu kampung kami sama seperti Ngrancah. Lebih parah. Kami terlilit utang, penenun kami tinggal tiga, anak muda kami semua di pabrik. Kami hampir jual motif kami ke pabrik biar bisa bayar utang." Ia menggeser foto-foto itu. "Sekarang kain kami naik panggung di Jakarta. Bukan karena kami ubah motifnya. Justru karena kami nggak ubah. Galar banyu bisa juga, Mbah. Bukan harus jadi tujuh gunung. Tetap galar banyu. Tapi dijual dengan cara yang bikin orang mau bayar mahal buat air yang ditenun tangan."
Maka di amben reyot itu, dengan dua bukit di belakangnya dan kampungnya sendiri yang masih perlu diurus di depannya, Sekar mulai mengajarkan apa yang ia pelajari dengan harga begitu mahal. Ia tidak datang sebagai guru yang menggurui. Ia datang sebagai orang yang baru saja keluar dari lubang yang sama, dengan peta lubang itu masih basah di tangannya.
Ia mengajarkan empat hal, dan ia menyebutnya seperti menyebut empat tiang. Yang pertama: jangan jual kain, jual karya bernama. Tiap helai harus punya nama penenunnya, nomor edisinya, cerita motifnya. "Yang dijual bukan meter kain, Mbah. Yang dijual tangan dan waktu dan cerita. Orang kota capek beli barang yang nggak ada asalnya. Mereka rela bayar mahal buat sesuatu yang punya nama." Yang kedua: lindungi motif secara hukum, lewat indikasi geografis dan hak komunal, supaya tak ada pabrik yang bisa mengklaim galar banyu lebih dulu lewat kertas. "Yang dulu sengaja nggak ditulis, sekarang harus ditulis—bukan buka pagar, tapi bikin pagar baru yang nggak bisa diterobos mesin." Yang ketiga: bentuk koperasi, supaya tak ada satu orang pun yang memikul semua risiko sendirian, supaya kepemilikan dan untung dibagi, supaya kampung tak runtuh kalau satu orang pergi. Dan yang keempat, yang Sekar tekankan paling keras: jangan tumbuh lebih cepat dari tempo tenun. "Jangan kekenyangan, Mbah. Kami hampir mati dua kali. Sekali karena lapar. Sekali, hampir, karena ada yang nawarin kami kekenyangan. Tumbuh pelan. Jaga ambangnya."
Warni, yang ikut duduk di amben itu, melakukan sesuatu yang membuat Sekar terharu tanpa ia duga. Ia mengeluarkan benang dan jarum dari tasnya, mendekati salah satu ATBM berdebu di kolong, dan mulai memperbaikinya—mengencangkan ikatan yang kendor, mengganti tali pakan yang putus, mengembalikan bidangan yang melenceng. Warni, yang dulu pulang ke Watu Lawang karena terpaksa, yang dulu pergi ke kota untuk hilang, kini duduk di kolong kampung lain memperbaiki alat tenun orang asing dengan tangan yang sudah kembali kepada akarnya. "Mbah," kata Warni pada cucu Mbah Painem yang berdiri menonton, gadis belasan tahun bermata ingin tahu, "sini. Tak ajari benerin tegangan lungsin. Ini yang bikin kain rata."
Mereka tinggal di Ngrancah dua hari. Sebelum pulang, Bujang—yang datang dengan skeptis, yang sepanjang jalan menggerutu bahwa mereka membantu pesaing—menarik Sekar ke samping. "Aku salah," katanya pelan, menatap Mbah Painem yang kini duduk tegak untuk pertama kalinya, bercerita tentang galar banyu pada cucunya yang mendengarkan. "Tadi aku kira kita ngasih ilmu ke saingan. Tapi ini bukan saingan. Ini... ini kayak waktu kamu pulang ke Watu Lawang. Cuma sekarang kita yang jadi kamu, dan mereka yang jadi kita yang dulu." Ia menggaruk kepalanya. "Kalau dulu nggak ada yang nolongin kita, kita udah mati, Sekar. Nggak ada yang nolongin kita pun. Kita nolong diri sendiri. Mereka belum bisa nolong diri sendiri. Belum ada Sekar-nya."
"Sekarang ada," kata Sekar, menatap cucu Mbah Painem yang tangannya mulai belajar tegangan lungsin di bawah bimbingan Warni. "Galar banyu punya penerusnya sekarang."
Di perjalanan pulang, menyusuri jalan tanah berbatu yang sama, Sekar memikirkan kata Bu Ngatiyem di rapat: jadi jalan, bukan keajaiban. Ia memahami sekarang apa artinya. Selama ini ia mengira perjuangannya adalah menyelamatkan satu kampung, satu motif, satu warisan neneknya. Tapi yang ia bawa pulang dari Ngrancah lebih besar dari itu. Ia membawa pulang pengertian bahwa tujuh gunung tak akan benar-benar aman selama ia berdiri sendirian sebagai satu-satunya kampung yang berhasil. Keajaiban tunggal mudah dimatikan, mudah dilupakan, mudah dianggap kebetulan. Tapi jalan yang ditapaki banyak kaki—galar banyu, tujuh gunung, dan motif-motif lain yang masih ia belum tahu namanya di lereng-lereng yang belum ia datangi—jalan itu jauh lebih sulit dipadamkan.
Ketika ia sampai di Watu Lawang senja itu, ia mendengar derit ATBM dari kolong-kolong rumah, ramai, banyak, hidup. Dan untuk pertama kalinya ia tidak hanya mendengar derit kampungnya sendiri. Di kepalanya, ia juga mendengar derit yang baru saja ia hidupkan kembali di balik dua bukit, lemah dan tunggal sekarang, tapi mulai. Galar banyu mulai mengalir lagi. Dan Sekar tahu, jika ia melakukan ini cukup banyak kali, di cukup banyak lereng, suatu hari derit itu akan terdengar dari banyak tempat sekaligus, dan tak ada pabrik, tak ada printing, tak ada kekenyangan, yang bisa membungkamnya semua.