Kota besar itu tampak megah, ramai, dan berkilauan, namun bagi Rania yang baru pertama kali merantau meninggalkan desanya, kota ini terasa dingin, asing, dan sangat menyesakkan. Gedung-gedung tinggi menjulang menutupi langit, suara kendaraan tak pernah berhenti, dan keramaian orang yang berlalu-lalang seolah tak punya waktu untuk berhenti sejenak. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, hati Rania penuh semangat dan harapan. Ia ada di sini. Di tempat di mana Dirga berada. Di tempat di mana ia berharap bisa menemukan kembali separuh jiwanya yang hilang lima tahun lalu.
Berbekal alamat perusahaan yang ia dapatkan dari kabar-kabar yang ia dengar, Rania berjalan dengan langkah tegap menuju gedung perkantoran yang sangat megah dan modern. Ia diterima bekerja di sana sebagai staf administrasi, posisi yang cukup bagus untuk ukuran lulusan desa, dan yang paling penting: ini adalah tempat kerja Dirga.
Hari-hari Rania dihabiskan dengan bekerja keras, beradaptasi, dan diam-diam mencari tahu sosok yang menjadi tujuannya datang ke sini. Ia sering bertanya-tanya, di mana letak ruangan Dirga, bagaimana kabarnya, apakah ia masih sama, atau sudah berubah? Jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali ada sosok pria lewat, berharap itu adalah orang yang dicarinya.
Dan akhirnya, hari itu pun tiba. Hari di mana mimpi terbesarnya sekaligus ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan.
Pagi itu, seluruh staf dikumpulkan di lobi utama gedung untuk menyambut direktur utama yang baru saja kembali dari perjalanan dinas luar negeri. Suasana sangat ramai, penuh antusiasme, dan penuh bisik-bisik kekaguman. Rania berdiri di barisan belakang, jantungnya berpacu kencang tak beraturan, tangannya dingin dan berkeringat dingin. Ada firasat kuat yang menyelimuti hatinya, firasat bahwa sosok yang akan datang itu adalah sosok yang ia cari.
Suara riuh rendah terdengar, diikuti langkah kaki tegas yang mendekat. Pintu terbuka lebar, dan munculah dua sosok yang berjalan berdampingan di depan.
Di sebelah kiri, seorang wanita cantik, anggun, berpenampilan sangat rapi dan berwibawa, senyumnya manis namun tajam, berjalan sambil tersenyum menyapa semua orang. Itu Laras, sekretaris sekaligus tangan kanan terpercaya direktur utama.
Dan di sebelah kanannya... sosok pria jangkung, tampan luar biasa, berpenampilan sangat rapi dan mahal, wajahnya tegas, dingin, dan penuh wibawa. Ia berjalan tegak, pandangannya lurus ke depan, tak sedikit pun melirik ke kiri atau ke kanan.
Itu Dirga.
Rania terpaku diam di tempatnya. Napasnya tertahan, kakinya lemas seolah tak bertulang, dan dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Itu Dirga. Wajah itu, rahang itu, bentuk tubuh itu... semuanya sama persis seperti dalam ingatannya, sama persis seperti di foto yang ia pandang setiap hari. Namun ada yang sangat berbeda. Dirga yang dulu ia kenal adalah sosok yang hangat, lembut, matanya penuh cinta dan senyum yang selalu merekah. Tapi Dirga yang ada di depannya ini... dingin, kaku, matanya tajam dan kosong, tak ada sedikit pun kehangatan yang dulu ia hafal di luar kepala.
"Selamat pagi semuanya. Terima kasih atas sambutannya," ucap Dirga, suaranya berat, dalam, dan sangat berwibawa, suara yang masih sama persis, namun nada bicaranya begitu asing. "Saya harap kinerja kita tetap maksimal dan semakin maju. Terima kasih."
