Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh Robert Erditama
Di sebuah rumah sederhana di sudut kota Bandung, tinggallah keluarga Arsyad: Faris, seorang perwira tentara yang setia pada tugas dan keluarganya; Clara, seorang pengacara yang berjuang menegakkan keadilan sekaligus menjaga kehangatan rumah; serta dua putra-putri mereka, Rafi dan Bianca. Mereka adalah keluarga yang utuh, penuh kasih, namun membawa perbedaan mendasar yang menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka: Faris beriman kepada satu jalan keyakinan, sementara Clara menapaki jalan iman yang berbeda.Sejak kecil, Rafi dan Bianca tidak pernah dilarang mengenang Tuhan lewat cara mana pun. Secara administrasi sekolah, mereka dicantumkan mengikuti jalur masing-masing orang tua demi memenuhi aturan yang berlaku. Namun di dalam rumah, mereka bebas mendengarkan doa Ayah, ikut ibadah Bunda, belajar menghargai perayaan hari besar keduanya, dan memahami bahwa kasih sayang tidak mengenal batasan perbedaan. Orang tua mereka sepakat: label di atas kertas bukanlah kebenaran mutlak. Hak menentukan jalan hati sesungguhnya akan diserahkan sepenuhnya kepada anak-anak saat mereka tumbuh dewasa dan matang.Namun perjalanan itu tak mudah. Bisik-bisik lingkungan, tuntutan kerabat, pertanyaan teman sekolah, hingga tekanan sistem administrasi menjadi ujian yang harus mereka hadapi bersama. Belum lagi tugas negara yang kerap memisahkan Faris dari rumah, serta bahaya yang mengancam nyawa Clara saat menangani kasus-kasus berat. Di tengah badai yang datang silih berganti, rumah mereka menjadi benteng: tempat di mana perbedaan tak pernah menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan jembatan untuk saling mengerti lebih dalam.Tahun-tahun berganti. Rafi dan Bianca tumbuh menjadi pribadi yang bijak, kuat, dan penuh kasih. Hingga akhirnya tiba saat yang telah lama ditunggu: saat mereka berani menyampaikan keputusan hati mereka sendiri. Rafi menetap di jalan yang diajarkan Ayahnya, Bianca memilih melangkah seturut ajaran Bundanya—bukan karena dipaksa, melainkan karena panggilan hati yang telah mereka temukan sendiri. Dan jawaban yang mereka terima bukanlah syarat atau tuntutan, melainkan pelukan tanpa syarat: “Apa pun jalan yang kau pilih, kau tetaplah darah daging kami, dan kasih kami tak akan pernah terbagi.”Ini adalah kisah tentang rumah yang tak dibangun di atas kesamaan, melainkan di atas rasa hormat dan pengertian. Tentang bagaimana dua jalan doa yang berbeda justru menyatu menjadi satu kekuatan doa yang sama: agar mereka selalu saling menjaga, saling mendoakan, dan selalu memiliki alasan untuk pulang. Bahwa meski kita berdiri di seberang cara berdoa yang berbeda, hati kita tetap berada di bawah langit yang sama—dan kasih tak pernah mengenal jarak.ic_default
Karena kamu suka Sekolah, mungkin kamu suka ini juga: