Lelaki itu sudah menunggu di pelataran Puskesmas ketika Rani turun dari motor dinas, pukul empat sore, dengan tas berisi catatan kunjungan yang belum sempat ia rapikan. Rani tidak langsung mengenalinya. Tubuhnya tegap, kemeja batik lusuh dimasukkan ke celana, dan ada rahang yang sama dengan Pak Kowi—garis keras yang sama yang ia lihat saat lelaki itu digiring petugas. Anak Pak Kowi. Sulungnya. Rani pernah mendengar namanya dari Bu Tarni: Heru, yang merantau ke kota dan pulang hanya saat Lebaran.
"Mbak yang ngerusak keluarga saya, ya," katanya. Bukan pertanyaan. Suaranya datar, dan justru karena datar, ada sesuatu yang membuat tengkuk Rani dingin.
Rani berdiri di tempatnya. Halaman Puskesmas masih ramai—dua ibu menunggu di kursi panjang, seorang bapak mendorong sepeda. Ia bersyukur untuk keramaian itu. "Saya Maharani, perawat keswa di sini. Bapak Heru, ya? Mari kita ngomong di dalam, lebih enak."
"Nggak usah." Heru melangkah maju satu langkah. Tidak menyentuh, tapi cukup dekat sampai Rani bisa mencium bau rokok di napasnya. "Bapak saya udah tua. Sakit-sakitan di tahanan. Gara-gara apa? Gara-gara Mbak ngorek-ngorek urusan rumah orang. Paman saya itu sakit dari muda. Kami yang ngurus puluhan tahun, kami yang ngasih makan. Mbak datang sebentar, foto-foto, bawa polisi, sekarang nama keluarga saya jadi bahan omongan satu kecamatan."
"Pak Darto dirantai sampai rantainya nyatu ke daging, Pak," kata Rani, menjaga suaranya tetap rendah, rata. "Itu bukan ngurus. Itu—"
"Itu urusan keluarga." Kata itu meledak keluar, dan dua ibu di kursi panjang menoleh. Heru menyadarinya, menarik napas, menurunkan suaranya kembali, dan justru bisikannya yang membuat Rani benar-benar takut. "Saya kasih tahu Mbak sekali aja. Mbak juga punya keluarga. Punya rumah. Saya tahu Mbak tinggal di Wuni Tengah, deket masjid. Mbak kerja malam-malam, pulang sendirian naik motor lewat jalan sawah. Hati-hati, Mbak. Jalan sawah itu gelap. Banyak yang celaka di situ."
Lalu ia pergi. Tidak menunggu jawaban. Naik ke motor bebek yang diparkir miring, dan menderum keluar pelataran, meninggalkan Rani berdiri dengan jantung yang berdebar tak karuan dan tangan yang—ia baru sadar—mencengkeram tali tasnya sampai buku-buku jarinya putih.
Yoga keluar dari pintu, membawa berkas, dan berhenti melihat wajah Rani. "Mbak? Kenapa? Pucet banget."
Rani menggeleng, mencoba tersenyum, dan gagal. "Nggak apa-apa. Cuma capek." Tapi suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.
Malam itu ia tidak pulang lewat jalan sawah. Ia memutar jauh lewat jalan besar, lampu-lampu warung, motor-motor lain, dan tetap saja tiap kali ada lampu sorot dari belakang, perutnya mengejang. Di rumah, ia mengunci pintu dua kali, sesuatu yang tak pernah ia lakukan, lalu duduk di tepi kasur lama tanpa menyalakan lampu kamar, memikirkan kalimat itu. Banyak yang celaka di situ.
Ia tidak tidur sampai lewat tengah malam.
Keesokan paginya, di ruang dr. Pram, ada percakapan yang berbeda menunggunya—dan untuk sesaat ia mengira ini akan jadi dukungan. Tapi yang ia dapat justru tekanan dari arah lain.
"Pak Hardi nelepon saya tadi malam," kata dr. Pram, melepas kacamatanya, memijit pangkal hidung. Wajahnya lelah. "Soal kasus Kowi. Dia... resah, Ran."
"Resah gimana?"
"Resah kalau ini jadi besar. Wartawan. Pejabat. Dana provinsi kita kan lagi proses verifikasi tahap dua. Dia takut nama Tanjung Wuni kebawa-bawa. 'Kampung yang ada kasus pasung empat puluh tahun'—dia bilang itu bisa bikin penilai mikir dua kali." dr. Pram memandang Rani lurus. "Dia minta tolong, katanya, biar kamu... jangan dibesar-besarkan. Darto udah di rumah sakit, udah aman. Hukum biar jalan pelan-pelan. Nggak usah kamu yang dorong-dorong terus."
Rani merasa sesuatu mengeras di dadanya. "Dok percaya itu?"
dr. Pram tidak menjawab langsung. Ia memandang ke luar jendela, ke pelataran tempat Heru berdiri kemarin sore, seakan tahu apa yang terjadi di sana. "Saya percaya Darto harus dirawat. Saya percaya kamu bener. Tapi saya juga—" ia berhenti. "Saya juga lihat kamu, Ran. Kamu baru aja pulih dari burnout. Sekarang kamu mau perang sama satu keluarga yang punya dendam, sama kepala dusun yang takut citranya rusak, sama sistem hukum yang lebih sering ngecewain korban daripada bantu. Saya cuma nggak mau kamu hancur buat ngebuktiin sesuatu yang udah selesai. Tubuh Darto udah lepas. Kenapa nggak berhenti di situ?"
Kenapa nggak berhenti di situ.
Kalimat itu menggantung di ruangan, masuk akal, lembut, ditawarkan oleh orang yang Rani tahu menyayanginya. Dan untuk satu detik panjang, Rani hampir mengangguk. Tubuhnya lelah. Ancaman Heru masih dingin di tengkuknya. Akan begitu mudah untuk membiarkan hukum berjalan sendiri, untuk tidak menjadi saksi yang vokal, untuk tidak mendorong dinas sosial mempercepat berkas perlindungan Darto. Akan begitu mudah untuk pulang tepat jam empat, tidur penuh, dan membiarkan rumah di ujung barat itu jadi cerita lama yang perlahan dilupakan kampung—seperti dulu, seperti yang selalu mereka lakukan.
Lalu ia teringat tubuh Darto di tandu. Rantai yang menyatu ke daging. Bekas ikat pinggang. Dan suara Bu Tarni: kami pura-pura nggak dengar, bertahun-tahun.
"Dok," kata Rani pelan, dan ia terkejut betapa stabil suaranya keluar. "Kalau saya berhenti sekarang—diam karena diancam, diam karena takut dana kepotong—maka semua yang saya kerjain setahun ini cuma soal kelihatan baik. Cuma soal peta yang warnanya biru di laporan. Bukan soal orangnya."
Ia berdiri. "Tubuh Darto memang udah lepas. Tapi orang yang nyakitin dia selama empat puluh tahun masih bisa nyalahin saya, dan kampung masih bisa milih lupa. Itu belum lepas, Dok. Itu belum lepas."
Di luar jendela, langit Tanjung Wuni mendung. Rani menutup pintu ruang dr. Pram pelan, dan untuk pertama kali sejak ia memilih pulang ke kecamatan ini, pekerjaannya terasa seperti sesuatu yang bisa merenggut lebih dari sekadar tenaganya.