Dirga berjalan lewat tepat di depan tempat Rania berdiri. Jarak mereka hanya beberapa langkah saja. Rania ingin sekali berteriak, ingin sekali memanggil namanya, ingin sekali berlari dan memeluknya. Ia ingin bertanya: "Mas, kamu ingat aku nggak? Aku Rania. Aku yang nunggu kamu di bukit senja itu setiap hari. Aku yang jagain janji kamu."
Namun saat Dirga lewat, matanya sempat menoleh sekilas ke arah Rania. Tatapan itu menempel tepat di wajah Rania selama sedetik penuh. Di detik itu, harapan Rania melambung tinggi. Ia pikir Dirga akan terkejut, ia pikir Dirga akan berhenti, ia pikir Dirga akan memanggil namanya.
Tapi tidak.
Dirga hanya menatapnya sekilas dengan wajah datar, dingin, dan sama sekali tak mengenali. Tak ada keterkejutan, tak ada kilatan ingatan, tak ada rasa kangen. Setelah itu, Dirga mengalihkan pandangannya kembali ke depan, lalu berjalan terus menghilang di balik pintu lift, seolah-olah Rania hanyalah sosok asing yang tak ada artinya sama sekali.
Rania berdiri diam terpaku, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Hatinya terasa ditusuk ribuan jarum tajam sekaligus. Dia nggak kenal aku? Dia beneran nggak ingat aku? Lima tahun aku nunggu, lima tahun aku jagain janji, lima tahun aku rindu mati-matian... dan dia lihat aku kayak orang asing aja?
Siang harinya, Rania memberanikan diri mencari informasi lebih lanjut ke rekan kerjanya yang sudah lama bekerja di sana. Dengan berat hati dan suara yang bergetar, ia bertanya.
"Maaf, Kak... itu Pak Dirga, Direktur Utama kita... dia udah lama kerja di sini ya? Dia orang asli sini apa dari luar?"
Rekan kerjanya itu tersenyum santai, lalu menjawab dengan nada kagum. "Wah, Pak Dirga itu udah lima tahunan di sini lho. Dia dateng ke sini pas masih sakit-sakitan gitu katanya, tapi berkat bantuan keluarga besarnya dan kerja kerasnya, dia sembuh, terus makin sukses, makin kaya, makin berkuasa. Dia jenius banget lho. Dan tau nggak? Katanya dia sama Mbak Laras itu udah deket banget dari dulu. Kayaknya bakal nikah deh sebentar lagi. Serasi banget kan? Sama-sama pintar, sama-sama kaya, sama-sama berkelas."
Kalimat-kalimat itu menghantam d**a Rania berkali-kali. Lima tahun di sini... berarti tepat sejak hari ia berangkat dari desa. Udah deket banget sama Laras... bakal nikah...
Rania berjalan gontai meninggalkan rekan kerjanya itu. Rasanya dunianya runtuh berantakan. Kenyataan yang ia takutkan ternyata benar-benar terjadi. Dirga ada di sini, hidup, sehat, sukses, bahagia... dan sama sekali tak mengingat masa lalu, tak mengingat janji, dan tak mengingat Rania.
Tapi... ada sesuatu yang mengganjal di hati Rania. Meski Dirga terlihat sangat dingin dan asing, Rania merasa ada yang janggal. Ada kilatan rasa sakit yang samar yang sempat ia lihat di mata Dirga saat mereka berpapasan tadi. Ada keraguan, ada ketidaktenangan. Dan ingatan Rania tentang penyakit Dirga dulu kembali muncul. Penyakit yang berat, penyakit yang menyerang kepala... apakah ada hubungannya?
Sore itu, saat jam kerja selesai, Rania sengaja menunggu di dekat parkiran mobil. Ia ingin melihat Dirga lagi, ingin mencari tanda-tanda, ingin meyakinkan dirinya sendiri. Tak lama kemudian, Dirga dan Laras keluar berjalan berdampingan. Mereka tertawa, berbicara akrab, Laras menggandeng lengan Dirga dengan mesra, dan Dirga membiarkannya, bahkan tersenyum hangat pada wanita itu. Senyum yang dulu hanya diperuntukkan bagi Rania.
