Mereka mendirikannya di balai kampung yang dulu nyaris roboh. Bukan sekolah dengan papan nama mengilap dan seragam—Sekar menolak gagasan itu mentah-mentah ketika seorang pejabat dinas yang datang berkunjung menyarankannya. "Kalau kami bikin seragam, kami jadi kantoran," katanya. "Kalau jadi kantoran, mati ruhnya." Yang mereka dirikan adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih sulit: tempat anak muda dari Watu Lawang dan kampung-kampung sekitar bisa datang, duduk di kolong, dan belajar menenun dari tangan yang masih ingat.
Pendapatan dari kemitraan dengan Rasaraya, dari edisi terbatas, dari pesanan terpilih yang mereka kerjakan dengan benar, akhirnya cukup untuk membayar Bu Ngatiyem dan Bu Lastri menjadi guru—bukan upah besar, tapi upah yang pantas untuk pengetahuan yang nyaris mati bersama mereka. Dan inilah yang membuat Sekar paling terharu: melihat dua perempuan tua yang seumur hidup dianggap kuno, yang seumur hidup duduk di kolong tanpa ada yang menanyakan nama mereka, kini berdiri di depan belasan anak muda yang memanggil mereka Bu Guru dan menunggu tiap kata mereka seperti menunggu hujan.
Bu Ngatiyem ternyata guru yang keras. Hari pertama, ia membongkar tenunan seorang murid yang sudah dikerjakan setengah hari hanya karena tegangan lungsinnya kendor di satu sisi. "Bongkar," katanya, tanpa ampun. "Kain yang lahir dari lungsin yang malas, jadi kain yang malas. Tujuh gunung nggak boleh malas." Anak itu hampir menangis, tapi keesokan harinya tegangan lungsinnya rapat dan rata, dan Bu Ngatiyem—tanpa memujinya dengan kata-kata, karena ia tak pernah memuji dengan kata-kata—mengangguk sekali, dan anak itu tersenyum seperti diberi seluruh dunia.
Bu Lastri mengajar dengan cara yang berbeda. Ia mengajar celup, dan tangannya yang membiru oleh tarum bercerita sambil bekerja. Ia mengajarkan kesabaran tujuh celup bukan dengan menyuruh, melainkan dengan menunjukkan apa yang terjadi pada warna yang dicelup hanya lima kali: cantik di hari pertama, pudar di bulan ketiga. "Warna yang buru-buru," katanya pada para murid yang menonton kain percobaan memucat di jemuran, "ninggalin kamu di tengah jalan. Warna yang sabar, nemenin kamu sampai tua." Dan Sekar, yang dulu pernah memangkas celup demi tenggat dan membayarnya dengan kegagalan paling memalukan dalam hidupnya, mendengarkan dari pinggir dan merasa pelajaran itu ditujukan kepadanya juga, bertahun terlambat tapi tetap benar.
Sekar mengajar bagian yang tak bisa diajarkan dua perempuan tua itu: membaca selera, menghitung harga, memahami pasar yang dulu menolak mereka. Ia mengajar anak-anak muda bahwa keaslian saja tak cukup—kampung di Ngrancah pernah punya keaslian dan tetap sekarat—dan bahwa mereka harus belajar bahasa kota tanpa kehilangan bahasa lereng. Dwibahasa, seperti dirinya. "Kalian harus ngerti dua hal," katanya. "Tangan kalian harus tahu cara ngikat tujuh gunung. Kepala kalian harus tahu kenapa orang kota rela bayar mahal buat itu. Yang cuma bisa nenun, kelaparan. Yang cuma bisa dagang, jual jiwa. Kalian harus bisa dua-duanya."
Gabungan ketiga guru itu—keras, sabar, dan tajam—perlahan membentuk sesuatu yang belum pernah ada di Watu Lawang: generasi penenun yang lahir bukan dari keterpaksaan ekonomi, melainkan dari pilihan. Anak-anak yang dulu pasti akan kabur ke pabrik kini datang ke kolong dengan mata berbinar, karena kini menenun bukan lagi pekerjaan miskin yang ditinggalkan, melainkan keterampilan yang dihormati, yang dibayar layak, yang namanya tercetak di kain yang dijual di toko kota.
Tapi tidak semua mulus. Ketegangan lama muncul dalam bentuk baru. Cara Bu Ngatiyem menuntut bertahun-tahun kesempurnaan bertabrakan dengan kebutuhan menghasilkan penenun yang cukup mahir dalam hitungan bulan. "Jaman aku," kata Bu Ngatiyem suatu sore, kesal, "orang belajar nenun lima tahun sebelum boleh pegang motif. Anak-anak ini baru tiga bulan udah mau bikin tujuh gunung."
"Kalau kita nunggu lima tahun, Bu," jawab Sekar lembut, "Ibu sama Bu Lastri keburu... " ia tak menyelesaikan kalimatnya, tapi keduanya paham. Mereka tak muda lagi. Pengetahuan tujuh gunung tak bisa menunggu kesempurnaan lima tahun jika para pemegangnya bisa pergi kapan saja, seperti Mbah Sumirah pergi.
Mereka berkompromi pada cara yang sama seperti dulu: motif sederhana untuk tangan muda, tujuh gunung disimpan untuk tangan yang sudah matang. Para pemula belajar di motif kecil—garis tunggal, pola dasar, ikat sederhana—sampai tangan mereka cukup setia untuk dipercaya pada tujuh garis tujuh gunung. Bukan karena tujuh gunung lebih rumit secara teknis, melainkan karena, seperti kata Bu Ngatiyem, "Motif sakral nggak boleh dipegang tangan yang belum ngerti kenapa dia sakral. Tangan dulu, baru hati, baru tujuh gunung."
Suatu siang, Sekar berdiri di pintu balai dan memandang ke dalam. Ia melihat belasan kepala tertunduk di atas bidangan, tangan-tangan muda yang belajar setia, Bu Ngatiyem berjalan di antara mereka mengoreksi tanpa ampun, Bu Lastri di sudut menunjukkan biru tarum yang dalam. Ia teringat hari pertamanya pulang ke Watu Lawang, kolong yang sepi, tiga penenun tua yang tersisa, derit yang hampir senyap. Pengetahuan tujuh gunung waktu itu seluruhnya tersimpan di kepala tiga perempuan tua—satu helai ingatan yang bisa putus kapan saja, dan nyaris putus ketika Mbah Sumirah wafat.
Kini pengetahuan itu tumbuh di banyak tangan. Bukan lagi satu helai yang rapuh, melainkan jalinan—lungsin dan pakan, banyak benang yang saling menahan, yang tak akan runtuh hanya karena satu putus. Mbah Sumirah pernah mewariskan tujuh gunung pada Sekar tanpa kertas, dari mulut ke kepala, dari tangan ke tangan, takut seumur hidup bahwa motif itu akan mati dianggap kuno. Sekar berdiri di pintu balai itu dan berbisik tanpa suara pada nama yang tak ada di ruangan tapi ada di tiap kain yang lahir dari sini: Nggak akan mati, Mbah. Lihat. Bukan tiga tangan lagi yang megang. Belasan. Dan tahun depan lebih banyak lagi. Tujuh gunung nggak akan pernah lagi muat di satu kepala yang bisa pergi diam-diam di subuh yang dingin.