Rani tahu Pak Hardi akan datang. Pertanyaannya hanya kapan, dan ternyata jawabannya adalah keesokan harinya, saat hujan baru reda dan jalan-jalan Tanjung Wuni masih becek.
Kepala dusun itu tidak datang ke Puskesmas. Ia mengundang Rani ke balai dusun, ke ruangan dengan foto presiden dan kalender bank yang sudah ketinggalan dua bulan, dan menyuguhkan teh manis panas seakan ini pertemuan ramah. Tapi Rani tahu tata letak kekuasaan saat ia melihatnya: Pak Hardi duduk di kursi besar, dan di sampingnya, Bu Retno dari Dinas, yang sengaja dipanggil—Rani bisa membaca itu dari raut Bu Retno yang tak nyaman, dari cara perempuan itu tak berani menatapnya lama.
"Mbak Rani," Pak Hardi memulai, suaranya berminyak seperti biasa. "Kita ini sama-sama mau yang terbaik buat kampung, kan. Saya bangga sama program Mbak. Bangga. Sampai pejabat kabupaten muji. Sampai provinsi mau ngucurin dana. Itu nama baik kita semua."
Rani menunggu.
"Nah, soal Pak Kowi ini." Pak Hardi menyeruput tehnya. "Saya nggak bilang Mbak salah. Pak Kowi memang keterlaluan, saya akui. Tapi sekarang dia udah ditahan, Darto udah dirawat. Selesai. Yang saya khawatirin, kalau Mbak terus jadi saksi yang vokal, terus dorong-dorong perkaranya, nanti yang keangkat bukan cuma Kowi. Yang keangkat: kampung yang ngebiarin orang dipasung empat puluh tahun. Mbak ngerti? Itu malu-maluin. Itu bisa bikin verifikasi dana batal."
Ia mencondongkan badan. "Bu Retno di sini saksinya. Beliau bilang penilai provinsi sensitif sama berita jelek. Iya kan, Bu?"
Bu Retno membuka mulut, ragu. "Memang... ada beberapa pejabat yang lebih suka program yang 'bersih', tanpa kontroversi. Tapi saya juga harus jujur, Pak, Mbak Rani—" ia berhenti, lalu memilih jalan tengah yang aman, "—keputusan ada di Mbak Rani sendiri."
Pak Hardi mengabaikan kalimat terakhir itu. "Intinya, Mbak. Biarin hukum jalan sendiri. Mbak fokus aja ke pasien yang lain. Sutejo, Wulan, anak-anak yang udah pulih. Itu kan prestasi Mbak. Kenapa harus dirusak gara-gara satu keluarga busuk yang udah selesai urusannya?"
Rani memandang teh di depannya yang sudah berhenti mengepul. Ia memikirkan Sutejo di bengkel, tangannya yang gemetar memegang kunci pas tapi ingat. Wulan menggendong bayinya. Topan dengan seragam sekolah. Mbah Ginem yang dirawat dengan martabat. Ratri yang mengiris bawang di Posyandu. Puluhan nyawa yang bergantung pada program ini, pada dana ini, pada nama baik yang Pak Hardi minta ia jaga. Itu bukan ancaman kosong. Itu nyata. Kalau dana batal, obat depot Sutejo bisa putus. Rujukan Wulan bisa hilang. Honor kader yang membuat Bu Inah dan yang lain bisa bertahan—lenyap. Ia tidak sedang memilih antara nuraninya dan kenyamanannya. Ia sedang memilih antara satu kebenaran dan puluhan nyawa.
Ia nyaris membenci Pak Hardi karena membuat pilihan ini terdengar masuk akal.
"Pak Hardi," Rani berkata akhirnya. "Boleh saya cerita sebentar?"
Pak Hardi mengangkat alis, tapi mengangguk.
"Saya punya kakak. Namanya Bagas." Rani belum pernah menceritakan ini di depan Pak Hardi, dan ia melihat sesuatu bergeser di wajah lelaki itu—mungkin ia sudah dengar gosipnya, mungkin baru sekarang. "Dia sakit jiwa waktu saya masih SMP. Orang tua saya—orang baik, Pak, beneran orang baik—nggak tahu harus gimana. Nggak ada Puskesmas yang datang. Nggak ada perawat keswa. Nggak ada program. Yang ada cuma malu, dan takut, dan tetangga yang ngomong. Jadi mereka masung dia. Di kamar belakang. Sama kayak Sutejo. Sama kayak Darto."
Suaranya tetap rata, tapi tangannya di pangkuan saling menggenggam. "Dan dia mati di situ, Pak. Pelan-pelan. Sambil semua orang di kampung tahu, dan diem, dan mikir itu bukan urusan mereka. Sama persis kayak Darto. Bedanya, Bagas nggak ada yang nyelametin."
Ruangan hening. Bahkan Pak Hardi tidak menyeruput tehnya.
"Saya pulang ke kecamatan ini bukan buat bikin peta jadi biru, Pak. Bukan buat dipuji pejabat. Saya pulang justru buat yang kayak Darto. Buat yang paling dalam disembunyiin, yang paling lama dilupain, yang semua orang—termasuk Bapak—pengen saya diemin demi nama baik." Ia menarik napas. "Kalau saya diem soal Darto demi jaga program, maka program ini nggak ada artinya. Karena program ini, intinya, ya soal nggak diem."
Pak Hardi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Saya akan jadi saksi," Rani melanjutkan, suaranya sekarang tenang seperti permukaan air yang dalam. "Saya akan dorong dinas sosial ngurus perlindungan Darto sampai tuntas. Dan kalau itu bikin dana terancam—" ia memandang Bu Retno, lalu kembali ke Pak Hardi, "—maka kita lawan ancaman itu dengan jujur, bukan dengan diem. Karena dana yang dijaga pakai kebohongan, cepat atau lambat, bakal runtuh juga. Dan saya nggak mau Sutejo, Wulan, semua orang itu, gantung nasibnya di sesuatu yang dibangun dari diem."
Ia berdiri, mengangguk sopan pada Bu Retno, lalu pada Pak Hardi. "Terima kasih tehnya, Pak."
Di luar balai dusun, hujan sudah benar-benar berhenti. Rani berdiri sejenak di teras, dan untuk pertama kali sejak Heru mengancamnya, ia tidak merasa takut. Ia merasa, anehnya, ringan—seperti ketika seseorang akhirnya meletakkan beban yang terlalu lama ia gendong dengan posisi salah. Ia teringat Bagas, dan untuk sekali ini, kenangan itu tidak menusuk. Ia berbisik, pelan, hanya untuk dirinya sendiri: "Aku pulang ke sini justru buat yang kayak ini." Lalu ia naik ke motornya dan berkendara pulang—lewat jalan besar, ya, ia belum sebodoh itu, tapi dengan punggung yang tegak.