Rania memberanikan diri melangkah maju, berdiri tepat di hadapan mereka berdua. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tertahan, matanya menatap lekat-lekat wajah pria yang menjadi seluruh hidupnya itu.
"Permisi, Pak Dirga..." panggil Rania pelan, suaranya bergetar namun berusaha tegas.
Dirga berhenti melangkah, menatap Rania dengan dahi berkerut bingung, seolah berusaha mengingat siapa wanita di hadapannya ini. "Ya? Ada apa ya, Mbak? Kita kenal?"
Pertanyaan itu... pertanyaan sederhana namun sangat menyakitkan. "Kita kenal?"
Air mata Rania hampir jatuh, namun ia berusaha menahannya. Ia menatap dalam ke manik mata Dirga, berusaha mencari jejak ingatan itu.
"Mungkin Bapak lupa... atau mungkin Bapak emang nggak ingat lagi. Tapi saya tau Bapak. Saya tau segalanya tentang Bapak. Dulu, lima tahun yang lalu... di desa kaki gunung, di bukit tempat matahari terbenam... ada janji yang diucapkan Bapak di sana," ucap Rania pelan, berharap kata-kata itu akan memicu ingatan Dirga.
Wajah Dirga berubah seketika. Pucat, kaku, dan matanya membelalak tak percaya. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ada rasa sakit yang jelas terlihat melintas di wajahnya, namun sekejap mata hilang berganti menjadi kemarahan dan pertahanan diri.
"Mbak bicara apa sih? Saya nggak ngerti. Desa? Bukit? Janji? Saya nggak pernah ke tempat macam itu seumur hidup saya. Mbak salah orang mungkin," jawab Dirga tajam, dingin, dan kasar. Ia membuang muka, tak mau lagi menatap Rania. "Laras, ayo kita pergi."
Laras yang sejak tadi diam mengamati, kini melangkah maju menghadang Rania dengan wajah tegas dan sedikit marah.
"Maaf ya Mbak, Pak Dirga itu pas muda udah di kota ini, nggak pernah tinggal di desa. Mungkin Mbak salah ingat atau salah orang. Tolong jangan ganggu Pak Dirga lagi ya, dia itu punya riwayat penyakit kepala, stres dikit aja bisa kambuh bahaya. Jangan bikin dia kepikiran hal-hal aneh-aneh yang nggak pernah ada."
Laras menarik lengan Dirga pergi, masuk ke dalam mobil mewah itu dan melaju cepat meninggalkan Rania yang berdiri diam terpaku di tengah parkiran.
Dirga tadi... saat ia sebutkan bukit senja dan janji... reaksi Dirga bukan bingung biasa. Dia kaget. Dia sakit. Dia marah. Itu bukan reaksi orang yang benar-benar lupa atau tak tahu apa-apa. Itu reaksi orang yang sedang berusaha mati-matian menutupi sesuatu.
Rania menyeka air matanya kasar, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Dia bohong. Dia pasti ingat. Ada rahasia besar di sini. Ada sesuatu yang disembunyikan dia sama wanita itu.
Tekad Rania makin bulat. Ia takkan pergi. Ia takkan menyerah. Ia akan tetap di sini. Ia akan cari tahu kebenarannya. Apakah Dirga benar-benar lupa? Atau ada alasan mengerikan di balik sikap dinginnya, alasan yang berhubungan dengan penyakitnya, alasan yang membuat ia harus berpura-pura tak mengenali wanita yang paling dicintainya demi melindunginya?
Dan malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Rania teringat kata-kata Pak Harun dulu: "Kadang keadaan nggak sesuai sama apa yang kita rencanain. Kadang orang yang kita tunggu itu sebenernya udah nggak bisa balik..."
Rania yakin sekarang. Keadaanlah yang memisahkan mereka. Keadaanlah yang membuat Dirga berubah. Dan Rania akan membongkar semuanya, sampai ke akar-akarnya, meski harus berhadapan dengan risiko apa pun.